headerversi2
Showing posts with label DANTE. Show all posts
Showing posts with label DANTE. Show all posts

Tuesday, July 10, 2007

Masa Kanak-kanak Kita Makin Panjang?

yang bikin kopi : OM DANTE


Musim liburan! Bulan2 tengah tahun, Juni-Juli ini semua yang ngaku masih sekolah pasti dapet jatah libur. Ada kabar menarik seputar liburan ini, setelah kemaren saya nulis tentang bisnis tersier yang merosot, ternyata memang tetep ada bisnis yang panen. Dan bisnis itu bernama bisnis hiburan!...berwisata, panggung pertunjukan, maupun hiburan dalam bentuk individual game(sports, game console-Playstation,Xbox,SEGA-, internet dll)...Betapa prinsip dunia yang berpasang2an emang ga pernah dilanggar:kalo ada yg lagi sepi, berarti sedang ada yg rame...kalo ada yang lagi untung berarti ada yang lagi rugi…betapa semuanya sebenernya adalah tunggal dan tetap.

Ada satu hal yang pengen saya garis bawahi di sini, bisa dikatakan melanda seluruh dunia-alias jadi trend global- yaitu kecenderungan masyarakat dari berbagai umur berlomba2 menuju tempat2 hiburan. Ga ada lagi mainan anak2 atawa mainan orangtua, tapi siapa aja asal suka, kuat bayarnya langsung aja gabung. Di sisi yang lain, para pemasar bisnis hiburan saat inipun sangat paham untuk tidak melakukan segmentasi berdasar usia tapi segmentasi berdasar ketebalan kantong. Udah mahfum.

Khusus masalah eksploitasi ekonomi seperti ini sebenarnya berakar dari sisi diri kita -manusia- sendiri. Dunia psikologi pernah meneliti adanya sisi manusia sebagai hewan yang bermain(tuh disebut hewan(!) ) alias Homo Ludens. Dan bahkan di negeri Belanda tahun 70’an kalo ga salah sempet ada gerakan demonstrasi bertajuk Revolusi Bermain- yang memprotes para penguasa untuk memberikan upah dan waktu kerja yang memungkinkan masyarakatnya bisa melakukan apa yg mereka senangi, sekaligus menyuarakan kepada masyarakat untuk ga sekedar terlibat pada proses produksi alias kegiatan ekonomi saja. Hal ini bisa jadi menjelaskan kenapa bule banyak banget yg piknik di negara kita...karena para bule itu didukung komitmen negara mereka untuk meng-encourage hal-hal tersebut (la penguasa kita boro-boro mikirin warganya yak?)hehehehe....
Setelah revolusi di Belanda itulah kemudian bisnis mainan mendapat momentum, bahkan industri macam Disneyland merebak di seluruh penjuru dunia...yang kalo di Indonesia ya kayak di Dufan sono noh ....

Tentu saja setiap proses selalu ada residu (istilah saya) yang mengganggu. Jujur aja, sekarang ini, kita langsung jadi panik kalo disebut mature, dewasa, apalagi tua(!). Bener ga? Kita berlomba-lomba untuk selalu dianggap muda, dianggap masih segeeerrr, masih kenceng, masih awet. Ini bahkan bisa kita tandai dari perkembangan industri mode dan kecantikan=produk body-treatment yang menjanjikan awet muda, mempertahankan kulit jadi selalu seperti kulit bayi. Yang laki pun punya genre baru=metroseksual. Walah, mahluk macem mana lagi ini? Hal yang kemudian dampak jangka panjangnya belum tentu kita sadar...tapi fakta2 udah mulai muncul....

Ternyata tak hanya fisik ingin menyerupai bayi, seringkali tanpa sadar perilaku kita juga seperti anak-anak untuk menjauhi fungsi-fungsi yang bentuknya bertanggungjawab pada kepentingan orang banyak. Kita jadi egois? Sadar ga bahwa generasi mbah2 kita, yang kita sebut sebagai angkatan ‘45 yang lulusan SD pun bisa jadi presiden?pemimpin-pemimpin revolusi? Sadar ga kita bahwa para beliau yang sekarang udah mulai pensiun, mereka lulusan SMA dan bisa jadi kepala kantor? Sadar ga kita kalo yang sekarang umuran 30 ke atas, S1 dah dapet jatah kerja macem2? Trus, sekarang kita kudu sekolah S2 dulu baru berani nyari kerja?(sampai-sampai ada buku yang sangat provokatif ngasih judul “if you wanna be rich,don’t go to school!”, yang terinspirasi ucapan michael dell yang “menyerang” para lulusan harvard pada saat dirinya disuruh pidato di acara wisudaan di sana...)

Dari segi umur nikah pun menunjukkan kecenderungan yang mirip. Dulu, umur 12 taun dah punya anak sehingga muncul aturan pemilu 18+ atawa yang udah nikah...sekarang? dijawab ndiri ajah...soalnya gw jg blom kunjung laku, hahahahaha...
Trus naik ke parameter berikutnya...dulu 18 taun dah brani jadi pak RT, sekarang, hehehehe umur 30 taun aja blom tau tetangga2 kita itu butuhnya apa aja, karena asik teralienasi di kamar kost2an bareng urusan sendiri, PS3 ato TiVi ...

Apakah kita semakin mundur dalam “menjadi bijaksana”, ketika lingkungan kita semakin ribut, over-informed society? Semua informasi bejibun kita telen mentah mentah, sehingga tidak punya waktu untuk “mengendapkan” semua informasi itu menjadi keunggulan komparatif yang tetep berpegang pada value tertentu?...atau apakah ini salah orang tua saat ini yang punya kecenderungan tidak berani untuk menjadi tua? Sehingga anaknya ga boleh jadi dewasa? Atau sekedar karena keinginan memanjakan dengan memilihkan “jalan tanpa lubang” buat anak2nya?
Pertanyaan berikutnya, benarkah ini bukti kemajuan masyarakat? Apakah “kemajuan” ekonomi harus kita sanjung2 dengan segala tipu muslihatnya?
Ato justru kondisi ini menunjukkan gejala degeneratif? Huuu cepek deh…

Saya akan selalu mengucap terimakasih atas waktu temen2 untuk membaca coret2an ini, yang saya lakukan sambil ngebuka nutup window karena keponakan saya yg umur 2 taun keluar masuk kamar saya sambil memaksa saya ngegame feeding frenzy-nya Game House di laptop saya,

Lihat Paus Oom,”..emang game bisa membius segala umur! :)
Tapi, most of all, happy reading!

Friday, June 22, 2007

Entrepreneurship

(trend, pilihan hidup, takdir atau epos?)

yang bikin kopi : DANTE
mas dante kayanya pengin mbagi pengalaman hidupnya nih..:D

Bosen dengan urusan kerjaan, saya baru saja jalan2 ke Gramedia, lumayan, menurunkan tekanan darah, mengurangi kram otak, dan eitsss...tiba-tiba cewe2 manis dengan celana harajuku melintas dan sungguh mereka emang provokatif...(hmmm…wanita)...
trus saya melirik-lirik barang2 yang didisplay..ufh, barang lama cuman teknik majangnya aja yang digeser-geser, ya udah, mending naik ke lantai 3 buat liat-liat buku baru...

Nyampe di lantai 3, ufh, the harajukus udah nangkring di bagian komik...tapi saya tidak tertarik untuk melakukan aksi flirting, saya muterin daerah buku2 best seller, hmm, agak tersentil ama maraknya buku yang bertema encouraging oneself untuk menjadi mandiri....saya emang ga melakukan survei kuantitatif, tapi berdasar feeling aja, kalo ga salah dalam 3 taun terakhir trend buku mulai mengarah pada pembentukan pribadi2 mandiri, yang dibahas mulai dari sisi psikologisnya, seperti serial chicken soup, ampe bagian bisnis sehingga istilah entrepreneurship kayaknya jadi kata yang mulai biasa disebutkan oleh lidah kita...gejala ini juga memunculkan tokoh2 penyebar semangat macam Purdi E. Chandra dengan enterpreneur university-nya(mastrie ga asing tentunya), atau kemudian pembicara2 ulung macam Tung Desem (Mister dahsat :P), Jaya Setiabudi, dan mungkin “nabi” baru Robert T. Kiyosaki yang terkenal dg 4 kuadran (derajat!) kehidupan manusia....

Saya sendiri adalah seorang self-employee kalo berdasar klasifikasinya Mr. Kiyosaki menurut temen yang ngikut pelatihan “rich dad poor dad” terlisensi, jadi saya blom boleh ngaku sbg biz owner-wah!
Memang hebad Mr. Kiyosaki ini, sampe bikin orang lain ga bole menjuluki dirinya sendiri, hehehehehe....

Sedikit cerita kilas balik, saya pengen berbagi cerita bagaimana saya berada di main stream trend buku2 hari ini: bisnis mandiri. Mungkin cerita ini ga jadi heroik kalo gw memulainya tidak cuman dengan modal dengkul. Trigger-nya ketika saya mengikuti sebuah seminar sekitar taun 1999(di mana buku2 mr. Kiyosaki blom diterjemahkan pokoknya, hehehe..), yang isinya adalah sambung rasa beliau para teknokrat yang akhirnya banting setir jadi pedagang (saya ga suka istilah bisnisman, hehehe). Di sana saya kepikiran untuk ga “jual ijasah” alias melamar kesana kemari jadi pegawai setelah lulus ntar, karena menurut formula hitung2an dari para speaker bahwa bangsa yang maju adalah bangsa yang minimal 10% penduduknya adalah pengusaha.. *Ting* saya langsung inspired mau jadi pahlawan Indonesia yang memberi solusi bagi bangsa ini atas penciptaan lapangan kerja..*yuuuhhuuuu*..dan gagasan ini memaksa diriku untuk menjadikan bisnis mandiri sebagai wacana pilihan jalan hidup pasca menyelesaikan kuliah.

Lalu cerita berlanjut, studi tetep gw lanjutkan, alhamdulillah tetep banyak A-nya, trus penelitian sempet didaftarkeun dapet paten, lalu di ruang sidang sarjana para penguji saya menawarkan opsi untuk melanjutkan studi lagi sekaligus sukur2 bisa melanjutkan penelitianku..tapi ceuk urang (kata saya), “ngga pak, saya mau nyari duit, negara menunggu saya segera berkarya,”ciee....*plok-plok-plok-plok-plok*....

Setelah semua seremonial kampus selesai, baru saya sadar bahwa menjalani wacana usaha mandiri ga gampang, bahkan setengahnya mustahil bagi saya yang sekolah saja butuh beasiswa karena saya memang ngga datang dari keluarga yang berlebihan secara materi, dan PNS, bukan pedagang...Mau mulai dari mana? Modalku apa? Lalu sempat saya menyerah dengan gagasan saya untuk tidak menjual ijasah, sehingga saya mulai nglamar-nglamar pekerjaan, dan *dhuss* setelah menghadiri interview selalu jadi kandidat terbaik, tapi entah kenapa selalu ada halangan di tahap terakhir..entah telat, entah gagal medical checkup, entah ga punya duit pas ada panggilan akhir(!), akhirnya saya frustasi....sampai saya bertemu dengan teman2 yang lebih tidak beruntung dalam hitung2an kesempatan dan capaian. Di sinilah saya memberanikan berkolaborasi dengan mereka di sebuah kesempatan memasuki dunia adu cepat kendaraan. Ternyata kami bisa membuat sebuah capaian-yang menurut saya- luar biasa, kami berhasil menjadi team implementasi sebuah standar nasional baru soal pengukuran waktu. Kami harus menentang para penguasa dunia balap Indonesia yang menikmati status quo standar lama...uphhh, kepanjangen kalo diceritain detailnya di sini...

Tapi dari pencapian itu membuat saya sadar, saya sudah maksimal di dunia balap dan saya masih punya Pe eR terhadap diri saya sendiri tentang bagaimana menjadi mandiri secara karya....keluar saya dari dunia hura-hura adu cepat, saya beruntung bertemu dengan seorang pedagang yang mengajarkan beberapa tips bisnis bagi pemula yang Nol Besar seperti saya, “business is all about trust building”, “duit itu cuma catetan,” “kalau mau bisa renang ya harus berani basah alias nyemplung, jangan cuman main di pinggiran kolam...itu cara nglakoni bisnis,” dan lain-lain...makasih oom dah “menampar” saya biar melek............

Cerita berikutnya saya dagang kaos...alhamdulillah, sempat mengguncang pasar tshirt pesanan di Batam..tapi lagi-lagi karena pemula, kami ga sadar bagaimana mempertahankan market...ga paham segmentasi, branding, kelewatan momentum, modal yang belom sempat ngumpul, dan diserang dengan persaingan begitu banyak pelaku, bisnis itu akhirnya hanya bertahan 2 tahun....

Lalu banting setir bisnis sekitar graphic design, berpartner dengan sahabat terbaik saya(hobinya fotografi, kalo mau liat foto2nya ada di www.flickr.com/photos/yellowsunday, hehehe)....pas pindah jalur inilah mulai deket dan ngobrol sama mastrie(biar blogger yang lain ngerti, bos)..ceritanya sama, sempat menguasai pasar, menjadi trend setter, tapi karena terbatas pemahaman tentang karakter pasar dan menejemen SDM, lewatlah modal partner-an yang puluhan juta itu...wah, padahal itu adalah amunisi terakhir... setelah dengan darah, keringat dan air mata dibangun selama 3 tahun, ternyata malah muncul betrayal dari dalam tim... lalu saya sempet limbung dan hampir aja putus asa, sampai saya memutuskan sebulan penuh liburan di Bali, ga kerja, hanya bersenang-senang bareng temen-temen baru dari manca(sssttt...ini karena ada subsidi liburan dari teman), dan membiarkan bisnis saya menuju satu kepastian: kebangkrutan berikutnya......

Di Bali saya banyak merenung....pokoknya ketika temen2 sedang asik motret2 objek wisata dan ngobrol sama pemandu2nya, saya biasanya menyendiri..dari aksi menyendiri itulah saya seperti sedang meditasi dan mencoba menemukan jawaban2 atas semua hal yang saya alami.

Di perenungan, awalnya saya protes sama yang “bikin skenario” atas hidup saya (Alhamdulillah, saya masih memegang keyakinan saya bahwa hidup ini berjalan bukan sekedar kehendak perut kita, tapi ada Invisible hand dengan Divina Comedia-nya mengatur jalan kita), kenapa saya diberi jalan yang beratnya minta ampun..saat temen2 saya udah mulai panen, saya malah bangkrut....Lalu saya dengan PeDenya “berhitung” dengan “beliau”...”Ya Gusti junjungan saya, saya itu memulai bisnis ini dengan niatan baik, mbuka lapangan kerja, untuk membuktikan janjiMu bahwa rejeki itu datang dari 8 penjuru arahMu(sukur2 termasuk pahlawan bangsa ini..)..saya bisnis itu Insya Allah ndak pernah melanggar hak2 temen2 yang mbantu saya-kalaupun pernah saya minta maaf dan muga2 itu bukan dengan kesengajaan-...trus saya bisnis itu ya udah nyoba pake ilmu, ga sekedar grudak gruduk...tapi kok ya diuji sampe titik yang sekarang.....mbok saya diberi kemudahan dalam nglakoni ini semua....” *dhuss* pokoke saya ngerasa ga tau harus ngapain setelah ini semua...kecuali satu...pulang dari Bali saya berketetapan apapun caranya saya harus bisa makan dengan otak dan keringat saya sendiri...

Yah lagi-lagi, keberuntungan masih selalu hadir di sela-sela kerja sporadis saya (karena masih berani menolak lamaran beberapa rekan untuk jadi menejer di beberapa tempat), dan yang menurut saya paling penting adalah karena orang-orang terutama inner circle masih mempercayai saya dan masih memberi semangat dan kesempatan, “Dan, kamu baru saja melewati kilometer pertama dari sebuah kejuaraan lari 10-K, dan setelah finish entar, ente masih kudu ngikuti kejuaraan-kejuaraan berikutnya,”(thx, pep) ...singkat cerita, saya berhasil mendirikan bisnis saya dengan modal duit sisa beberapa rupiah, saya sukses mengekskalasi omzetnya jadi beberapa ratus kalinya di tahun ke dua, walau saya pun masih punya kewajiban harus membayar hutang2 saya masa lalu, jadi saya masih tetep harus banyak “puasa” hehehe...dan saya lakoni semua itu hari ini dan muga2 dagangan yang sekarang seterusnya awet.....

Nah, sebenernya dari titik inilah kemudian saya cukup heran ketika baru saja kemaren, tiba-tiba beberapa temen(herannya lagi kok ya waktunya berdekatan, seperti janjian...) datang dan meminta “petunjuk”, “kalo gw keluar dari kerjaan gw sekarang, loe mau ngajarin gw bisnis?” karena saya tau persis betapa yang saya lakoni ini sangat tidak populer bagi para mertua...(karena saya dan mastrie pernah punya pengalaman sama soal calon mertua...hahahahaha...)ketika tingkat ketidakpastiannya sangat tinggi, resiko yang lumayan bikin adrenalin memuncak eh, kok malah pada mau ngikut.....

Saya sempet tanya, “emang bukannya enak bergaji puluhan juta sebulan, ga nanggung resiko macem2, di mana2 dapet garansi dan jaminan....” dan lebih mengejutkan lagi adalah jawaban mereka yg macem2 tapi kurang lebih ada persamaannya, ”kayaknya kamu memilih jalan yang gue banget”, whatever..... saya belum tahu kelanjutan dari obrolan sama temen2 di atas, tapi saya cuman mau kembali mengomentari buku-buku baru itu dan bertanya pada temen-temen yang baca tulisan saya ini dan kepikiran untuk mandiri, sama kayak temen-temen saya tadi:
“....so, masih pengen jadi entrepreneur?”

“Only those who can see the invisible can do the impossible” (makasih, mas Jaya)

Wednesday, June 20, 2007

BULAN JUNI, SAATNYA BELI BARANG MURAH!

(Pendidikan, tanggung jawab siapa?)

yang bikin kopi : DANTE


Terimakasih buat mastrie, yang dengan senang hati menawarkan sepojok ruang di warungkopi-nya buat tempat berbagi ide. Saya memilih mengambil porsi di kolom dengan lodhong yang lain, jadi ntar kalo ketahuan ga enak, tinggal ga usah dipesen lagi aja ama yang punya warung, begitu mas trie?

Trus sebagai tulisan perdana(muga2 juga bukan yang terakhir) :D saya coba nulis hal yang sudah sehari-hari menjadi sebuah topik di masyarakat kita. Saya mau mencolek temen2 blogger dengan fenomena di sekitar bulan Juni ini dan beberapa saat ke depan.

Bagi rekan2 yang sudah punya anak apalagi usia sekolah, atau kalaupun belum-seperti saya-, ya setidaknya mulai merasakan kiri kanan kita, betapa para orangtua mulai nampak sibuk untuk ancang2 urusan mencarikan sekolah. Rumpian di sekitar kita akan berkisar tentang tahun ajaran depan ke mana anak2 akan sekolah. TK yang bonafid mana? SD favorit mana? SMP terbaik di mana? SMU dengan reputasi terjaga yang mana? Lalu ujung2nya, “wah, kudu mulai membedah tabungan nih…”..mungkin terdengar naïf, ataupun terlalu remeh temeh bagi yang tidak melakoninya, tapi setidaknya akan ada golongan yang mengeluh berat dalam masa seperti ini, yaitu bagi para pelaku perdagangan terutama komoditas consumer goods sekunder karena mereka akan langsung paham imbasnya:omzet penjualan akan anjlok drastis!

Alasannya sangat klasik:duitnya buat nyekolahin anak, bukan buat barang yang aneh2!…nah itu bagi yang punya duit, bagi yang ngga punya duit, maka berlomba2lah nyari pinjaman, utang kiri-kanan, gadaiin macem2, jual barang macem2 mulai mobil, gadget, sampai kambing, bahkan tanah warisan! Sehingga, sebenernya kalo mau dapetin barang murah-terutama 2nd hand-an di Indonesia, tunggulah bulan2 ini(bukan pada waktu deket lebaran, catet!)
Tapi selain bulan Juni-Agustus adalah saatnya rajin baca iklan baris untuk dapat barang2 dengan status DIJUAL CEPAT: BU(butuh uang-pen.), hal ini sebenernya juga membuat saya miris.

Kenapa? Karena artinya sebagian masyarakat kita sangatlah kewalahan dengan biaya pendidikan kita akhir-akhir ini. Dan fenomena tahun ajaran baru ini menghebat pasca pemerintah kita malah mencoba melepaskan diri dari tanggung jawab mencerdaskan bangsanya sendiri setidaknya dengan banyak mengeluarkan kebijakan atas pendidikan yg diswastanisasi, termasuk perguruan tinggi negeri yg sekarang statusnya jadi BHMN.
Sebagai sebuah negara, harusnya pemerintah dan para politikus yang berebut kursi di senayan berani berinvestasi pada kualitas SDM yang kompetitif, shg rakyat seharusnya mendapat kompetisi yang seimbang sehingga negara ini selalu mempunyai stock putra-putri terbaik yang siap membela asset negara ini menghadapi tantangan jaman. Bagaimana inti membentuk kompetisi yang seimbang? Akses ke pendidikan yang relatif setara untuk semua kelas masyarakat jawabannhya.

Dari sini kemudian muncul kontradiksi yang mengkhawatirkan di dunia pendidikan kita: masyarakat kita butuh sebuah sarana pendidikan yang memadai agar mereka punya bekal untuk bersaing mendapatkan penghidupan yang layak. Tapi di sisi yang lain, biaya untuk mendapatkan pendidikan begitu membebani leher…(bukan hal yg baru sekarang kalo denger berita orang menjerat lehernya sendiri gara2 biaya sekolah, ga cuma bapaknya tapi bahkan bocahnya sendiri-dan ini bukan sebuah peribahasa!).

Kita sedikit bandingkan ama China yang relatif maju di segala bidang, padahal UMRnya lebih bagus Indonesia secara nominal(sekitar 400rb/bln)?mengapa mereka bisa?karena di sana negara sangat berkomitmen terhadap pendidikan warga negaranya. Pendidikan boleh diakses oleh siapa saja yang emang punya bakat alias beasiswa gratis sepenuhnya. Berbakat olahraga ya masuk ke pendidikan olahraga dan jadi atlet…berbakat matematika ya dapet pendidikan matematika dan jawara olimpiade matematika(untung di Indonesia masih punya Yohannes Surya, shg tim olimpiade fisika Indonesia masih bisa bicara di tingkat internasional-tapi lagi2 ini bukan komitmen Negara!-)

Blom lagi kalo kita membandingkan capaian bangsa kita ama Vietnam..sedih dah kita (harusnya…). Negara yang baru kemaren terbebas dari perang saudara dan terlepas dari aksi rambo-rambo Amerika ini ternyata sudah mulai menguasai bibit2 tanaman unggulan yang dipamerkan peserta pameran agrobisnis nasional di Soropadan Expo-sebuah terminal agrobisnis di Jawa tengah yang dibuka presiden SBY (kebetulan saya datang dan yang kembali disayangkan,selainnya vietnam dikuasai bibit dari thailand!) Ke mana penelitian bangsa ini?

Ngobrolin gini emang bikin 50+50, alias Cepek deeeehhhhh!!!!....

Trus kemana aja kita?ngapain aja kita sebagai warga negara? Apakah emang kita cuman mau menjalani ini semua dengan berpolitik diam lalu memaafkan diri kita dengan alasan2 sekitar “sibuk cari duit biar bisa sekolahin anak2 kita dengan baik”, ataukah kita bisa mulai dari sekarang untuk bersikap proporsional dan selalu mengusahakan agar ada Indonesia yang lebih baik? Bisakah kita tidak hanya reaktif pada hal-hal yang langsung menghantam kita(seperti seandainya kita tinggal di Meruya-Jakarta hari ini)..tapi mencoba menjadi “benar” di setiap langkah kita, menghayati setiap hak dan kewajiban kita, memilih pemimpin tidak dengan asal2an alias tidak sekedar karena kekayaannya, dan tidak mencoba mengambil yang bukan hak kita…

seven things? Ah, enggak.......

Wallahualam....
Salam perkenalan,
Dante