headerversi2
Showing posts with label yang jaga warung. Show all posts
Showing posts with label yang jaga warung. Show all posts

Friday, February 29, 2008

mending jualan IT ato beras??

Yang saya senang dari dunia bisnis adalah saya “harus (mungkin lebih enak mau ga mau)” selalu kenalan dengan orang baru! Kita musti terus mencari jejaring dan lebih daripada itu adalah memperbanyak silaturahmi. Kemaren dapet ngobrol menarik di ym sama seorang pengusaha yang pernah nguplek-nguplek dunia IT, tapi sekarang malah fokus di fashion. Rupanya memang bertambah banyak “barisan sakit hati” terhadap dunia bisnis IT. Setelah kemaren-kemaren dapet info dari temen kalo pemilik salah satu bisnis IT lumayan terkenal di Bandung memutuskan jualan BERAS, saya pikir fenomena ini sangat menarik..:). Kenapa bisa gitu ya?

ini obrolan saya sama tukang bisnis fashion tersebut,

saya: "salam kenal mas"

rosihan: "salam Pak .. apakabar ?"

saya: alhamdulillah, saya dapet ym bapak dari web

saya: sepertinya kita sama kuliahnya mas J

rosihan: oh iya ...angkatan ?

saya: angkatan 97, tapi bisnisnya bukan sesuai jurusan hehe

rosihan :D ..siip

rosihan: sama dong ..malu klo bisnis di dunia itu, IPnya 2 koma alhamdulillah

saya: hehehe…:D

rosihan: sekarang bisnis apa Pak ?

saya: di multimedia, www.lokilaki.com

saya: eh saya panggil apa ya enaknya, mas rosihan?

rosihan: bentar ..saya lgi browse ..boleh panggil apa aja

rosihan: keren disainnya

rosihan: mas ... sudah lama di bisnis ini ?

saya: baru 2 tahunan mas

rosihan: sudah banyak kliennya yaa

saya: alhamdulillah mas,bisa jalan :)

saya: kalo mas rosi sekarang bisnis apa aja?

rosihan: saya lagi fokus di fashion

rosihan: saya di IT sudah 10 taun, www.neslink.com

rosihan: sekarang sedang saya tinggalkan

rosihan: sekarang lagi fokus ngembangin www.saqina.com

rosihan: ngembangin jaringan toko ritel busana muslim

saya: baju dan apparel muslim ya mas?

rosihan: iya

saya: kalo saya sekarang masih proyek mas,tapi mulai dikit2 r&d bikin produk sendiri

saya: btw kok bisa ke baju muslim awalnya gimana? IT dah ga menarik ya? hehe

rosihan: IT capek mas ...,pemahaman soal bisnis-ku sudah berubah ...

rosihan: saya sempat kerja 5 tahun, di Astra 3 taun, di Detikcom 2 taun, tahun 2002 bikin konsultan IT sendiri ..modal gaji terakhir, kemudian sejak itu ssampai 2006 hidupku dari proyek ke proyek mas. Dari 1 karyawan sampai 15 karyawan ...,sekarang sudah tinggal 2 karyawan aja ... nov 2007 kemarin saya lepaskan karyawan IT saya ...

rosihan :D ...

saya: wah menarik nih mas, rata2 orang yang mroyek IT pasti gini…hehe

rosihan: iya mas ...segera keluar dari dunia proyek

saya: saya juga ngerasa gitu, bisnis proyek ke proyek ga bagus

rosihan: ada bagusnya fokus di produk & brand

saya: iya betul mas

rosihan: klo di multimedia, medingan jualan konten yang dikemas dengan multimedia yang bagus ..lalu dijual sebagai produk dengan brand

rosihan: nanti lama-2 brandnya makin kuat. Klo brandnya sudah kuat, orang akan beli apa aja yang diproduksi brand itu

saya: iya, rencananya seperti itu mas

saya: makanya sebelum kehilangan momentum kita mulai r&d produk

rosihan: iya siip ...satu langkah awal yang tepat

rosihan: saya aja sekarang agak menyesal, kehilangan waktu 5 tahun mas

rosihan: itu ongkos belajar yang mahal ...

triyadi_yuwono: maksudnya gimana?

rosihan: ya ..saya dulu belum tahu, kalau dunia jasa IT pembatasnya banyak ...saya hanya tergiur uang besar jangka pendek dari proyek-proyek

rosihan: untuk penghasilan ok, tapi masa depan tidak ada ...

rosihan: satu hal paling penting di IT, khususnya software development adalah, ilmu yang kita pelajari 5 tahun lalu tidak bisa kita pakai lagi sekarang, otomatis sdm-nya begitu juga

saya: wah betul mas, emang mending gerak di konten nya ya, bukan di teknologinya

rosihan: iya ...

rosihan: sekarang saya lagi terus mencari bisnis yang fundamental ...bisnis yang bisa kita lipatgandakan tak terbatas ...

saya: wah asik nih mas, saya mbok dikasi ilmunya

rosihan: ya kapan-2 ngobrol aja mas

rosihan: faktor pembatasnya kecil... bisa terjadi ledakan omset

saya: hmmm bener juga ya

yah…walopun bukan hal baru tapi sebuah obrolan yang singkat tapi mencerahkan. Dunia bisnis proyek ke proyek memang bisa menghidupi tapi sampe gimanapun tidak akan bisa membesarkan. Proyek bisa menghidupi, tapi produk lah yang akan membesarkan. Mungkin…hehe. Ato mungkin saya suatu saat akan kembali jualan batagor? seperti dulu?? ah ga tau deh apa yang akan terjadi nanti...

Thursday, February 21, 2008

baca..baca...

Saat kuliah adalah masa emas untuk membaca, walaupun payahnya yang saya baca bukanlah buku-buku literatur yang berkaitan dengan kuliah teknik, melainkan buku-buku sosial. Kalo dipersentasikan mungkin 75% buku mblukuthuk dan 25% baru buku teknik (hehe..mungkin ini yang bikin teknologi Indonesia ga maju-maju ya:P). Bahkan yang lebih menyedihkan lagi saya justru sering membaca novel saat kuliah berlangsung.


Tapi ada saat dimana menjelang wisuda, saat sudah mulai merintis bisnis, saya menjadi ogah-ogahan membaca, cenderung takut. Bukan apa-apa, setiap kali selesai membaca saya merasa buku-buku tersebut hanya sebuah pengulangan dan bermuara pada just do it (kebetulan waktu-waktu ini saya banyak baca buku tentang kapitalis). Takutnya adalah ternyata ketika saya kebanyakan membaca, energi untuk beraktivitas malah berkurang. Tidak banyak inisiatif di dunia nyata, saya terlalu berkutat dengan ide dan ide. Bahkan salah satu mentor saya pernah menyarankan lebih baik jangan kebanyakan membaca buku apalagi koran. Banyak informasi sampah dan seringkali justru kontraproduktif dengan bisnis. Baru setelah beberapa lama saya bisa memahami permasalahan bukan terletak pada membaca buku, tapi lebih karena saya belum bisa membagi energi dengan baik.


Sekarang saya justru sedang gila membaca! Dalam buku Pursuit of Happines, ibu Chris Gardner bilang bahwa tempat paling berbahaya dunia adalah perpustakaan. Kalo saya bilang, untuk saat ini tempat berbahaya adalah toko buku, karena tiap kali kesana saya harus merogoh kocek untuk membeli buku-buku yang menggiurkan :D. Dan ini sungguh berbahaya bagi ke
baikan cashflow...hehe


Ada dua buku yang menginspirasi saya, yang pertama adalah Rahasia Meede karangan E.S. ITO. Sebuah novel fiksi sejarah yang memanja otak untuk menari-nari dengan konspirasi. Banyak sudah review atas buku ini. Coba aja googling deh. Setelah Negeri Kelima buku pertamanya yang biasa saja, novel kedua ini saya anggap lebih keren. Buku kedua yang inspiratif adalah Imperium III karangan Eko Laksono. Rating penuh untuk buku yang dibuat selama sepuluh tahun ini dan cukup dibaca dua minggu. Buku ini membuat saya ingin mencintai kembali negeri Indonesia. Sebuah sejarah yang diceritakan dengan singkat padat, dan renyah. Saya seperti sedang duduk di depan embah saya, melihat gelembung air di sudut bibirnya dan melongo mendengarkan cerita tentang peradaban dunia, mulai dari Yunani-Romawi, lanjut ke Islam, ke Eropa, lalu diterbangkan ke Jepang,lalu ke Amerika dengan tokoh-tokoh pendobraknya, 1000 tahun sejarah Kemajuan dan Keunggulan Bangsa-bangsa. Kalo ingin melihat blog pengarangnya yang keren juga silahkan diliat disini. Ada benang merah kedua buku itu, yaitu sebuh ajakan untuk lebih mencintai ilmu dan pentingnya membangun sebuah karakter. Buku wajib baca!


Ada buku bagus lagi, sebuah diari dari Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari. Saya ketemu editornya di kantor temen saya. Disana ngobrol cukup lama, lalu direkomendasikan buku tersebut dan yang lebih penting dipinjami hehe...Buku yang hampir pasti bikin WHO dan korporasi kesehatan Amerika Serikat kebakaran jenggot. Sebuah perjuangan melawan dominasi kekuasaan Global untuk keadilan dan martabat bangsa. Dari buku itu kita dapat melihat bahwa beliau sangat terinspirasi oleh ide-ide Bung Karno, tentang martabat dan kedaulatan bangsa.


NB: Sosialis, Kapitalis? Indonesia yang mana? Mana yang lebih menyenangkan dalam lingkup hidup Anda?

Friday, February 08, 2008

mbak cantik terkenal dan melelehnya kekaguman...(semoga sementara)

Tidak mungkin lelaki tidak menoleh kalo ketemu sama mbak satu ini, bahkan di layar kaca sekalipun, sihir innocent face nya jarang mampu dilewatkan. Cantik suangat, cerdas, dan artis terkenal, berkelas pula, kurang apa coba.

Temen saya pernah dengan bangga bilang, “tau engga, pacarku kalo diliat dari sebelah kanan kaya dia loh?

Saya langsung jawab, “o gitu ya, lha kalo dari atas kaya siapa…??”. Hehe…


Walah.

Tapi sungguh tensi kekaguman saya menjadi berubah ketika dalam salah satu liputan, mbak satu ini mengeluarkan komentar terkait dengan keberadaan LSF (Lembaga Sensor Film) yang menurutnya sangat tidak efektif. Kalo pun seluruh dunia begitu memujanya, saat itu saya justru hampir saja menangkap bayangan mbak cantik ini lengkap dengan sangkur, taring dan sulur-sulur yang menyeramkan.


“Keberadaan LSF sebaiknya dipertimbangkan lagi. Coba aja kita lihat begitu banyak film barat yang lebih vulgar, juga banyak video porno di glodok. Ini membuktikan kalo LSF tidak berperan efektif!”, katanya sangat menggebu dan tentu saja percaya diri tinggi.


Ah God! mbak yang katanya asisten dosen ini, ternyata (maaf) agak-agak plis deh…Apakah pelajaran filsafat yang mblukuthuk itu telah membuatnya menjadi terlalu pintar, sehingga keluar logika seperti itu?


Pertama. Apakah masuknya barang slundupan porno itu tanggung jawab LSF? Apa logika seperti ini yang diajarin di sana?

Kedua. Terkait dengan gencarnya tuntutan untuk di(batasi/bubar) kannya LSF, dengan alasan memberangus kreativitas? Kreativitas seperti apakah yang ingin dibebaskan? Buruan Cium gue?? Quickie Express?? Kawin Kontrak? Dst dst. Kurang bebas seperti apa lagi?


Saya sebenernya agak ngeri membayangkan dunia film Indonesia yang tanpa sensor. “Emang lo ga suka barang-barang seputar perut, paha dan dada? Munaf ah, Sok suci loh!”.


Waduh, sungguh sebagai lelaki yang sehat mental dan seksual, kalo ditanya senang ga senang jawaban saya adalah jelas senang! 100%! Tapi ternyata masalahnya adalah bukan di masalah senang atau ga senang! Kita lupakan dulu agama kita dan segala ayat-ayatnya, mari kita lihat sejarah. Dalam buku Imperium III, Eko Laksono bercerita tentang sebuah masa kegelapan di Eropa sebelum datangnya Aufklarung, dimana paha, dada dan seluruh paket komplit kemaksiatan adalah rajanya. Ya, inilah abad kegelapan ketika tak ada pengetahuan yang bersinar, ketika peradaban menjadi tidak berbeda dengan kehidupan hewan yang kebutuhannya hanya makan sekenyang-kenyangnya dan berhubungan seksual sebebas-bebasnya. Abad ketika otak yang ada di kepala hanya berisi syahwat dan syahwat. Boro-boro mikirin yang laen! Apakah jaman seperti ini yang ingin kita perjuangkan?


Sungguh saya ngeri membayangkan kalo pembawa risalah kebebasan itu berhasil dengan misinya. Sekali lagi masalahnya adalah bukan di senang atau ga senang dengan hal-hal bebas semacam itu! Senang dan ga senang adalah masalah keinginan, ego kita, sedangkan dunia ini bergerak bukan sekedar berdasar ego kita sendiri. Tapi ada sebuah norma, ada tatanan sosial yang bahkan secara logika pun tetap harus kita jaga. Sebuah norma yang ukurannya adalah boleh dan tidak boleh, kalo kita melanggar ya efeknya tata nilai di masyarakat akan rusak, dan rusaklah kehidupan sosial manusia. Belum lagi tanggung jawab sama Gusti Allah?? Ah lupakan saja, bikin ga bebas!


Kemaksiatan yang terus-menerus dikumandangkan lama kelamaan akan menjadi kebiasaan dan pelakunya bahkan bisa menjadi pahlawan. Coba imajinasi dan kreatifitas kita bebaskan, apakah kita rela seandainya IBU KITA terlihat pahanya di mana-mana? Dadanya terbuka bagi siapa saja? TELANJANG? Ato saudara kita diperkosa oleh seseorang yang sangat terangsang oleh film yang kita bikin? Duh Gusti!! Bukankah ada sebuah cermin yang sebaiknya selalu kita lihat ketika kita ingin berinteraksi dengan orang lain?

Kecuali, sebenarnya cermin siapa yang sedang dipakai?

Saya jadi teringat khotbah jumatan tadi dari khotib yang mengutip hadits Riwayat Al Hakim dan Abu Naim

Hiduplah kamu sebagaimana yang engkau kehendaki,
tetapi ingat kamu akan mati.

Cintailah siapapun yang engkau kehendaki,
tetapi ingat bahwa engkau akan berpisah dengannya.

Buatlah apa saja yang engkau kehendaki,
tetapi awas kamu akan di balas atas apa yang dilakukan itu!

Nb: semoga mbak cantik, anda, saya dan kita semua senantiasa dapet pertolongan dan hidayahNya

Tuesday, January 29, 2008

tempat nulis baru :)



Ada kalanya saya pengin nulis tentang hal-hal yang ada kaitannya dengan kerjaan saya, tempat bermain, dunia yang saya nikmati. Tapi blog ini sepertinya kurang pas untuk memfasilitasinya.

Ya begitulah, dan seiring dengan wafatnya salah satu orang kuat dunia...lahirlah blog ini yang akan membahas multimedia, desain, game, perkembangan dunia web, dan tentu saja beberapa kerjaan kami. Yang pasti nanti akan lebih banyak gambar disana :). Semoga kelahirannya tidak sia-sia :)

Saturday, January 19, 2008

hidup bukanlah pilihan??

Hari kamis kemaren ditayangkan kembali Kick Andy episode AA Gym versi lengkapnya. Sengaja saya tunggu karena episode ini belum sempat saya tonton. Seorang figur pubik yang awalnya sangat digandrungi ibu-ibu, tapi kemudian justru dijauhi ibu-ibu itu sendiri. Dan saat ini, saya melihat seseorang yang semakin tenang, semakin matang, dan bisa jadi akan mulai banyak penggemarnya lagi J.

Sesi Tanya jawab poligami yang saya lihat paling menarik. Saya harus angkat topi dengan Andy Noya, dia selalu bisa merangkai pertanyaan yang simple, sangat personal, tapi terarah pada sebuah topik yang kuat dan bermutu. Kisah poligami bagi AA Gym adalah kejadian yang sarat hikmah. Penurunan eskalasi dakwah yang diikuti penurunan omzet MQ Corporation bagi AA Gym justru membuat “untung”. Beliau mengungkapkan muslim yang beruntung adalah ketika keadaannya hari ini lebih baik dari keadaan sebelumnya. Waktu untuk keluarga menjadi lebih banyak, waktu untuk mengasah kembali ketajaman otak, waktu untuk tidak sekedar menjadi “mesin”. Beberapa perusahaannya justru mendapat momentum lepas dari ketergantungan dan berusaha menjadi lebih profesional. Pengkultusan yang tidak sehat mulai diproporsionalkan kembali.

AA Gym mengungkapkan bahwa beliau tidak pernah memimpikan bisa masuk TV, “seterkenal itu”, hingga punya pengikut yang sedemikian banyak. Beliau juga tidak pernah membayangkan ketika kemudian “dibanting” sedemikian rupa setelah dilambungkan jauh ke atas. Setiap kejadian yang terjadi pada perjalanannya benar-benar di luar kuasanya. Yah, begitulah kejadiannya, hanya menjalani takdir sebaik-baiknya.

Setelah acara itu, saya jadi teringat lagi obrolan pagi buta dengan teman saya yang lumayan mengguncang logika dan keyakinan saya tentang...

Benarkah hidup ini adalah sebuah pilihan??

Bahwa kita seolah-olah memilih iya, tapi apakah kita benar-benar memilih? Saya yang saat ini akan jawab dengan tidak! Melihat fakta-fakta yang ada hingga saat ini, setiap apa yang terjadi pada diri saya ternyata tak benar-benar berdasar pilihan saya. Kalopun sama, rupanya itu hanya sekedar kebetulan saja. Saya memilih sekolah di bandung? saya memilih jalan penghidupan sendiri? saya harus berpikir lagi tentang ini...

Dalam sebuah pikiran bebas, mari kita membayangkan jika satu pilihan kita akan berpengaruh terhadap kehidupan lainnya. Satu pilihan orang lain juga akan berpengaruh terhadap kita. enam milyar lebih penduduk bumi terikat pada hubungan sebab akibat yang sangat rumit. Belum kalo kita bicara 1 orang yang punya rencana ke luar bumi dan bertemu makhluk luar angkasa? pilihannya itu akan mempengaruhi konstelasi semesta?? Mungkinkah kita sebenernya punya pilihan? …:P

Dalam sebuah realitas sederhana, kalo benar hidup ini pilihan, betapa kasihan para penjahat, pembunuh, pencoleng dan pesakitan yang bertebaran di seluruh sisi bumi ini. Kenyataannya tidak ada manusia yang memilih untuk menjadi penjahat, pendosa ato pesakitan lainnya. Kita dan mereka hanya menjalani tugas masing-masing.

Pada hakekatnya semua adalah pilihanNya. Ketika kita memutuskan sesuatu, sepertinya Tuhan tengah meniupkan salah satu sifat Nya Yang Maha Berkehendak, ngetes sampe sejauh apa “penyikapan” kita. Mungkin memang keperluan kita di dunia ini hanya sekedar menjalani tugas, dan “masalah sikap”? Hidup di dunia sesuai dengan tugas yang diperintahkan, kemudian kalo dapet sebuah kejadian, menyikapinya dengan baik-baik.

...kalo di perjalanan dipertemukan pilihan, ya udah pura-pura memilih aja, ato coba aja pura-pura bermimpi, pura-pura bertarget, pura-pura pasang strategi...pura-pura aja...

AA Gym terinspirasi adiknya yang mampu “melihat sesuatu" yang berkuasa di balik setiap kejadian yang terjadi. Adiknya mampu menyikapi segala cacat dan kelemahan diri dengan luar biasa tanpa keluhan. Ada satu catatan yang mengesankan tentang bagaimana seseorang mampu melihat hikmah dibalik kejatuhan atau “kesuksesan”, melihat kekuasaan tak terbatas pada sebuah penciptaan makhluk, dan sangat menikmati kecintaan terhadap yang berkuasa atas seluruh hidupnya...

Taufik Ismail pernah menulis puisi,

“Tidak dapat ditukar dengan emas, seberat apapun
Hidayah itulah namanya... “


tapi kok kayanya belum dapet dapet juga ya? Ada yang punya ide metode dapet hidayah? siapa tau lo jadi ustadz bertema ini? :P

Tuesday, December 18, 2007

A Community Needs Champion!

Kemaren saya ketemu dengan seseorang yang punya majalah. Ada hal yang menarik bisa saya tangkap dalam obrolan sekitar 1,5 jam itu, lumayan dapet beberapa pencerahan . Beliau bercerita bahwa saat launching majalahnya tersebut, beliau sudah yakin siapa yang akan jadi pembelinya dan itu adalah komunitas teman-teman satu angkatannya (yang memang terkenal loyal). Beliau yakin tidak harus promo yang berlebihan, menghabiskan anggaran banyak untuk mendapatkan komunitas. Terlalu riskan untuk start up.


Memang dalam bisnis saya sekarang ini, komunitas adalah hal yang bisa dikatakan sangat krusial, setengah mutlak. Ketika saya bikin produk, saya harus yakin bahwa produk itu akan laku dijual dalam sebuah komunitas tertentu. Di tengah beragamnya produk yang berhamburan saat ini, saya tidak bisa lagi berandai-andai tentang sebuah pasar yang sangat luas. Ketika saya bikin produk dengan modal yang terbatas, saya harus “yakin” produk yang saya launching tersebut bisa diterima dalam sebuah kumpulan orang tertentu. Kata orang marketing, niche. Kalo strategi untuk itu, yang lagi ngetrend saat ini adalah samudera biru (padahal sama aja dengan diferensiasi ya :P). Komunitas adalah kata kuncinya.

A community needs a champion—an identifiable hero and inspiration—from within the company to carry the flag for the community.

Kalimat di atas saya kutip dari blog keren ini. Komunitas memang butuh seorang pemenang, seorang tokoh yang dikagumi dan bisa membangkitkan inspirasi. Karena seorang pemenang selalu menarik untuk didengar ceritanya, dibahas dan diceritakan kembali untuk sebuah inspirasi. Seorang tokoh, adalah magnet bagi sekumpulan manusia untuk bergabung dalam satu ruang. Mereka ini adalah role model, panutan dan bisa jadi sebuah ikon di alam bawah sadar manusia lainnya.

Dunia maya sekarang ini terbukti efektif sebage media membentuk komunitas dan memunculkan pahlawan-tokoh-idola alternative tersebut. Satu hal yang menarik lainnya adalah, dunia maya saat ini sangat memungkinkan seorang “tokoh baru” bisa dekat dengan dengan komunitasnya ( yang tidak sekedar SMS selebriti hehe). Satu hal paling nyata adalah perkembangan dunia blog.

Dunia blog memunculkan kluster-kluster komunitas yang masing-masing punya tokohnya sendiri. Setelah pesta blogger kemaren banyak digaungkan tentang SUARA BARU INDONESIA, maka yang kemudian diharapkan membawa bendera nya adalah deretan tokoh-pahlawan-idola alternatif tersebut. Yang lebih familiar kemudian, mereka disebut seleblog (ato blog seleb?). Ah definisi definisi..peduli amat…

Di komunitas blog, pahlawan-pahlawan yang muncul, kebanyakan orang yang sudah berumur (kalo ga tersinggung dibilang matang cenderung tua) yang biasanya memang tidak menarik secara fisik tapi keren dalam pemikiran. Kalo tiba-tiba ada seleb “dunia beneran” masuk ke dunia maya, biasanya memang langsung rame blognya, dia bisa segera menjadi pahlawan baru untuk komunitasnya sendiri.

Karena secara naluriah, orang ingin berada di dekat orang yang bisa “melakukan” lebih banyak hal daripada dia sendiri, dan bisa membuat orang itu ingin berbuat sesuatu hal. Katakanlah para seleb blog itu lah yang kemudian menginspirasi komunitasnya. Dia didapuk sebage seorang pemenang, pahlawan dan inspirasi bagi komunitasnya.

Tapi, konsekuensi nya tidak mudah. Seorang “hero” harus melakukan lebih banyak hal daripada yang lain, lebih banyak mikir, lebih banyak bekerja, lebih banyak tanggung jawabnya, mau jadi “pelayan” orang lain. Mereka adalah orang yang telah merelakan sebagian besar waktunya untuk orang lain dan membaca banyak hal (saya yakin). Ini yang perlu kerja keras. Bisa kita bayangkan ketika seorang seleblog juga “diharuskan!” menulis di blognya tiap hari. Awalnya adalah hobi, tapi kata harus! itu mungkin membuat kerelaan menjadi “sedikit beban”. Konsekuensi...konsekuensi…dan ga gampang Cak!

Katakanlah seorang Priyadi, Ndorokakung, Paman Tyo, Iman brotoseno, Sir Mbilung, Tikabanget, Mbak Venus, dan seterusnya dst…dan….Ah tiba-tiba bermunculan banyak sekali idola baru. Idola alternatif itu, Blog Idol. Ya…, mereka adalah pemegang bendera itu. Bendera yang mereka yakini sendiri dan mungkin saja bisa menjadi inspirasi untuk kita semua.

Betewe..Selamat untuk para champion!

NB : foto saya ambil punya temen saya ini, ga marah kan bos apep? hehe

Saturday, December 01, 2007

Memberi ato menjadi presiden RI ?


Memberi. Berarti merelakan sebagian yang (seolah) kita miliki untuk orang lain. Tak pernah mudah juga tidak terlalu susah. Kemaren saya ketemu sama calon klien, masih muda usia 36 tahun, bisnis advertising yang ga main-main karena di Bandung aja beliau udah punya 27 titik reklame gede-gede. Baru dapet penghargaan best young entrepreneur dari sebuah institusi. Beliau cerita bahwa sebenernya memberi dalam jumlah yang “pantas” saat kita masih kere justru lebih mudah daripada saat kaya. Kalo saya punya 100 ribu, zakat(ini memberi yang wajib!) nya berarti 2500. Ini sambil merem kita mungkin juga akan ngasi lebih. Na, kalo dah 10 milyar berarti zakatnya adalah…250jt! Kata orang yang udah punya duit segitu, ternyata ujiannya lebih berat. Ga mudah! Belum ujian selanjutnya adalah bingung mau ngasi ke amil zakat mana ya, bisa dipercaya ga ya, lebih efektif yang mana ya..dan pertimbangan seterusnya yang lebih beragam. Guru saya pernah bilang, nilai memberi bukanlah di jumlah, tapi pengorbanan yang kita lakukan.

Coba belajar dari Google Adsense. Program2 iklan di google adalah konsep memberi banyak, dapet lebih banyak. Google dan beberapa program iklan lain di internet “seperti membagi-bagi uang” yang mereka peroleh untuk orang-orang. Google tidak memakan sendiri keuntungannya tapi membagikannya pada semua orang di seluruh dunia. Google membuat sebuah program iklan yang berbeda, sebuah inovasi. Terlepas konsep marketing apapun, saya memandang positif bahwa ini sejalan dengan kata guru saya tentang konsep siapa memberi banyak, dapet lebih banyak.

Saya nemu dua situs unik yang memanfaatkan perkembangan web 2.0 ini untuk konsep “memberi”. Yang pertama adalah situs Kiva.org. Apa yang dilakukannya nya adalah “Kiva lets you lend to a specific entrepreneur in the developing world-empowering them to lift themselves out of poverty”. Sebuah lembaga microfinance yang benar benar memanfaatkan teknologi web 2.0 untuk menunjang kegiatannya. Disini orang bisa mendonasikan/meminjamkan uangnya untuk sebuah bisnis (micro business) mulai dari $25 melalui Paypal, kemudian bisa memonitor jurnal dan perkembangan bisnis tersebut. Dalam jangka waktu tertentu, uang tersebut akan dikembalikan. Wow mantap! Untuk Indonesia, program-program seperti ini akan segera berkembang seiring rencana IGADD (Investor Group Agains Digital Divide)-Habibie Center untuk mengatasi kesenjangan digital di Indonesia. Nanti petani2 dan peternak kampung yang masih muda2 akan punya kebiasaan baru ngutak atik internet, minjem modal ato jualan lewat media ajaib ini. Ngimpi ya..?:) Mengenai detil program bisa dilihat di situs Digital Divide ini.

Situs yang kedua adalah Globalgiving.com. Situs ini membuka kesempatan orang mendonasikan uangnya, untuk orang lain yang melakukan sesuatu bermanfaat. Jargonnya “Conecting Donors to Doers”. Web 2.0 memungkinkan para donor bisa memonitor perkembangan seluruh kegiatan yang sedang dilakukan dan langsung bisa berkomunikasi dengan social networking yang terbentuk di situs tersebut. Bola salju yang digulirkan M. Yunus akhirnya semakin membesar. Di tengah deru kapitalisme yang banyak mengeksloitasi dan “mengambil”, rupanya memang tetap akan ada orang-orang yang menginspirasi dan mengajak untuk MEMBERI.

sekedar asal usul usil nih…

Coba kita misalkan biaya kampanye capres-cawapres Indonesia, misal 400 M. Ditarik tahun sekarang, asumsi inflasi 5% pertahun maka menjadi 500 m. Biaya seperti itu untuk membangun rumah korban lapindo bisa jadi berapa rumah ya? Ato setengahnya aja, untuk rumah Sederhana tipe 48 katakanlah harga produksinya 80 juta, maka dengan uang 250m akan jadi 3000 an rumah. Kalo diumpamakan satu rumah isinya 4 orang, maka dia sudah “menjadi pahlawan” 12.000 orang.

Orang yang bisa “nyumbang” duit segitu akan ramai dibicarakan orang, dia akan segera menjadi terkenal. Mungkin kelihatannya hanya 12.000 orang, tapi jumlah segitu tanpa ada unsur publikasi media pun dalam waktu dua tahun efek getok tularnya akan terasa. Dan dengan jumlah segitu tidak mungkin media tidak meliputnya,.
belum inpoteinmen tuh..Bayangin efeknya..!

Dan sepertinya saya kok yakin ya, jika ada seorang saja yang bersedia “berkorban” ngeluarin duit segitu, fenomena ini akan segera menjadi efek domino ato malah seperti bola salju, makin lama eskalasinya makin besar. Orang akan rela rebutan jadi pahlawan, ga mau kalah nyumbang. Yang lebih asik disimak lagi adalah betapa berterimakasihnya orang-orang kere yang ditolong sama orang-orang kaya itu. Apalagi kalo orang kaya yang nolong itu kemudian jadi presiden. Mantab!

Memberikan sebagian “milik” kita, memberi harapan, memberi kebahagiaan,.Tak pernah mudah juga tidak terlalu susah. Iya ga sih?

Monday, November 26, 2007

saatnya nangis atau...??

ada satu email di milis IA ngasi tautan ke

TAMBANG EMAS TERBESAR DUNIA!...

kulihat ibu pertiwi
sedang bersusah hati
air matanya berlinang
E (mas) intannya terkenang...




ibu pertiwi nangis,
anak2nya ga bisa jaga rumah,
halaman sampingya dicangkulin
halaman belakang di tanamin "ganja" sama orang
halaman depan, pohonnya ditebangin
kolam luasnya diambilin ikannya,
anak-anak hahahihi dikasi mainan tetangga
lebih asik katanya, lebih modern
tapi tiba-tiba
anak yang laen yang masih kecil2 pada teriak mainan bikinannya diambil tetangga
anak yang lebih besar bingung mesti ngapain
dan nyalahin adiknya "habis ga pernah dijaga sih!"
akhirnya para anak sibuk gelut sendiri

ibu pertiwi nangis,
anak-anak yang ga ngerti apa-apa ikutan nangis
ada juga yang pokoknya marah sambil banting-banting kursi
bapak pertiwi nya lagi mumet berat
lagi sulit konsen
"2009 bakal lebih banyak persoalan (baca-rebutan)", katanya.

ibu pertiwi akhirnya berhenti nangis
karena air matanya emang dah habis
matanya mbendhul,pipinya cekung,
mengumpulkan titik harapan walo hampir putus asa,
"tanah kita masih ada sisanya ga ya?"

Friday, November 23, 2007

Siapa bilang ide itu mahal?!

Alhamdulillah 3 hari yang melelahkan selesai sudah. Memang kalah, cuma dapet juara dua, tapi kami mungkin dapet lebih daripada sekedar sebuah kemenangan. Dapet ilmu baru, pengetahuan baru, dan juga jaringan baru! Ah ya, kenalan banyak orang yang tadinya cuma saya denger namanya di majalah, tivi ato internet. Akhirnya kemaren bisa ngobrol, tuker-tukeran kartu nama, moga bisa berlanjut nanti. Pusat segala kegiatan komersil emang Jakarta. Saya makin ngerti mengapa temen saya ngotot nganjurin pindah kantor ke Jakarta (walo saya masih belum mau hehehe). Pikiran konvensional saya masih bilang ongkos sosialnya terlalu besar, ya polusi gila gilaannya, ya macetnya, ya yang ruangan harus ber AC, ya yang…kesimpulannya adalah banyak ga enaknya! Tapi harus saya akui kesempatan disana emang banyak banget. Sambung menyambung, klik kanan, klik kiri, jadilah.

Hari pertama. Nyiap-nyiapin stand pameran, setelah selesai pengin muter muter, jadinya stand malah banyak ditinggal. Ikutan seminar hari pertama, yang ngisi Anang (music), Wahyu Aditya (animasi), Dana Riza (teknologi fim), dan dari matahari studios.

Ketemu sama yang punya Indo.com, salah satu dotcomers Indonesia yang survive saat keruntuhan dotcom dulu. Tadinya saya ga ngeh siapa orang ini karena saat seminar dia sibuk ngutek-ngutek control panel di webnya. Saya baru tahu setelah dia nanya-lebih tepatnya ngasi usulan pada pembicara-pembicara di depan. Bapak satu ini mungkin bisa dibilang termasuk pioneer di bisnis dotcom indonesia. Ketika bisnis dotcom belum banyak di negeri ini, dia sudah sangat sadar bahwa bisnis IT butuh venture capital (bukan bank). Nyoba nyari-nyari modal dari luar, nenteng-nenteng sendiri perangkat internet dari Singapura. Sempat juga ikut bikin Astaga.com. Dari ngobrol sama beliau, dapet banyak pengetahuan baru. Ada kisah menarik ketika beliau presentasi di Intel, yaitu saat beliau harus menandatangani surat yang menyatakan bahwa apapun ide yang beliau sampaikan, yakinlah Intel sudah memikirkannya. Jadi kalo suatu saat Intel memproduksi barang tersebut, yakinlah itu adalah murni hasil pemikiran Intel. Ck ck ck…arogan ya keliatannya, membuktikan selusin ide sebenernya seharga 1 dolar! Satu catatan, bukan sekedar ide yang dibeli para pemodal ventura.

Ketemu sama wahyu aditya – kdri pas dia ngisi seminar hari pertama. Bisa ngobrol di bangku belakang baru di seminar hari kedua saat pembicara dan topik seminar ga asik, mbosenin. Menariknya, ternyata saat ngisi seminar maupun ikut jadi peserta seminar dia selalu malah browsing, chatting. Ya opo pak :D. Nanyain gimana lomba yang dia ikutin. Siapa aja kompetitornya di Indonesia. Gimana industri kreatif di London sana, trus perkembangan industri kreatif di negara-negara lain. Satu catatan, bukan sekedar ide fresh yang orang inggris (british council) cari, tapi sekalian juga tenaga kerja handal dan murah.

Sebelah kita berdua ada Anang. Sayang ga bawa krisdayanti hehe. Semangat banget bapak satu ini kalo ngomong bisnis kreatif. Harus saya akui anang adalah seniman yang distinguish. Orang pintarnya dunia musik. Vokal abis, banyak protes, baik saat jadi pembicara maupun pas jadi peserta. Memperjuangkan musisi negeri ini dari berbagai pelosok dalam import musik. Tren jual lagu nantinya adalah bukan album, tapi jualan tiap lagu. Ide menjual lagu digital bukanlah ide baru, myspace sudah memulainya dengan sangat sukses. Walo mungkin jadi produk me too, tapi anang merealisasikan ide itu, di Indonesia. Hal itulah yang mahal. Menolak tawaran menggiurkan ketika krisdayanti mau diboyong ke Amerika. Satu catatan, nasionalismenya cukup tinggi.

Ketemu pak budiono, pemrednya detik.com. Ngajak beliau ke stand trus minta tanggapan tentang beberapa game kami, salah satunya game online yang sedang kami buat. Beliau mau ngenalin kami ke orang yang bisa tau game ini (game online kami) bau duit apa engga, trus gimana strategi game online nya, dsb. Satu catatan, ide bikin produk dengan ide jualan produk adalah dua hal yang berbeda, masing-masing punya porsinya sendiri-sendiri. Ide menjadi mahal ketika dua ide tadi bisa direalisasikan dan sinergis.

Ketemu siapa lagi? Banyak banget, dan bahkan dah ada yang indent produk kami (padahal baru versi beta 1.0). Asik kalo saya bilang. Pengin pameran lagi! Hehe..Saya jadi inget film (judulnya lupa) yang cerita tentang Steve Jobs pas bikin pameran tunggal untuk produk Apple pertamanya. Hmm..kapan ya bisa pameran tunggal? 1 ato 2 Tahun ke depan?? Yukkk!

Friday, November 16, 2007

Heart is just for lovers? Ah....masa sih?

Heart is just for lovers?. Dalam masalah bisnis, hati akan lebih baik kalo dikesampingkan. Benarkah? Pernyataan itu begitu mengusik saya. Saya tidak menyampaikan di forum seperti apa terusiknya saya (karena bukan forum curhat sosial), tapi pernyataan itu membuat saya harus mendefinisi lagi
persepsi sebelumnya tentang diri bapak ini. Aburizal Bakrie boleh menyebut dirinya sukses dalam karir ekonomi (5 besar terkaya di Indonesia Cak!), karir politik (menteri bos!) dan bahkan karir keluarga (keluarga besar ato kecil pun oke-seperti diceritakannya). Kata mas iman dia termasuk pahlawan. Mungkin dia juga idola di sebagian besar hadirin talkshow pertama yang diadakan di ITB dalam rangkaian Ganesha Entrepreneur Expo yang dimulai kemaren dan akan berakhir tanggal 18 November 2007.

Ini hanya sekedar review...

Dalam talkshow, beliau sempat mengemukakan tentang sebuah skema bisnis (beliau emang jago masalah ini). Bapak satu ini bercerita tentang cara survival nya ketika berada dalam kondisi yang lebih miskin dari seorang pengemis, dikejar-kejar utang, untuk menyekolahkan anak saja susah, ditolak minjem kesana kemari, dikatain perampok oleh dirut BUMN yang kemudian bahkan tidak mau menyalaminya dan sebagainya. Bapak satu ini terbukti hebat ketika bisa membeli perusahaan seharga 20 juta dolar dengan hanya 1000 dolar, kemudian membeli KPC (Kaltim Prima Coal) seharga 700 juta dolar tanpa uang sepeserpun ketika tidak ada bank di Indonesia satupun yang mau dekat dengan beliau. Modalnya hanya nama baik (katanya loo, percaya apa engga terserah aja).

Salah satu kelemahan pengusaha (beliau ungkapkan dari ITB) adalah jago membuat barang bagus, tapi untuk memproduksi jadi industri apalagi memasarkan sering jadi memble. Jangan dulu ke pasar, untuk menjadi sebuah industri seorang pengusaha butuh pembiayaan, masalah ini kadang jadi tidak mudah dan pengusaha dituntut untuk bisa memecahkannya. Dalam paparannya ada beberapa skema bisnis yang bisa dicoba. Bank? Venture capitalist? Pasar modal? angel investor? Ato devil investor? Dari kata angel investor inilah beliau “menantang” para hadirin untuk datang ke pengusaha yang sudah besar dan jual ide! Ya, juallah ide! Ide tanpa pelaksanaan hanya akan berhenti menjadi kata mutiara.

End review.

Tapi pernyataan di awal tulisan itu (heart is just for lovers?) sungguh mengusik saya. Tensi kekaguman saya berubah!. Saya yang tadinya sudah bersiap-siap mendatanginya, bawa kartu nama dan proposal, harus mengurungkan niat dan membuat saya berpikir ulang untuk menjadikan beliau calon investor. (..ah nanti masih banyak yang lain kok, sante aja:P…) Apakah kalo bisnis itu kejam (kosakata yang dipake mungkin kurang pas buat mahasiswa), kita tidak usah pake hati? Hati hanyalah urusan bercinta, berkasih-kasihan…yang yang-an? Saya jadi inget buku yang baru saya baca yang dibeli obral 5000an. Buku yang secara cover sangat tidak menjual, tapi secara isi sangat layak baca. Fiqh Perdagangan Bebas dari Prof. Ali Yafie. Saya yakin banyak pencerahan yang akan didapatkan. Ada pesan, kalo Anda Islam ya contohlah tokoh panutan Islam! Mo jadi pengusaha sukses? Mo jadi negarawan sukses? Mo jadi pemimpin keluarga yang sukses? Ya contoh siapa lagi kalo bukang Kanjeng Nabi Muhammad toh? Di dalam buku itu disebutkan dalam setiap gerak transaksi bisnis Nabi, Etika selalu memegang peranan penting. Etika bisnis inilah yang menurut saya sebenarnya dikomandani oleh hati. Bagaimana nilai spiritual, humanisme, kejujuran, keseimbangan, dan semangat untuk memuaskan mitra bisnis adalah nilai yang beliau kedepankan.

Apakah Nabi Muhammad tidak menggunakan hatinya untuk menjadi sukses?

Heart is just for lovers? masa sih?

Satu hal yang mengusik saya kemudian adalah apakah jabatan menko kesra dijabat tanpa menggunakan hati? Sementara kemaren saya ngobrol sama temen dari PII bahwa ada dugaan lumpur porong emang sengaja dibiarkan (karena sebenernya teknologinya udah ada-dan diusulkan), hingga akhirnya nanti statusnya menjadi bencana alam dan bukan kesalahan perusahaan. Ah…saya berandai-andai seperti apa kesejahteraan rakyat yang menko kesejahteraan rakyatnya bekerja tanpa campur tangan hati?

“Kalo saya punya kekuatan politik, negara ini sebenernya ga usah aja punya perusahaan! Negara ini akan lebih baik kalo hanya menarik pajak, dan menyerahkan masalah perusahaannya ke swasta. Boleh lah negara mana saja, investor asing dateng mo ngelola perusahaan negara, kalo kompeten”, sekelumit pernyataan beliau menjelang akhir talkshow.

Apakah Anda setuju Saudara?

Heart is just for lovers? Mungkin iya kalo Anda adalah para pecinta Tuhan yang hanya pengin seluruh gerak hidup Anda adalah ibadah.

Saturday, November 10, 2007

iseng buat ...(lagu blogger?)

ini hanya iseng-iseng di sela waktu senggang,"lagu"nya sih udah ada tapi belum ngerasa oke, makanya kalo ada yang mau nyumbang bikin "lagu" nya pake lirik ini?
ato diulik liriknya juga boleh?

satu kisah mengubah dunia


aku pernah meminta
kau tuliskan mimpi-mimpi di ruang ini
kau juga pernah memintaku
ceritakan satu kisah yang mengubah dunia


di ruang ini kita bersama
dan tak selalu sama didalam kata
tapi kita punya satu suara
suara hati yang kan buat lebih baik dunia


lihatlah bencana
kesedihan dimana mana
ingatlah keadilan
itulah yang akan kita suarakan


reff :
suara hati janganlah berhenti
ceritakan pada dunia tentang makna Cinta
suara hati teruslah bernyanyi
nantikanlah...
satu kisah dari kita kan mengubah dunia


berpikirlah...
tuliskanlah...
mulailah dengan sesuatu
sejarah akan datang padamu

Thursday, November 01, 2007

Asu gedhe menang kerahe!

Terjemahan bebasnya kira-kira adalah anjing besar pasti menang kalo kelahi.
Dalam sebuah diskusi bareng sama temen-temen diangkat lagi sebuah topik menarik sehubungan dengan buku yang barusan dibeli, buku kedua confession of economic hitman (pengakuan bandit-bandit ekonomi) oleh John Perkins. Seorang “bandit yang katanya insyaf” dan kemudian menuliskan kebusukannya untuk menutupi rasa bersalahnya terhadap dunia. Biasanya malam hari enaknya baca buku yang ringan-ringan semisal novel ato cerpen, kali ini buku tebel 400-an halaman itu juga enak dibaca sebagai teman pengantar tidur, lumayan lah 5-10 halaman tiap hari.

Budiarto Shambazy menulis kata pengantarnya, Indonesia yang mereka ibaratkan real estate terbesar di dunia tidak boleh jatuh ke tangan Unisovyet dan harus diperas sampai kering kekayaan alamnya. Karena itulah dikirimkan bandit-bandit ekonomi–salah satunya John Perkins (pengarang buku ini)- yang tugas pertamanya adalah membuat laporan-laporan fiktif untuk IMF dan World Bank agar mengucurkan utang luar negeri pada Negara dunia ketiga. Setelah itu tugasnya adalah membangkrutkan negeri penerima utang. Setelah tersandera utang yang menggunung, Negara itu bisa dijadikan kuda yang dikendalikan kusir.

Buku-buku teori konspirasi seperti ini memang selalu menarik untuk dibaca dan…sangat provokatif! Membeberkan kebusukan para bandit ekonomi “merampok” kekayaan alam Negara-negara dunia ketiga dengan berbagai cara, mulai dari sogokan, rayuan wanita, dibunuh sekalian, hingga invasi militer besar-besaran. Bagi orang-orang yang bukan siapa-siapa seperti saya, masih cere-cere, belum mempunyai kekuatan apa-apa, mungkin memang hanya akan berhenti jadi kejengkelan dan grundelan. Tapi setidaknya ada sebuah cara pandang yang lebih terbuka dalam melihat masalah. Ini yang justru menjadi penting. Karena memang aksi rampok dan penjajahan modern ini belum akan berhenti sampe kita bener-bener ga punya apa-apa lagi.

Obrolan berlanjut. Ada pikiran konspiratif dan otak curiga tentang penyelenggaraan sebuah event oleh konsulat asing dan mulai banyaknya dana-dana investas asing yang masuk ke Indonesia. Dalam berbagai bidang terutama seputar inovasi dan tentu saja kepentingan industri kreatif. Mau ga mau ini adalah dunia yang saya geluti, dan saya mesti ikutan concern karena mau ga mau juga pasti berpengaruh terhadap hajat hidup kantong saya.

British Council menyelenggarakan event pemilihan International Young Screen Entrepreneur bagi pemilik industri kreatif di Negara-negara dunia ketiga. Mereka mengadakan kontes di beberapa Negara diantaranya Indonesia dengan wakilnya KDRI - yang blogger juga yang akhirnya memenangkan IYSE tersebut. Asik juga diajak jalan-jalan ngeliat perkembangan industri kreatif di London (katanya mbahnya industri kreatif). Saya ikut merasa bangga, nama Indonesia bisa terangkat di dunia Internasional. Bahwa industri kreatif Indonesia bisa bersaing di kancah internasional dan tidak kalah dengan Negara lain.

Tapi sekali lagi tidak ada salahnya juga memasang alarm. Terkait hal ini, temen saya pernah diwanti wanti salah seorang dosennya tentang sebuah program sejenis yaitu RAMP (Recognition and Mentoring Program) dari TLF. Memberikan dana (sedikit) untuk inovasi fresh dari manusia Indonesia, untuk kemudian ditindaklanjuti di negara pendonor. (ato diproduksi sendiri?)

"Halah, Terlalu konsipratif, curigaan kapan akan maju-maju Cak!", kata temen saya.

Bisa jadi, tapi peringatan nya adalah “kebaikan” Asu Gede selalu ada motif. Seperti halnya politik etis - politik (balas budi??) yang dikeluarkan Belanda untuk Indonesia dulu. Politik balas budi?? “Ah becanda kamu!”, kata temen saya. Selalu ada motif yang ujung-ujungnya pasti untuk menyelamatkan kepentingan mereka sendiri.

1.Salah satu gerak kapitalisme adalah memperbanyak lebih banyak pasar untuk keuntungan sebesar-besarnya. Pasar yang besar adalah pasar yang aware terhadap sebuah produk, bukan pasar yang bodoh. Karena itulah Indonesia harus dipintarkan untuk menciptakan pasar yang sangat potensial.

2.Inggris yang telah berkutat lama dengan industri kreatif sepertinya sudah sampai pada tahap mature (ini sinyal bahaya bagi industri-orang kreatif), karena itulah Inggris mencoba menggali sumber-sumber ide kreatif dari Negara-negara dunia ketiga yang tentu saja masih fresh. Apalagi Indonesia ! dengan keragaman budaya - makanan empuk kreatifitas.

Tidak hanya di Inggris, kita dapat segera melihat salah satu bukti point kedua diatas, di film Avatar (Nickelodeon) season II. Disitu sudah terlihat kostum dan rumah-rumahan yang mirip dengan salah satu ciri khas budaya Indonesia, Rumah Gadang. Bukti bahwa budaya adalah makanan empuk industri kreatif.

headerversi2

dan juga di desain kostum yang mirip2 orang kerajaan indonesia.

Ato di salah satu produk game yang lain saya pernah melihat senjata keris yang telah dimodifikasi (sori lupa site nya). Benarkah kita emang selalu ketinggalan mempelajari budaya sendiri? Kalo begini kita harus seneng plus sedih kah? Tapi, bagaimanapun politik balas budi selalu ada positifnya, karena dari politik balas budi itulah kita jadi lebih “terpelajar” dan pastinya lama kelamaan sedikit berani "memberontak".

Saya ini ngomong ngalor ngidul kapitalisme tapi yang ada di depan saya barang-barang produk mereka juga, saya nulis pake Microsoft Word (bajakan), saya imel-imelan pake Yahoo, saya chatting pake Yahoo Messenger, saya nulis blog di Google. Diem-diem saya juga bermimpi lo jadi seperti mereka, la wong di sebelah saya ada buku rahasia sukses gimana biar bisa jadi seperti mereka kok…

Trus, gimana? Ya terus aja berkarya biar bisa jadi kapitalis berikutnya! Tapi moga-moga kapitalis yang baik hati aja ya…hehe

Friday, October 26, 2007

kapan ya bisa lebih berguna buat orang banyak?? (refleksi buat diri sendiri)

Kemaren temen saya maen ke kantor, awalnya kita ngobrol bisnis kemudian topik melebar ke berbage hal hingga nyampe pada hal yang sebenernya telah menggelisahkan diri saya sejak lama.

Temen saya ngomong,” Di, tau ga baru akhir-akhir ini aku ngerasa jadi engineer!”

Lho kok?”,dahi saya sedikit berkerut.

Iya, bahkan hampir sejak kuliah hingga tiga tahun setelahnya inilah, baru aku ngerasa bener-bener jadi seorang engineer!

Deg. Sempat saya terkesiap. Ingatan itu…Rendezvous. Sudah berapan lama saya lulus (yang katanya seorang insinyur), menghabiskan uang milik rakyat yang disubsidikan ke saya? kemudian sudah berapa jauh saya menggunakan ilmu yang saya peroleh? Berapa karya yang sudah saya bikin dengan ilmu yang didapat? Berapa orang yang sudah mengambil manfaat dari ilmu yang hampir 6,5 tahun saya ulik (wah lamaa banget kuliahnya mas!).

Iya, baru kali ini aku ngerasa punya sebuah ide tentang sebuah produk/karya dan aku bisa secara berkelanjutan ngutak-atik, merekayasa dan mewujudkannya! Bayangkan seandainya banyak temen kita dulu (pas S1) yang ngerasain seperti yang aku rasain sekarang. Mahasiswa banyak melakukan riset, berkarya, dan menikmati apa yang mereka lakukan. Bayangkan seandainya ada dua ribu (2000) lulusan terbaik Indonesia menyumbangkan satu TA (tugas akhir) yang berkualitas! Itu adalah karya yang tidak main-main!”, temen saya semakin mengebu-gebu melanjutkan ceritanya.

Tapi yang terjadi ternyata memang berbeda dengan keinginan temen saya. Banyak temen-temen dari universitas ini yang kemudian tidak terfasilitasi, baik oleh lingkungan terdekat maupun sistem yang lebih besar. Banyak bakat yang kemudian seperti menghilang. Kalo laskar pelangi bercerita tentang kejeniusan yang tidak menemukan kesempatannya, kiranya di universitas ini dalam rentang kenyataan yang sedikit berbeda sebenernya punya kejadian yang hampir mirip. Banyak temen kami yang kemudian berpindah jalur. Sarjana Teknik Elektro yang kemudian memilih jualan beras, sarjana Teknik Geodesi yang kemudian memilih jualan batagor, Sarjana Teknik Planologi yang memilih jualan pasir, sarjana teknik mesin yang kemudian jual reksa dana, ato sarjana pertambangan yang jadi politisi….dan seterusnya. Ternyata kalo diteruskan statistiknya akan sangat mengejutkan.

Ah, di Indonesia ini mana ada insinyur ato ilmuwan kaya?! Lebih mending kuliah ekonomi, bisa jadi direktur, ato sekalian maen di politik, berarti megang anak teknik sekalian anak ekonomi ”, kata temen saya yang baru-baru ini saya tahu emang masuk ke salah satu partai politik.

“Apakah aku salah?”, tanya saya sewot.

Iya jelas! Bahwa kamu sudah menyia-nyiakan amanat rakyat yang membiayaimu untuk belajar bidang itu tapi tidak menjalankannya, kamu salah besar! Tapi untuk survive di tengah sistem yang mblukuthuk ini hukumnya tentu ya gimana lagi! La daripada kamu mati!”,temen saya menimpali.

Saya tau di universitas ini banyak sekali manusia jenius yang bahkan pinternya tuh seperti susah dicerna dengan akal sehat. Ada seorang anak Elektro (saya lupa angkatannya) yang TA (tugas akhirnya) tentang utek-utek seng biar bisa punya konduktivitas hampir sama dengan emas. Seng yang sangat murah bisa menggantikan emas untuk bahan pengganti semikonduktor pada CHIP. Untuk sebuah karya TA, ini adalah karya yang luarbiasa. Saya sempat membayangkan seandainya TA nya ini diriset lebih lanjut untuk kemudian diteruskan menjadi sebuah industri CHIP-prosesor, betapa kepercayaan diri kita sebagai bangsa akan bisa kembali terangkat. Ato penemuan anak Kimia yang bisa memisahkan zat pada cacing untuk pengobatan kangker. Cacing seperti kita tahu mengandung banyak sekali khasiat, mulai dari tipes, kosmetik dsb. Saya membayangkan jika dua ribu (2000) lulusan universitas ini mempunyai karya TA seperti itu ato minimal 10% nya saja, untuk kemudian ditindaklanjuti oleh system yang terkait (kampus, pemerintah, dan dunia industri), betapa bangsa kita ini mampu mengangkat kepalanya lebih tinggi, tidak menjadi makhluk yang inferior tak berdaya.

Yang terjadi? Banyak TA-TA berkualitas yang kemudian hanya berhenti memenuhi rak perpustakaan. Bahkan saya sendiri pun hanya seperti kebanyakan mahasiswa. TA saya asal-asalan, asal jadi, hanya memenuhi syarat kelulusan. Dan setelah kuliah pun saya mencoba berbage hal mulai dari jualan, bekerja, untuk kemudian jualan lagi, tapi “tidak di bidang yang saya pelajari di kuliah”. Padahal harusnya kami bisa lebih dari itu! Kami-kami telah melalui saringan yang ketat, kami ini putra-putri terbaik bangsa (inilah arogansi menyedihkan dari kami). Karena pertanyaannya kemudian trus apa yang bisa diperbuat kebanyakan dari kami? Kami kebanyakan berdalih.

Pernah saya mengajukan pembelaan, saya tidak pernah diberi contoh yang “bagus” dari dosen-dosen kami. Dosen adalah guru, guru adalah digugu (diturut) dan ditiru. Kami tidak cukup punya dosen panutan yang membuat karya-karya luarbiasa. Dosen-dosen yang inspiratif. Kami justru banyak mendapat "jam kosong" karena dosen sedang mroyek. Dosen asik mroyek, kami pun ikutan asik mroyek. “Kebanggaan kami” adalah dosen ber BMW. Dosen pragmatis, kami pun ikutan pragmatis. Siapa bisa disalahkan? Karena dosen memang butuh makan.

Padahal ada sebuah hitungan sederhana dari sebuah riset. Kita misalkan seandainya khusus untuk melakukan satu riset mahasiswa diberi gaji Rp 2jt (sudah seneng minta ampun buat pamer ke pacarnya), kemudian dosen yang membimbing digaji Rp 5jt. Riset awal dilakukan selama setahun, maka total biaya yang dikeluarkan hanya 84jt. Ah tidak seberapa!

Karena bandingkan dengan banyak hal ironis terjadi di negeri ini. Kemaren temen saya dapat orderan proyek untuk sistem keamanan jaringan internet sekolah sebesar Rp 35 jutaan. Ironisnya temen saya itu dapet orderan dari temennya, dan temennya itu dapet orderan dari temennya lagi. Ini ada tiga rantai tidak penting. Pada rantai terakhir ini besaran nilai proyeknya adalah 300jt. Duh Gusti!! Padahal hanya membuat system keamanan jaringan sekolah yang hanya membutuhkan cumi-cumi peringatan dan mentok mentok antivirus. Satu hari pun selesai!

Sampai kapan ya kisah-kisah ironi ini akan terjadi, Kapan ya bangsa ini akan menjadi bangsa yang punya daya saing dan menjadi bangsa kompetitif? Kapan ya birokrasi kita ga banyak utak atik mblukuthuk? Punya harga diri dan percaya diri??

Sementara kemaren saya baca di kompas sebuah artikel yang membuat terkesiap dan sedikit lemes. Cartoon Network Enterprise telah menyediakan dana investasi sangat besar untuk menyiapkan karakter-karakter kartunnya. Untuk 2000-2005 telah dianggarkan biaya 500 juta dolar US untuk membuat kartun baru dan akan berlanjut dengan dana yang sama pada 2005-2010. Bagi Shasim Direkur Eksekutifnya, Indonesia merupakan pasar yang penting!

Di penutup artikel itu,

“Sebenarnya ia tengah menunjuk kita dan bocah-bocah Indonesia sebagai pasar yang tak berdaya”.

Lalu apa kabar industri kreatif indonesia???
Temen nyeletuk, "Wis, ndonga asal slamet donya akherat ae mas, rasah neko-neko!"

Tuesday, October 23, 2007

harus amat sangat kuat!

Saya sama temen saya kemaren motor-motoran ke daerah Cieumbeleuit. Rencananya adalah mencari kontrakan di daerah yang sejuk untuk kantor baru. Ketika nyampe di satu perumahan, saya jadi gegelengan kepala tidak kepalang, mulut sampe nganga dibuatnya ngeliat barisan rumah elite disitu. Mungkin tidak banyak yang tahu ada perumahan elite di daerah sini karena memang tempatnya yang terpencil dan jalan untuk menuju daerah itu yang "ga enak dilewati". Saya dan teman saya baru sekali ini melewati daerah ini dan ga tahu kenapa dalam hati terbersit ungkapan “Seperti apa rasanya kalo saya berada di dalamnya!?”

Yang blok pertama, adalah rumah-rumah besar mewah biasa, di daerah dago dan perumahan elite lainnya udah banyak. Ketika sampe di blok kedua, disitu terdapat tiga rumah hampir mirip. Mulailah kami rada mendelik dan berdecak-decak ngeri. Saya jadi seperti jalan-jalan ke beberapa tower di Jakarta karena untuk melihat puncak ketiga rumah tersebut tiada jalan lain kecuali ndangak (menengadah?) jauh ke atas! Disamping sangat tinggi harus diakui rumah-rumah itu besarnya minta ampyun deh!. Dikelilingi tembok-tembok yang tinggi, tiga rumah itu tampak begitu kokoh, begitu besar, begitu angkuh.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan, kekagetan kami dibuat bertambah-tambah lagi. Di suatu sudut yang menyendiri, tampak di depan kami benteng (ya kami harus menyebutnya benteng!) yang sangat besar. Di dalamnya, di sela-sela tembok candi (benteng!) yang cukup tinggi itu, seperti tersembunyi sebuah KERAJAAN! Karena ternyata ini lebih gila lagi! Ternyata di Bandung ini ada sebentuk rumah mirip Kerajaan Majapahit! Hehehe, kalo ga percaya dateng ke bandung deh, nanti saya anterin! Jangankan masuk ke pekarangannya, benteng yang panjangnya Naudzubillah itu juga dihiasi dengan pahatan yang mengingatkan saya pada candi-candi di Gedong Songo Jogja. Bahkan untuk melintasi sepanjang benteng naik motor aja kami butuh 5 menitan. Saya mengintip dari kisi-isinya dan melihat pilar-pilar yang sangat tinggi serta pendopo/bangunan rumah yang membuat saya bergidik. Ada yang membuat saya tidak percaya, sedikit ngeri. Satu pertanyaan, “ Orang ini kerjanya apaan ya??!

Pada awalnya bisa jadi berangkat dari filosofi yang begitu mulia. Kalo saya ingin menolong orang lain, maka saya harus bisa menolong diri sendiri terlebih dahulu. Kalo saya ingin menguatkan orang lain, maka saya harus kuat dulu. Yang kemudian jadi pertanyaan adalah sampe seberapa kuat untuk bisa menolong orang lain? Dan jawabannya ternyata sangat relatif. Saya dan Anda bisa jadi mempunyai ukuran yang berbeda pada kata CUKUP. Cukup ada, cukup punya, cukup uang, cukup kuat, dst memang tidak sama pengertiannya di tiap orang. Boleh jadi di satu kesempatan Anda hanya cukup punya uang 50ribu untuk sebuah alasan membeli baju sepantasnya dan sisanya disisihkan untuk disedekahkan. Ato di kesempatan lain ketika status sosial sudah naik, maka Anda cukup membutuhkan 5juta (tidak harus 10 juta seperti temen Anda) untuk alasan membeli baju yang pantas dan sisanya (kalo ada) disedekahkan.

Apakah ada yang salah? Dalam kenyataannya tidak pernah mudah mengukur relativitas cukup. Untuk orang yang hanya punya 50 ribu, 5juta adalah uang yang banyak, sedangkan untuk orang yang punya 5 juta bukankah sebaliknya? Apakah tidak adil? Apakah ada yang merasa disakiti ato tersakiti? Saya belum tahu deh, saya ga punya hak mengukur persepsi orang tentang kata cukup. Karena kepantasan bisa jadi sangat relatif. Persepsi orang sangat subyektif tentang hal ini.

Okelah misal sekarang saya yang masih kere ini misuh (kok bisa?) melihat deretan rumah-kerajaan itu, tapi siapa yang bisa menjamin bahwa dalam perjalanan saya tidak akan melakukan hal yang seperti itu? Siapa bisa menjamin saya tidak berubah pikiran, jika suatu saat saya pun pengin “tidak sekedar kuat, tapi saya harus lebih kuat”. Kemudian tidak hanya lebih kuat, tapi saya harus amat kuat, kemudian tak pernah cukup dengan amat kuat, karena saya harus teramat sangat kuat sekaliiiiiiiiiiiiiiiiii dst dst dan seterusnya...

Seventhings yang menjadi alasan mengapa (kok lelaki?) yang harus kuat ?:


1. Karena doktrin dari sejak bayi kaya gitu
2. Karena lelaki biasanya lebih berotot
3. Karena lelaki ga melahirkan
4. Karena lelaki ga ngalamin menstruasi
5. Karena lelaki selalu pengin melindungi cewek
6. Karena ego lelaki ingin dianggap begitu
7. Karena di rumah tangga yang jadi kepala keluarga adalah lelaki

Thursday, October 04, 2007

harus rumit dulu kah?

Temen saya yang seorang konsultan manajemen suatu ketika bercerita tentang kejadian di bengkel & cuci mobil salah satu kliennya di daerah Antapani Bandung. Saat itu ada Ariel Peterpan datang untuk nyuci mobilnya.

“Pak, ada Ariel tuh”, kata salah seorang pegawe bengkel.

“Ariel sapa?”, tanya temen saya sok bego.

“Alah bapak ni ga gaul pisan, eta tah Ariel Peterpan!”

“Oh itu ya, sering dia kesini?”

“Ya lumayan sih pak, sebulan sekali lah”, kata pegawe itu sambil terus ngliatin mobil yang tampak tertutup rapat kacanya dengan ariel yang masih di dalam mobil.

“Hmmm, ga diajak ngobrol? Ato minta tanda tangan ato fotonya , kan lumayan tuh buat promosi bengkel!”, kata temen saya kemudian.

“Wah boro-boro pak, buat bayarnya aja buka kacanya dikit banget!”

Ada saat dimana orang banyak yang mencari popularitas. Ngasi demo band ke produser-produser, ikut kontes-kontesan nyanyi, lenggak lenggok kesana kemari, model-modelan, dst. Ketika semua telah didapatkan ternyata orang tersebut malah seperti sembunyi dari kepopulerannya. Dalam hal tertentu dia menjadi orang yang ga ingin terdeteksi kehadirannya. Tentunya juga tidak mudah manusia yang sangat populer mencari teman sembarangan. Saya jadi inget ucapan Ariel sendiri saat acara empat mata yang ngomong bahwa menjadi orang popular seperti dirinya ga mudah, sebenernya banyak hal justru menjadi tidak bebas. Tidak bebas memilih apa yang disukainya. Semua harus sesuai keinginan penggemar. Ada keterbatasan, ada sisi manusia yang teralienasi, terasing. Apakah dia bahagia? La ya wallahua’lam dan tentu saja bukan urusan saya, tapi saya sedikit yakin kadang-kadang mungkin terbersit setitik kerinduan untuk menjadi bukan siapa-siapa.

Mari kita cari benang merahnya. Bahwa ada satu titik yang sebenarnya ingin dicapai. Titik sederhana, Sebuah kebahagian. Tapi sebelum mencapai titik sederhana itu, tentunya ada multitafsir. Ada persepsi macem-macem tentang itu. Sepertinya kalo saya populer saya akan bahagia, seandainya punya mobil saya pasti senang senantiasa, kemudian kalo saya punya rumah bagus, sepertinya…dan seterusnya. Ada ambisi, ada kerja keras, banting tulang, habis-habisan, bahkan mungkin dengan mengorbankan banyak hal. Hingga suatu saat ketika benar-benar semua sudah ada, akan muncul pertanyaan, sudahkah saya mencapai “titik itu”?

Sepertinya manusia harus melakukan banyak hal dulu, sebelum mencapai titik sederhana itu. Seorang Einstein, untuk mendapatkan sebuah rumusan sederhana E=mc2 mungkin butuh berlembar-lembar kertas dan ratusan percobaan yang gila. Being simple is not easy, katanya. Pengen labih mantep teorinya tanya OM Dante..

Kalo kita, dari hari ke hari, umur ke umur, kita selalu merasa berhadapan dengan masalah yang pelik dan seperti tak bisa dihadapi. Tapi sampai hari ini ternyata semua itu bisa terlewati. Tanpa sadar kita naik kelas. Dan dari waktu ke waktu, semakin banyak yang kita lakukan, pengertian hidup ini sepertinya menuju ke arah menjadi semakin sederhana. Barangkali suatu saat di akhirnya kita emang ditakdirkan untuk menjadi bukan siapa-siapa.

Lalu apakah benar untuk mencapai ujung kesederhanaan harus merumitkan diri terlebih dahulu? Harus ada sedih dulu, harus ada marah, harus ada jengkel, harus ada segala emosi terlebih dahulu baru kita ngerti titik bahagia di sebelah mananya?

Nunggu tua dong?

“Wah capek de……”, kata seorang temen wanita di depan saya yang menggerutu karena ngeliat saya dari tadi ngelamun aja.

Seven things yang bisa buat wanita senang :
1. Dibeliin barang-barang yang bagus-bagus,
2. Dipuja-puji oleh orang yang dicintainya
3. Didengerin dengan penuh perhatian omongan-omongannya
4. Dst
5. Dst
6. dst
7. Wah sori, terusannya sama temen-temen aja ya..saya belum gape urusan ginian…:P

Tuesday, October 02, 2007

hanya begini, seperti ini...saja

Di Bandung ini ada sebuah warung es yang sangat laris. Tempatnya di daerah Tubagus Ismail, terkenal dan bahkan sudah masuk acara kuliner tipi. Sop buah/Es shanghai Fadhilah kalo Anda pengen tau namanya. Warung ini emang luar binasa. Apalagi pas puasa ini, ramenya minta ampyun deh! Saking ramenya, penjualnya bahkan seperti sudah lupa dengan istilah senyum sebagai materi jualannya. Kalo istilah kerennya cool. Tidak perlu senyum, senyum hanya untuk penjual yang tidak berhasil, tidak rame dagangannya. Toh keberuntungan sudah di depan mata dia. Semua pembeli telah menjadi umatnya, para evangelis yang siap membela “mati-matian”, berfatwa ndower kesana kemari tentang barang yang sedang dibelinya (diantre) olehnya.

Saya ini bisa jadi juga termasuk orang yang aneh, sudah antrenya mengular gitu, tapi tetep nekat berambisi untuk dapet es seciduk kecil yang harganya pun ga seru seru amat, cuma 5000 an perak.

“Yess!” Seru salah seorang teteh mahasiswi kece yang sumringah begitu mendapatkan es seciduk itu.

Malah ada yang lebih dramatis lagi ketika dah dapet barangnya, kemudian cerita ke bapak ibunya.

“Mah, aku menang!” , katanya berbinar binar seperti habis dapet lotere satu miliar.

Memang yang dijual hanya sekedar es yang kemudian sering juga disebut sop buah. Sop buah adalah ya buah macem-macem mule dari melon, labu, timun suri, apel, anggur, dll yang diiris-iris besar kemudian dikasih kuah air kelapa, finishingnya dileletin susu putih. Anda membayangkan gimana? Tapi pertanyaannya kenapa merelakan antree berdiri berderet-deret di warung itu?? Apa ngga ada warung laen yang jual? Jawabannya adalah tentu saja ada dan banyak!

“Seperti pemandangan antri sembako jaman G30S aja!”, kata saya yang ternyata ikut antri juga (hehehe).

Sungguh saya sendiri sering heran terutama pada diri sendiri kok mau-maunya ikut dalam “perburuan dan pertarungan” seperti itu. Dan emang, pertarungan kaya gini ternyata adalah sebuah kenikmatan tersendiri. Kadang dia melebihi harga yang harus dibayarkan. Okelah es tadi enak, tapi apakah dengan meminumnya bisa sampe buat kita mabuk kepayang, meregang kesana kemari dan terserang ekstase menjadi sensasi tiada henti? Antrean mengular, penasaran, sensasi bercerita dan “rasa kemenangan” bisa jadi lebih mendominasi fantasi saya daripada kenyataan nantinya.

Saya jadi inget lagi kebiasaan temen saya yang rela berganti-ganti toko hanya untuk memburu obral dan mendapat satu barang murah (padahal harganya juga ga beda-beda jauh). Semangat 45 nya kadang membuat wajah saya terpaksa harus rada berlipet-lipet mengikuti kemana arah langkahnya. Bagi temen saya, bukan di nilai barangnya tapi di kepuasan dan kenikmatan seolah telah menemukan harta langka ato bahkan mungkin memenangkan sebuah pertempuran besar.

Itulah mengapa di puasa ini saya lebih sering lapar mata dalam artian berfantasi yang berlebihan daripada kenyataanya. Fantasi saya tentang rasa es (sop buah) yang begitu luar biasa akan segera menjadi biasa saja ketika bedug magrib tiba. Cukup seteguk, dahaga sudahlah. Ato fantasi seorang perjaka tentang sebuah mahligai pernikahan (hahaha..berkaca diri sendiri) yang akan berbunga-bunga, penuh romantisme dan luar biasa indahnya-seperti provokasi buku. Padahal sepertinya di kenyataan sesudahnya ga gitu gitu amat ya? Sepertinya semua akan menjadi biasa-biasa aja.

Sesuatu yang belum terjadi kadang begitu kita dewa-dewakan, kita lebih-lebihkan. Ngutip istilah dari Prie GS, Kehausan dan kelaparan adalah sesuatu yang disini, begini dan hari ini, sering “cuma” butuh teh panas setegukan. Tetapi ketika ia ditempatkan “disana” terpaksa dibutuhkan sekarung lauk pauk, sebakul nasi, satu truk buah-buahan, 10 hektar lapangan golf, rumah mewah, pulau, dan seterusnya…

Padahal kehausan cuma seperti ini, cuma begini.

Seven things yang boleh/tidak boleh dilakukan/disiapin sebelum berbuka puasa :
1.Kalo pengen rada gretongan, dateng ke mesjid biasanya ada tajil gratis.

2.Makan/minum yang manis-manis tentu saja, kalo punya istri yang manis ya bolehlah diajak ikut serta .

3.Jangan nunggu buka sambil berenang, rada riskan soalnya.

4.Eh sambil nunggu bedug jangan ngerumpi, soalnya takut berisik, bisa bisa ga kedengeran bedug adzannya.

5.Sungguh hindari berbuka puasa di tempat dugem, soalnya sebelum bedug dah banyak yang ngrokok, takut asepnya masuk ke kita, batal duluan deh puasanya.

6.Jangan nyiapin jack daniels, vodka, wine, ato bir buat berbuka soalnya dijamin lebih mahal daripada kolak.

7.Jangan berantem, entar capek (kalo ini ga ada hubungannya deh). “Biariiin!”, kata temen saya.

Friday, September 21, 2007

salam...dan saling menyelamatkan

Kira –kira sudah lewat hampir sebulan saya dihubungi seorang teman seangkatan kuliah dulu. Setelah sekian waktu kita emang tidak pernah terlalu akrab, tidak pernah ber-hai hai ato ber sms ria, kemudian tau-tau dia nelpon..

“ Euy, haloo bos pa kabarnya nih?
“ Oyy, Alhamdulillah baik boss…pije-pije kabarmu?


Tidak banyak basa-basi berlanjut. Dia langsung ke point tujuannya.

“Eh katanya loe udah punya rumah makan 7 cabang ya? ? Gini nih…”

Walah isu bagus (do’a) darimana ini, tapi saya diem dulu tidak mengomentari apapun, saya nunggu penjelasan dia.

Aku mo nawarin sistem nih buat restoranmu…bla bla bla…”, panjang sekali dia cerita.
Temen saya ini disamping bekerja sebagai IT support di perusahaan asuransi juga punya usaha domain dan hosting. Dari ceritanya dia punya 8 server yang dia letakkan di beberapa tempat, sehingga dia meyakinkan bahwa dengan system yang dia tawarkan, “rumah makan saya” yang bercabang-cabang (doanya orang lo) akan lebih terpantau, teratur, ter-efesienkan lah pokoknya. Saya di moment itu hanya jawab dengan kata ya… ya… ya…bagus tuh, oke juga…dst.. Baru setelah semua penjelasannya kelar, saya ngomong ke dia.

hehehe…sori bos, kata siape tuh? Engga kok, ga bener itu! Nanti suatu saat deh moga-moga iya”

Di detik berikutnya saya menangkap sebuah nada kecewa di seberang telpon, setelah pamit telpon ditutup.

Selalu ada kejadian yang menyindir saya. Bahkan yang menimpa diri sendiri. Bener juga kata Tukul, segala yang kita lakukan adalah cermin yang akan selalu memantulkan apa yang ada di diri, apa yang telah dilakukan. Selama yang kita lakukan baik, maka kebaikan itu akan memantul di kita. Dan buruk? Tentu saja.

Kalo inget cerita di atas, saya jadi keinget, seringkali saya ini pun menghubungi teman cuma kalo lagi butuh, kalo sedang memerlukan bantuannya. Lewat dari itu saya jarang sekali ato mungkin malah tidak pernah mengulik-ulik nomernya (padahal teknologi murah seperti sms dah banyak!). Bahkan untuk bersay hai…assalamualaikum pa kabar, semoga semua baik baik aja..dst pun jarang.

Iya..itu emang basa basi, tapi lebih dari itu semua, hai..Assalamualaikum, apa kabar, adalah SALAM. Kata Cak Nun, SALAM adalah janji untuk saling menyelamatkan. Selamat dunia akherat. Mengapa demikian? Agar rahmat (anugerah Tuhan tanpa pilih kasih) bisa menjadi berkah (rahmat yang telah diorganisir, disusun, dan ditata) bagi semua. Aturan, AD/ART, dan lain sebagainya sesungguhnya dibuat dengan tujuan agar rahmat bisa menjelma berkah. Cara agar rahmat menjadi berkah adalah setiap hari kita harus meneguhkan salam. Diucapkan maupun hanya dalam hati. Itulah yang semestinya dilakukan bangsa Indonesia. Presiden mesti salam kepada rakyat. Anak salam pada orangtuanya. Suami mesti salam kepada istri, dst dst. Mungkin tidak harus tiap hari, kita tentukan saja sesuai proporsinya.

Dari sisi bisnis pun ternyata ada benarnya. Teman adalah jejaring rizki, dan network ini bisa menjadi networking (menjadi kata kerja) kalo dijalankan. Akhiran –ing dalam tindakan nyatanya (bagi saya saat ini) adalah memencet tuts hape, dan mulai menghubungi temen-temen saya, mulai bertanya apa kabarnya, bagaimana keluarga, dah punya istri berapa… eh… dah punya anak berapa hehehe…dst. Gambaran sederhana efek salam yang berkelanjutan, kalopun saya bener-bener punya restoran berjumlah ratusan pun, kemudian tiba-tiba teman lama yang tidak pernah ngontak, tidak pernah ber-hai-hai, tidak pernah ber-salam, menjadi sangat ramah, meminta sesuatu kepada saya, apakah saya akan menerimanya begitu saja? Wah ini juga belum pasti, tapi saya yakin intensitas networking akan sangat berpengaruh untuk memperlancar hal-hal seperti ini.

Jadi...
sudahkah kita punya keinginan untuk saling menyelamatkan? Berapa banyak manusia yang sudah kita beri SALAM…hari ini? Orang tua kita?

Thursday, September 20, 2007

seni..dilihat dan dirasain

Untuk memproduksi sebuah karya luarbiasa dibutuhkan usaha yang luar biasa juga (ya iyalah hehe). Walaupun pada akhirnya luarbiasa pun adalah relative, tapi untuk menghasilkannya tetap dibutuhkan detil dan kecermatan tinggi. Ketika tim dari LOKILAKI membuat background untuk game, ada sebuah pertanyaan yang saya sampaikan pada mereka,

Bener nih gambar kaya gini cuma muncul 1 (satu) detik ato jangan –jangan malah kurang dari itu??!
Mereka pun jawab enteng, “Yoi…”
Singkat, padat, dan sempat bikin tidak habis pikir.

Kemudian di kesempatan berikutnya saya coba membandingkan hasilnya dengan “background” yang biasa-biasa saja (terkesan asal jadi). Dan memang, ada sesuatu yang beda.

Ternyata benar juga, seni itu tidak hanya sekedar soal dilihat tapi juga soal dirasakan. Kadang detil itu tidak secara kasat mata terlihat tapi ketika detil itu dihilangkan, maka akan ada sesuatu yang kurang well, kurang mantap.
Sebage informasi, ada satu studio animasi Jepang yang sangat concern dengan detil, kalo diibaratkan music dia ngambil jalur music klasik. Coba lihat perbedaan dengan studio Gibli ini.

Mo cerita dikit tentang game yang kami bikin
Overview game The Rather Perilous Adventures of Nusa Newman ato Petualangan Agak Berbahaya Nusa Newman

Jurnal Nusa yang berisi info tentang konsep meriam diambil oleh Willem Van Besaar dan karena Nusa tidak mau diajak kerjasama, maka dia segera ditendang keluar kapal, dan kemudian terdampar di Pulau Tikus. Dia ingin menyusul Van Besaar yang menuju Batavia untuk mengambil kembali jurnal yang sudah dirampas. Untuk mendapatkan tiket kapal ke Batavia, Nusa harus menyelesaikan terlebih dahulu berbagai misi yang melibatkan banyak orang dan beragam persoalan. Cerita menjadi lebih menarik dengan adanya mini game di beberapa scene dan juga penjelasan hukum-hukum alam/fisika yang disampaikan dengan sederhana tapi mengena.


Buat diliat-liat…ini sebagian snapshot game hasil karya LOKILAKI (jumlah total scene 30 gambar, karakter 20), walopun belum secanggih Studio Gibli, tapi ya lumayan ok lah..dan sebentar lagi Insya44J akan mengguncang Indonesia dengan varian komik dan animasinya hehehe…

cover depan game


Nusa Newman dan Lois D'Impresa di hutan monyet


Nusa Newman dan Cak Nuris di dermaga

Nusa Newman di rumah paranormal Mbah Singo Putih

Tuesday, July 24, 2007

lagu baru



beda sama lagu sebelumnya yang format "acoustic sendirian", kalo lagu ini dibikin bisa untuk format "ngeband"..ini liriknya

pada malam


waktu berputar menjauh
meninggalkan diriku
betapa dunia tlah banyak berubah
tapi mimpi ini terhenti

mungkin tak slalu terjadi
apa yang kuingin
kuhanya bisa mengendapkan perih
sgala yang tak dapat kuraih

dah hanya saat malam
aku melihat hidup
membangun semangat
yang mulai sirna
dan hanya pada malam
aku melihat hidup
merangkai kembali sebentuk cinta

Wednesday, July 18, 2007

psycho!

“Wah yang namanya godaan itu ya, ada aja caranya…”, kata temen saya memulai obrolan.

“heh, emang godaan apaan?” tanya saya.

“Ga tau nih, kenapa godaan yang bertubi-tubi justru dateng sekarang, seminggu ini!” Dan tadi siang sungguh yang paling gila diantara rentetan godaan selama ini! Aku ga habis pikir apa sih yang ada di pikiran wanita itu! Gila, psycho!” nada suaranya mulai meninggi seperti tak percaya dengan apa yang dialaminya.

Saya semakin penasaran denger temen saya ngedumel, “ Lah , apaan sih, godaan, wanita, ga percaya, blablabla, yang jelas dong…”

““Pernah ga ente berhadapan sama orang yang sangat sangat nekat? sesaat temen saya diam sambil menggeleng-geleng kepala. Kemudian dia melanjutkan, “Gini lo…Kamu taulah bentar lagi aku nikah, seminggu lagi coy! Tapi kenapa coba justru di saat saat seperti ini godaan justru dateng bertubi tubi, godaan yang khas menghantui laki laki…Yah wanita!! Apa lagi! Aku pun bingung karena bahkan ga hanya satu! Dan yang lebih gila, ga hanya itu saja!”

“Hehehe…” Saya senyam-senyum sambil nunggu cerita berikutnya. Saya jadi inget cerita temen saya yang lain, suatu saat dia jadi banyak pilihan calon, tapi di saat lain seperti paceklik sepi tak berujung.

Temen saya melanjutkan dengan lebih semangat daripada tadi, ”Yang satu janda, cakep sih hehehe, dulu aku pernah ceritain kan? yang satu dah punya suami, dan terakhir, Counter Service kantor gue, ini nih yang paling gila, psycho! Padahal di hari-hari biasa mereka keliatan jaim, tapi sekarang yang ada malah aku kesel sekaligus ngeri! Bayangin, seminggu sebelum nikah! Kok bisa?!”

“Alah apaan sih…? Langsung aja deh!” Saya jadi penasaran ga sabar denger dia ngedumel.

“Ck ck ck…apa engga gila! Tau ga apa yang diucapin sama si wanita gila itu?

“Weh,ya engga tau!

Temen saya melanjutkan, “Gini katanya, Den, tau ga aku kaget banget pas denger kamu mau nikah secepat ini. Aku tau kalo kamu ngrencanain nikah, tapi ga pernah nyangka kalo secepat ini! Aku jadi bingung seperti ada yang hilang, aku seperti ga bisa nerima kamu jadi milik orang lain, masihkah ada kesempatan buat aku..dan….ini nih bagian yang gilaaa!! Katanya, aku pengin ngerasain kamu sebelum si teteh! Perawanku aku kasih buat kamu aja…Aku rela disuruh apa aja deh. Waktuku tinggal seminggu ini kan, aku janji dalam 4 hari ini aku akan melayani kamu sepuasnya…mau ya? Please…”

“Wah…gendeng, sumpe lo!”

Yah ini sungguh cerita temen saya yang tanggal 22 Juli ini mau menikah. Walopun sudah berkali-kali denger cerita dia tentang ajakan-ajakan “menggoda” kaya gini, tapi untuk yang terakhir ini sungguh yang paling saya ga ngerti. Buat temen-temen yang tinggal di Jakarta ato dimanapun yang katanya “gaul” mungkin ga asing dengan dunia kaya gini. Tapi sungguh bagi saya, dunia Hollywood kaya gini masih saya anggap gendeng, edan ga ketulungan.

Seven things yang bisa meruntuhkan hati laki laki
1. Di awal perjumpaan tentu saja fisik! Hmmm..ada benarnya juga kalo untuk sementara cowo akan milih kepri-bodi-annya

2. Bisa juga dari bahasa tubuh yang luwes, cara bicara yang menarik (“terlihat” smart)

3. Nah yang berikutnya adalah apa isi otaknya. Sekedar kerutan-kerutan ato malah isi yang pliss deh.

4. Kalo ketemu karakter wanita yang membuat laki laki berasa jadi seorang “laki-laki”. Sebuah karakter wanita yang “membutuhkan” kehadiran laki-laki.

5. Level berikutnya adalah “perhatian”. Seorang laki-laki biasanya sering dan sangat tak berdaya dengan hal kaya gini. Nah keplesetnya cowo jadi makhluk yang paling gampang ge er.

6. Laki-laki tuh biasanya seneng banget dipuji, apalagi tentang segala kehebatannya, oleh cewek lagi! Dhog dheng pokokmen! Catetan: makanya mohon jangan mudah mengumbar pujian, entar cowok geer, Anda (wanita) akan repot ndiri hehehe…

7. Yah pokoknya intinya cantik, seksi soleka…huahahha…(Ini prasyarat paling naïf dari temen saya)