belajar dari ronaldo...
Sepakbola adalah kehidupan. Kalimat itu keluar dari mulut seorang Helmi Yahya di salah satu seminar yang kebetulan saya ada disitu sebage pesertanya. Dalam slide-slide yang ditampilkannya itu, dia ngomong panjang lebar tentang visi, strategi, teknik, taktik, dan berbagai kejadian menarik yang bisa terjadi di lapangan. Bermacam ramuan emosi jadi satu. Luapan emaosi ketika seorang striker bisa memasukkan bola ke dalam jala, ketika bola sudah benar-benar di depan gawang tapi seorang striker gagal memasukkan bola, ketika dalam hitungan detik sebuah peluang berbuah gol dan merubah keadaan...ada kemenangan ada kekalahan, ada kemarahan, ada kesabaran, ada sorak dan ada juga kepala yang tertunduk.
Menarik juga pernyataan Helmi Yahya ini..Mungkin benar, sepakbola bukanlah sekedar olahraga permainan yang menghibur, tapi dalam sebuah rentang pemahaman yang lain, sepakbola adalah sebuah miniatur hidup. Karena itulah saya menonton sepakbola.
Saya tertarik dengan salah satu artikel di DETIK.COM tentang Cristiano Ronaldo, pemain Manchester United. Judulnya "Prestasi Dulu, baru Spanyol...Bagi kaum hawa, Ronaldo mungkin terkenal karena tampangnya yang (hmmm cowo banget!!! Katanya lo ini hehehe). Tapi bagi kaum sepakbola, nama ini lah yang saat ini banyak dibicarakan orang karena peran sentralnya membawa MU dalam posisi yang sangat diperhitungkan sampe saat ini. Terancam treble winner!! Walopun sebenernya, saya sendiri ga seneng sama klub ini (Sori ni buat Man U fans club ya hehe), tapi untuk prestasi ya angkat topi bolehlah...
Cristiano Ronaldo tidak ingin pindah dari Manchester United walopun dia sangat ingin bermain di Spanyol dan banyak tawaran dari klub-klub besar lain, mungkin dengan gaji yang lebih besar. Saya kutip deh sedikit kata-katanya “ Suatu hari saya akan tiba di Spanyol, tetapi saya akan membuat PRESTASI dulu di Manchester”. Dalam usia 22 tahun, keluar sebuah keputusan hebat yang timbul dari sebuah karakter. Banyak orang yang yakin, suatu saat dia memang akan menjadi superstar. Di tangan pelatih yang tepat, seorang pemain bola bertalenta akan berkembang sangat luarbiasa. Kondisi ini sangat berbeda dengan Nicholas Anelka, yang bisa jadi hebat juga dalam skill tapi sampe saat ini tidak pernah membuahkan suatu ”PRESTASI”?
Ternyata dalam perjalanan kariernya, Anelka tidak pernah betah di suatu tempat. Disamping dia tidak segera menemukan pelatih yang tepat (faktor keberuntungan di sini nih), bisa jadi dia juga cenderung banyak berkonflik dengan lingkungan, apakah dengan pelatihnya ato dengan pemain lain dalam klub. Anelka pernah diprediksi akan menjadi pemain bintang, tapi sampe sekarang ternyata hal itu tidak pernah terjadi.
Ya sekali lagi, sepakbola adalah kehidupan. Keadaan yang hampir mirip saya dapati di dalam diri eksekutif-eksekutif yang menjadi incaran head hunter. Salah satunya adalah T.P Rahmat yang pernah menjadi CEO Astra dan merupakan sosok panutan eksekutif di Indonesia. Seorang T.P Rahmat sebelum memantapkan diri sebagai seorang entrepreneur, terlebih dahulu membuat prestasi yang sangat gemilang di Astra. Saya sendiri tidak mengenalnya, tapi kalo dilihat secara bukti dari sebuah perusahaan yang bermula di garasi hingga berkembang seperti Astra sekarang ini mau tidak mau harus dikatakan itu adalah sebuah prestasi yang luar biasa. Persistensi bolehlah dijadikan salah satu kata yang mewakili. Dalam bahasa guru-guru saya, istiqomah katanya. Dia bertahan sangat lama, bertahan dengan kegagalan, dengan kemenangan, bertahan dengan kebosanan, bertahan dengan visi yang dia pegang untuk membesarkan Astra, bersetia dengan ide yang sejak awal diyakininya. Tidak heran setelah menjadi pengusaha pun, perusahaannya sekarang ini juga bersinar luar biasa.
Saya sih percaya selalu ada faktor keberuntungan di balik sukses. Ronaldo beruntung berlabuh di tangan pelatih yang tepat, T.P Rahmat beruntung punya paman William Suryajaya dan teman-teman handal, dan seterusnya. Dan ternyata kalo diamati tiap manusia emang punya keberuntungannya ndiri-ndiri. Jadi sepertinya ga enak juga nunggu beruntung, mending jalani aja semua. Selesaikan satu pekerjaan, baru kemudian berpindah ke pekerjaan lain. Membuat prestasi terlebih dahulu, baru berprestasi di tempat yang lain. Siapa tau nanti ada keberuntungan nyelip di tengah jalan...:)
”Eh emang gampang Mas!! Coba kalo gampang, pasti ada jutaan ASTRA deh di Ndonesa ini. Anda berani ga dengan konsekuensinya?”, temen saya nyeletuk.
Saya hanya bisa jawab nyengir sambil garuk garuk kepala deh....












