headerversi2

Friday, September 28, 2007

penghilang stresss!!

kemaren maren ada forward an asik dari seorang temen, dan pasti dah banyak yang dapet ni imel...tapi lumayan buat ngilangin stress...

kalau udah stress atau ngantuk bener di kantor,
take time 7 menit dan matikan telepon anda, ayo ikuti senam ringan ini... gerakan yg betul...
headerversi2
ni ala taichi d ikit ..
sebagai intro n warming up..


headerversi2
tirukan gaya spt ni...
untuk mengendurkan otot bahu dan leher..


headerversi2
wa..wa.. aaaakula pahlawan bertopeng , gerakan tebar pesona

headerversi2
gerak ke kanan kemudian ke kiri.. yiihaaaa....

headerversi2
gerak ke kiri kemudian ke kanan... biar imbang balik in lagi arahnya...

headerversi2
ikuti aja ... jgn banyak comment

headerversi2
ambil kayu / bata pukul kuat kuat di dahi..kalau ga ada boleh pakai setumpuk paper work atau quotation
ini tips untuk menghilangkan ngantuk.. jamin jesplengggggg......


headerversi2
habis i tu buat gerakan tangan dan badan...
buat gaya happy aja.. jgn lupa senyum biar enak di liat....


headerversi2
kemudian goyang2 kaki dan badan ... memperlancar sendi bahu.... namanya goyang rege sebagian...

cik..cik..bum..cik..cik..

headerversi2
buat secara aggresive pula...
jangan peduli apa orang lain bilang.. lepaskan semua bebannnnnn..... "lepas...lepas...lepas...."


headerversi2
lenyap la semua stress... "lenyap....lenyap..."

headerversi2
buat exercise tambahan putar kepala ... " membuang sedikit beban yg tertinggal di kepala"

headerversi2
lihat wajah di cermin
sambil goyang2 n gaya .. cute ...


headerversi2
tahap akhir sekali, tahap manggil hokie..

"hoki...hoki.. lai.... lai....hoki hoki lai.... "

Friday, September 21, 2007

salam...dan saling menyelamatkan

Kira –kira sudah lewat hampir sebulan saya dihubungi seorang teman seangkatan kuliah dulu. Setelah sekian waktu kita emang tidak pernah terlalu akrab, tidak pernah ber-hai hai ato ber sms ria, kemudian tau-tau dia nelpon..

“ Euy, haloo bos pa kabarnya nih?
“ Oyy, Alhamdulillah baik boss…pije-pije kabarmu?


Tidak banyak basa-basi berlanjut. Dia langsung ke point tujuannya.

“Eh katanya loe udah punya rumah makan 7 cabang ya? ? Gini nih…”

Walah isu bagus (do’a) darimana ini, tapi saya diem dulu tidak mengomentari apapun, saya nunggu penjelasan dia.

Aku mo nawarin sistem nih buat restoranmu…bla bla bla…”, panjang sekali dia cerita.
Temen saya ini disamping bekerja sebagai IT support di perusahaan asuransi juga punya usaha domain dan hosting. Dari ceritanya dia punya 8 server yang dia letakkan di beberapa tempat, sehingga dia meyakinkan bahwa dengan system yang dia tawarkan, “rumah makan saya” yang bercabang-cabang (doanya orang lo) akan lebih terpantau, teratur, ter-efesienkan lah pokoknya. Saya di moment itu hanya jawab dengan kata ya… ya… ya…bagus tuh, oke juga…dst.. Baru setelah semua penjelasannya kelar, saya ngomong ke dia.

hehehe…sori bos, kata siape tuh? Engga kok, ga bener itu! Nanti suatu saat deh moga-moga iya”

Di detik berikutnya saya menangkap sebuah nada kecewa di seberang telpon, setelah pamit telpon ditutup.

Selalu ada kejadian yang menyindir saya. Bahkan yang menimpa diri sendiri. Bener juga kata Tukul, segala yang kita lakukan adalah cermin yang akan selalu memantulkan apa yang ada di diri, apa yang telah dilakukan. Selama yang kita lakukan baik, maka kebaikan itu akan memantul di kita. Dan buruk? Tentu saja.

Kalo inget cerita di atas, saya jadi keinget, seringkali saya ini pun menghubungi teman cuma kalo lagi butuh, kalo sedang memerlukan bantuannya. Lewat dari itu saya jarang sekali ato mungkin malah tidak pernah mengulik-ulik nomernya (padahal teknologi murah seperti sms dah banyak!). Bahkan untuk bersay hai…assalamualaikum pa kabar, semoga semua baik baik aja..dst pun jarang.

Iya..itu emang basa basi, tapi lebih dari itu semua, hai..Assalamualaikum, apa kabar, adalah SALAM. Kata Cak Nun, SALAM adalah janji untuk saling menyelamatkan. Selamat dunia akherat. Mengapa demikian? Agar rahmat (anugerah Tuhan tanpa pilih kasih) bisa menjadi berkah (rahmat yang telah diorganisir, disusun, dan ditata) bagi semua. Aturan, AD/ART, dan lain sebagainya sesungguhnya dibuat dengan tujuan agar rahmat bisa menjelma berkah. Cara agar rahmat menjadi berkah adalah setiap hari kita harus meneguhkan salam. Diucapkan maupun hanya dalam hati. Itulah yang semestinya dilakukan bangsa Indonesia. Presiden mesti salam kepada rakyat. Anak salam pada orangtuanya. Suami mesti salam kepada istri, dst dst. Mungkin tidak harus tiap hari, kita tentukan saja sesuai proporsinya.

Dari sisi bisnis pun ternyata ada benarnya. Teman adalah jejaring rizki, dan network ini bisa menjadi networking (menjadi kata kerja) kalo dijalankan. Akhiran –ing dalam tindakan nyatanya (bagi saya saat ini) adalah memencet tuts hape, dan mulai menghubungi temen-temen saya, mulai bertanya apa kabarnya, bagaimana keluarga, dah punya istri berapa… eh… dah punya anak berapa hehehe…dst. Gambaran sederhana efek salam yang berkelanjutan, kalopun saya bener-bener punya restoran berjumlah ratusan pun, kemudian tiba-tiba teman lama yang tidak pernah ngontak, tidak pernah ber-hai-hai, tidak pernah ber-salam, menjadi sangat ramah, meminta sesuatu kepada saya, apakah saya akan menerimanya begitu saja? Wah ini juga belum pasti, tapi saya yakin intensitas networking akan sangat berpengaruh untuk memperlancar hal-hal seperti ini.

Jadi...
sudahkah kita punya keinginan untuk saling menyelamatkan? Berapa banyak manusia yang sudah kita beri SALAM…hari ini? Orang tua kita?

Thursday, September 20, 2007

seni..dilihat dan dirasain

Untuk memproduksi sebuah karya luarbiasa dibutuhkan usaha yang luar biasa juga (ya iyalah hehe). Walaupun pada akhirnya luarbiasa pun adalah relative, tapi untuk menghasilkannya tetap dibutuhkan detil dan kecermatan tinggi. Ketika tim dari LOKILAKI membuat background untuk game, ada sebuah pertanyaan yang saya sampaikan pada mereka,

Bener nih gambar kaya gini cuma muncul 1 (satu) detik ato jangan –jangan malah kurang dari itu??!
Mereka pun jawab enteng, “Yoi…”
Singkat, padat, dan sempat bikin tidak habis pikir.

Kemudian di kesempatan berikutnya saya coba membandingkan hasilnya dengan “background” yang biasa-biasa saja (terkesan asal jadi). Dan memang, ada sesuatu yang beda.

Ternyata benar juga, seni itu tidak hanya sekedar soal dilihat tapi juga soal dirasakan. Kadang detil itu tidak secara kasat mata terlihat tapi ketika detil itu dihilangkan, maka akan ada sesuatu yang kurang well, kurang mantap.
Sebage informasi, ada satu studio animasi Jepang yang sangat concern dengan detil, kalo diibaratkan music dia ngambil jalur music klasik. Coba lihat perbedaan dengan studio Gibli ini.

Mo cerita dikit tentang game yang kami bikin
Overview game The Rather Perilous Adventures of Nusa Newman ato Petualangan Agak Berbahaya Nusa Newman

Jurnal Nusa yang berisi info tentang konsep meriam diambil oleh Willem Van Besaar dan karena Nusa tidak mau diajak kerjasama, maka dia segera ditendang keluar kapal, dan kemudian terdampar di Pulau Tikus. Dia ingin menyusul Van Besaar yang menuju Batavia untuk mengambil kembali jurnal yang sudah dirampas. Untuk mendapatkan tiket kapal ke Batavia, Nusa harus menyelesaikan terlebih dahulu berbagai misi yang melibatkan banyak orang dan beragam persoalan. Cerita menjadi lebih menarik dengan adanya mini game di beberapa scene dan juga penjelasan hukum-hukum alam/fisika yang disampaikan dengan sederhana tapi mengena.


Buat diliat-liat…ini sebagian snapshot game hasil karya LOKILAKI (jumlah total scene 30 gambar, karakter 20), walopun belum secanggih Studio Gibli, tapi ya lumayan ok lah..dan sebentar lagi Insya44J akan mengguncang Indonesia dengan varian komik dan animasinya hehehe…

cover depan game


Nusa Newman dan Lois D'Impresa di hutan monyet


Nusa Newman dan Cak Nuris di dermaga

Nusa Newman di rumah paranormal Mbah Singo Putih

Friday, September 14, 2007

ngeblog lagi...Ramadhan kali ini

Dear all

wah dah lama ga ngeblog ya!! ternyata memulai kembali sama susahnya dengan memulai dari awal. sepertinya butuh energi aktivasi yang lumayan tinggi...tapi intinya horeee bisa ngeblog lagi!! setelah pindahan kantor, setelah nyambung internet lagi, setelah nyelesain produk beta untuk Adventure Game yang kami buat (eh iya doain menang lomba ya...:)...

Setelah ternyata sekarang masuk Ramadhan...
..btw hawanya kok jadi me- Rangga -AADC- yaaa hahaha

Ketika pintu amal dibuka seluas-luasnya
Ketika tiap jengkal langkah menjadi catatan
Tiap detik nafas adalah perhitungan
…yang dilipatgandakan

Ramadhan kali ini…
apa kabar hati?


Berduyun-duyun,
Bershaf-shaf,
Bergerak bersama, bersukacita
Menghidupkan rumah-rumahNya
seperti memendam penuh kerinduan
seperti sebuah kesempatan yang tak mesti datang

Ramadhan kali ini…

Masih begitu lekat…
Sudahkah mulut yang sering menyakiti, beramadhan?
Sudahkah mata ini beramadhan?
Sudahkah tangan ini beramadhan
Sudahkah kaki ini beramadhan…

setelah ramadhan kali ini…
Apa kabar hati?
sudah berapa lama ramadhan terlewati?
sudahkah beramadhan tubuh dan hati ini?

Alhamdulillah…
ah ya…
bibir ini masih sempat basah dengan hamdalah
masih diberi kesempatan
masih diberi kelonggaran
Gusti Allah masih memberi waktu…
Detik demi detik…
memanfaatkan waktu istimewa
untuk merasakan indahnya Ramadhan

Sahur di pagi buta
Menyambut subuh dengan seluruh suka cita
tadarus penuh tunduk
melatih lidah sering bertasbih, mengagungkan asmaNya
keinginan sederhana, mencoba sholat tepat waktu
ada janji suci yang diharapkan, berlomba berkejaran…
Hmmm…yah
Semua ibadah seperti menjadi lebih mudah
Tidakkah ini menjadi kenikmatan yang tidak dirasakan hari-hari lainnya?

Bukankah harusnya saya sennatiasa merindukanNya
Bukankah harusnya saya mencintaiNya
Bukankah harusnya saya membahagiakanNya
kalau kemaren sempat alpa,
Bukankah sekarang saat yang indah untuk memulai itu semua?

Duh Gusti…
Saya mohon ampun...
karena ternyata saya lalu asik dalam kata-kata sendiri
memutar mutar kata
mengindah-indahkan
dan…
tak terasa menenggelamkan
tapi yah..
biarlah..

untuk ibu saya yang juga menjadi kedua orangtua saya
untuk sahabat-sahabat saya semua
untuk semua teman saya
untuk yang dicinta dan Tercinta
siapa saja…

sungguh bukan latah mentang-mentang menjelang ramadhan
karena kali ini,
hanya kesempatan mudah untuk meminta,
sebuah maaf…

dari hati yang paling dalam
maafkan saya lahir batin…

Selamat menjalankan Puasa dengan semangat membara!!


NB : (kata Ustad puasa artinya beda sama shaum)
- buat Cahaya Kebaikan -

Tuesday, July 24, 2007

lagu baru



beda sama lagu sebelumnya yang format "acoustic sendirian", kalo lagu ini dibikin bisa untuk format "ngeband"..ini liriknya

pada malam


waktu berputar menjauh
meninggalkan diriku
betapa dunia tlah banyak berubah
tapi mimpi ini terhenti

mungkin tak slalu terjadi
apa yang kuingin
kuhanya bisa mengendapkan perih
sgala yang tak dapat kuraih

dah hanya saat malam
aku melihat hidup
membangun semangat
yang mulai sirna
dan hanya pada malam
aku melihat hidup
merangkai kembali sebentuk cinta

Wednesday, July 18, 2007

psycho!

“Wah yang namanya godaan itu ya, ada aja caranya…”, kata temen saya memulai obrolan.

“heh, emang godaan apaan?” tanya saya.

“Ga tau nih, kenapa godaan yang bertubi-tubi justru dateng sekarang, seminggu ini!” Dan tadi siang sungguh yang paling gila diantara rentetan godaan selama ini! Aku ga habis pikir apa sih yang ada di pikiran wanita itu! Gila, psycho!” nada suaranya mulai meninggi seperti tak percaya dengan apa yang dialaminya.

Saya semakin penasaran denger temen saya ngedumel, “ Lah , apaan sih, godaan, wanita, ga percaya, blablabla, yang jelas dong…”

““Pernah ga ente berhadapan sama orang yang sangat sangat nekat? sesaat temen saya diam sambil menggeleng-geleng kepala. Kemudian dia melanjutkan, “Gini lo…Kamu taulah bentar lagi aku nikah, seminggu lagi coy! Tapi kenapa coba justru di saat saat seperti ini godaan justru dateng bertubi tubi, godaan yang khas menghantui laki laki…Yah wanita!! Apa lagi! Aku pun bingung karena bahkan ga hanya satu! Dan yang lebih gila, ga hanya itu saja!”

“Hehehe…” Saya senyam-senyum sambil nunggu cerita berikutnya. Saya jadi inget cerita temen saya yang lain, suatu saat dia jadi banyak pilihan calon, tapi di saat lain seperti paceklik sepi tak berujung.

Temen saya melanjutkan dengan lebih semangat daripada tadi, ”Yang satu janda, cakep sih hehehe, dulu aku pernah ceritain kan? yang satu dah punya suami, dan terakhir, Counter Service kantor gue, ini nih yang paling gila, psycho! Padahal di hari-hari biasa mereka keliatan jaim, tapi sekarang yang ada malah aku kesel sekaligus ngeri! Bayangin, seminggu sebelum nikah! Kok bisa?!”

“Alah apaan sih…? Langsung aja deh!” Saya jadi penasaran ga sabar denger dia ngedumel.

“Ck ck ck…apa engga gila! Tau ga apa yang diucapin sama si wanita gila itu?

“Weh,ya engga tau!

Temen saya melanjutkan, “Gini katanya, Den, tau ga aku kaget banget pas denger kamu mau nikah secepat ini. Aku tau kalo kamu ngrencanain nikah, tapi ga pernah nyangka kalo secepat ini! Aku jadi bingung seperti ada yang hilang, aku seperti ga bisa nerima kamu jadi milik orang lain, masihkah ada kesempatan buat aku..dan….ini nih bagian yang gilaaa!! Katanya, aku pengin ngerasain kamu sebelum si teteh! Perawanku aku kasih buat kamu aja…Aku rela disuruh apa aja deh. Waktuku tinggal seminggu ini kan, aku janji dalam 4 hari ini aku akan melayani kamu sepuasnya…mau ya? Please…”

“Wah…gendeng, sumpe lo!”

Yah ini sungguh cerita temen saya yang tanggal 22 Juli ini mau menikah. Walopun sudah berkali-kali denger cerita dia tentang ajakan-ajakan “menggoda” kaya gini, tapi untuk yang terakhir ini sungguh yang paling saya ga ngerti. Buat temen-temen yang tinggal di Jakarta ato dimanapun yang katanya “gaul” mungkin ga asing dengan dunia kaya gini. Tapi sungguh bagi saya, dunia Hollywood kaya gini masih saya anggap gendeng, edan ga ketulungan.

Seven things yang bisa meruntuhkan hati laki laki
1. Di awal perjumpaan tentu saja fisik! Hmmm..ada benarnya juga kalo untuk sementara cowo akan milih kepri-bodi-annya

2. Bisa juga dari bahasa tubuh yang luwes, cara bicara yang menarik (“terlihat” smart)

3. Nah yang berikutnya adalah apa isi otaknya. Sekedar kerutan-kerutan ato malah isi yang pliss deh.

4. Kalo ketemu karakter wanita yang membuat laki laki berasa jadi seorang “laki-laki”. Sebuah karakter wanita yang “membutuhkan” kehadiran laki-laki.

5. Level berikutnya adalah “perhatian”. Seorang laki-laki biasanya sering dan sangat tak berdaya dengan hal kaya gini. Nah keplesetnya cowo jadi makhluk yang paling gampang ge er.

6. Laki-laki tuh biasanya seneng banget dipuji, apalagi tentang segala kehebatannya, oleh cewek lagi! Dhog dheng pokokmen! Catetan: makanya mohon jangan mudah mengumbar pujian, entar cowok geer, Anda (wanita) akan repot ndiri hehehe…

7. Yah pokoknya intinya cantik, seksi soleka…huahahha…(Ini prasyarat paling naïf dari temen saya)

Sunday, July 15, 2007

hobi baru

simbok ini kemaren koment :
eh mas, lagu kopdar-mu itu lhooo...ngekek2 aku dengerinnya. sempet2nya bikin ya? hihihi...

la saya yang dengerin juga ngekek-ngekek sendiri...:D??
warungkopi sebenernya akan lebih asik kalo ada live musicnya...
yah suatu saat kalo diberi umur dan rizki pengin bikin warungkopi ato warung apapun...yang ada live musicnya...

nah...selain nulis di blog ternyata yang njagani warung ini punya hobi lain...

bikin lagu!!

...masih ecek-ecek, bener-bener iseng disela-sela mikirin usaha, cari makan (orderan, hehehe)...en tentu saja masih sangat jauh dari ok, nadanya masih mentah, ga ada aransemen apapun (yang bikin ga bisa soalnya), suaranya fales fales (la bukan arteeeezzz)!

dan yah namanya juga hobi..seneng2 aja, bukan buat profesional2 an.

Ada beberapa lagu yang (kalo mau..) bisa didonlod disini


tengkyu...

Tuesday, July 10, 2007

Masa Kanak-kanak Kita Makin Panjang?

yang bikin kopi : OM DANTE


Musim liburan! Bulan2 tengah tahun, Juni-Juli ini semua yang ngaku masih sekolah pasti dapet jatah libur. Ada kabar menarik seputar liburan ini, setelah kemaren saya nulis tentang bisnis tersier yang merosot, ternyata memang tetep ada bisnis yang panen. Dan bisnis itu bernama bisnis hiburan!...berwisata, panggung pertunjukan, maupun hiburan dalam bentuk individual game(sports, game console-Playstation,Xbox,SEGA-, internet dll)...Betapa prinsip dunia yang berpasang2an emang ga pernah dilanggar:kalo ada yg lagi sepi, berarti sedang ada yg rame...kalo ada yang lagi untung berarti ada yang lagi rugi…betapa semuanya sebenernya adalah tunggal dan tetap.

Ada satu hal yang pengen saya garis bawahi di sini, bisa dikatakan melanda seluruh dunia-alias jadi trend global- yaitu kecenderungan masyarakat dari berbagai umur berlomba2 menuju tempat2 hiburan. Ga ada lagi mainan anak2 atawa mainan orangtua, tapi siapa aja asal suka, kuat bayarnya langsung aja gabung. Di sisi yang lain, para pemasar bisnis hiburan saat inipun sangat paham untuk tidak melakukan segmentasi berdasar usia tapi segmentasi berdasar ketebalan kantong. Udah mahfum.

Khusus masalah eksploitasi ekonomi seperti ini sebenarnya berakar dari sisi diri kita -manusia- sendiri. Dunia psikologi pernah meneliti adanya sisi manusia sebagai hewan yang bermain(tuh disebut hewan(!) ) alias Homo Ludens. Dan bahkan di negeri Belanda tahun 70’an kalo ga salah sempet ada gerakan demonstrasi bertajuk Revolusi Bermain- yang memprotes para penguasa untuk memberikan upah dan waktu kerja yang memungkinkan masyarakatnya bisa melakukan apa yg mereka senangi, sekaligus menyuarakan kepada masyarakat untuk ga sekedar terlibat pada proses produksi alias kegiatan ekonomi saja. Hal ini bisa jadi menjelaskan kenapa bule banyak banget yg piknik di negara kita...karena para bule itu didukung komitmen negara mereka untuk meng-encourage hal-hal tersebut (la penguasa kita boro-boro mikirin warganya yak?)hehehehe....
Setelah revolusi di Belanda itulah kemudian bisnis mainan mendapat momentum, bahkan industri macam Disneyland merebak di seluruh penjuru dunia...yang kalo di Indonesia ya kayak di Dufan sono noh ....

Tentu saja setiap proses selalu ada residu (istilah saya) yang mengganggu. Jujur aja, sekarang ini, kita langsung jadi panik kalo disebut mature, dewasa, apalagi tua(!). Bener ga? Kita berlomba-lomba untuk selalu dianggap muda, dianggap masih segeeerrr, masih kenceng, masih awet. Ini bahkan bisa kita tandai dari perkembangan industri mode dan kecantikan=produk body-treatment yang menjanjikan awet muda, mempertahankan kulit jadi selalu seperti kulit bayi. Yang laki pun punya genre baru=metroseksual. Walah, mahluk macem mana lagi ini? Hal yang kemudian dampak jangka panjangnya belum tentu kita sadar...tapi fakta2 udah mulai muncul....

Ternyata tak hanya fisik ingin menyerupai bayi, seringkali tanpa sadar perilaku kita juga seperti anak-anak untuk menjauhi fungsi-fungsi yang bentuknya bertanggungjawab pada kepentingan orang banyak. Kita jadi egois? Sadar ga bahwa generasi mbah2 kita, yang kita sebut sebagai angkatan ‘45 yang lulusan SD pun bisa jadi presiden?pemimpin-pemimpin revolusi? Sadar ga kita bahwa para beliau yang sekarang udah mulai pensiun, mereka lulusan SMA dan bisa jadi kepala kantor? Sadar ga kita kalo yang sekarang umuran 30 ke atas, S1 dah dapet jatah kerja macem2? Trus, sekarang kita kudu sekolah S2 dulu baru berani nyari kerja?(sampai-sampai ada buku yang sangat provokatif ngasih judul “if you wanna be rich,don’t go to school!”, yang terinspirasi ucapan michael dell yang “menyerang” para lulusan harvard pada saat dirinya disuruh pidato di acara wisudaan di sana...)

Dari segi umur nikah pun menunjukkan kecenderungan yang mirip. Dulu, umur 12 taun dah punya anak sehingga muncul aturan pemilu 18+ atawa yang udah nikah...sekarang? dijawab ndiri ajah...soalnya gw jg blom kunjung laku, hahahahaha...
Trus naik ke parameter berikutnya...dulu 18 taun dah brani jadi pak RT, sekarang, hehehehe umur 30 taun aja blom tau tetangga2 kita itu butuhnya apa aja, karena asik teralienasi di kamar kost2an bareng urusan sendiri, PS3 ato TiVi ...

Apakah kita semakin mundur dalam “menjadi bijaksana”, ketika lingkungan kita semakin ribut, over-informed society? Semua informasi bejibun kita telen mentah mentah, sehingga tidak punya waktu untuk “mengendapkan” semua informasi itu menjadi keunggulan komparatif yang tetep berpegang pada value tertentu?...atau apakah ini salah orang tua saat ini yang punya kecenderungan tidak berani untuk menjadi tua? Sehingga anaknya ga boleh jadi dewasa? Atau sekedar karena keinginan memanjakan dengan memilihkan “jalan tanpa lubang” buat anak2nya?
Pertanyaan berikutnya, benarkah ini bukti kemajuan masyarakat? Apakah “kemajuan” ekonomi harus kita sanjung2 dengan segala tipu muslihatnya?
Ato justru kondisi ini menunjukkan gejala degeneratif? Huuu cepek deh…

Saya akan selalu mengucap terimakasih atas waktu temen2 untuk membaca coret2an ini, yang saya lakukan sambil ngebuka nutup window karena keponakan saya yg umur 2 taun keluar masuk kamar saya sambil memaksa saya ngegame feeding frenzy-nya Game House di laptop saya,

Lihat Paus Oom,”..emang game bisa membius segala umur! :)
Tapi, most of all, happy reading!

Tuesday, July 03, 2007

Pe eR untuk Membesarkan

Review Konsultasi dengan Konsultannya konsultan



Membuat sebuah perusahaan dengan membesarkan perusahaan adalah dua hal yang berbeda. Kalo kita diberi tantangan membuat perusahaan tiap bulan bahkan tanpa modal sendiri sekalipun sepertinya terdengar lebih mudah daripada membesarkan perusahaan yang sudah kita buat. Seorang teman, sekarang kebingungan sendiri karena mempunyai 4 perusahaan (bentuknya PT semua) yang keempat-empatnya masih –katakanlah- proses “kecambah”, dan harus mendapat perlakuan perawatan yang sama. Ini salah satu perusahaannya… Saya sedikit banyak bisa membayangkan proses berdirinya dan keempaat-empatnya itu dia bikin tanpa uang milik sendiri, hmmm…bisa jadi tidak terlau susah. Tapi yang menjadi masalah berikutnya adalah bagaimana merawat, menjaga, dan membesarkan “biji” yang sudah terlanjur ditanam tersebut sehingga jadi sebuah pohon yang kokoh dan menghasilkan kemanfaatan sebesar-besarnya. Ini yang pelik dan tidak mudah. Karena lama kelamaan mumet sendiri, akhirnya teman saya tersebut berencana memerger dua perusahaannya dan melepas satu bidang usahanya. Sepertinya dia menyadari untuk ngerawat “sebuah bayi” perlu fokus!

Iya saya pernah membuat beberapa beberapa jenis bidang usaha, asal gasak, asal keliatan ada pasarnya, asal jalan dulu, dan memang kesananya usaha itu jadi asal-asalan. Saya kehilangan tenaga dan enggak tahu harus digimanain, il fil dan …yahh…tutup deh…Ini nih yang kata orang disebut visi. Saya belum punya visi. Saya sendiri sampe saat ini masih harus banyak belajar dari teman-teman dan lingkungan sekitar tentang bagaimana mengelola sebuah perusahaan.

Anda pernah dengar profesi konsultannya konsultan? Tolong jangan percaya begitu saja kalo menejemen konsultan itu semegah yang diomongkannya. Terlepas bahwa perusahaan konsultan tersebut memiliki klien yang banyak, ternyata menejemen di dalamnya pun kadang nggak bener dan kacow beliaw. Sebuah perusahaan yang memberikan saran dewa tentang sebuah manajemen ternyata kerepotan melihat dirinya sendiri. Dia tetap membutuhkan orang lain untuk mengatakan bahwa sebuah rongga di bawah hidungnya adalah mulut. Dunia ini kadang emang lucu.

Nhaa, Om Ardi yang pernah nulis di blog ini profesinya adalah konsultannya konsultan tersebut. Kalo dia dibranding oleh temen-temenya tukang restrukturisasi. Sulitnya tukang ini sebenernya bukan pada menganalisis ragam masalahnya (profesi wartawan jago kalo ini), tapi justru bagaimana menemukan sebuah titik awal bergerak untuk memutus lingkaran setan dan mengeksekusinya. Tidak pernah makan sekolah manajemen, tapi saya berani jamin Anda akan mendapat penjelasan yang luar biasa enak kalo mendengar saran menejeminem dari dia. Tentu saja belum sehebat Cacuk Sudariyanto yang berhasil menganalisis masalah untuk menentukan titik awal bergerak, mengeksekusi dan bahkan merubah kultur birokratis Telkom hingga saat ini bisa menjadi perusahaan yang kompetitif.

Baru tadi malam saya dapet kuliah dan konsultasi gratis berjam-jam untuk menata sebuah perusahaan. Saya sodorkan pada temen saya itu angka-angka report mulai dari jurnal, buku besar, laba-rugi dan neraca. Awalnya saya hanya bertanya gimana sih nganalisis angka-angka itu? Saya pernah dapet akuntansi saat SMU, tapi sungguh baru tadi malem saya tahu maksud dari angka2 berderet ga jelas itu, dan gimana memperlakukannya…Yah singkat cerita obrolan mengalir sampe akhirnya pertanyaan besarnya bagaimana membuat sebuah SISTEM??

Kata James Gwee 80% perilaku sebuah perusahaan adalah rutin, dan setiap hal yang rutin pasti bisa disistemkan.

“Emang kenapa harus disistemkan? Bukannya selama ini proyek datang adalah karena networking pemiliknya, kenapa jadi harus ada marketing?”, tanya saya.
“Laiya kalo ada PEMILIKNYA! la kalo nggak ada yang pemiliknya gimana? La kalo yang punya sakit gimana? Masa sih usaha jadi harus tutup gara-gara tidak kita tongkrongin! Ayolah udah saatnya bikin usaha yang bukan sekedar warungan”, temen saya ngomong sambil mendelik-delik.

Yah, dan kuliah pun berlanjut sampe larut malam…menjelang pagi...gimana saya harus merumuskan lagi visi misi -yang benar- lalu berlanjut mulai bikin struktur perusahaan yang baku tapi bisa fleksibel (yang ternyata semua hal akarnya mulai dari sini-mulai dari cara penomoran surat, job desk, alur kerja, marketing, standar evaluasi, bonus, gaji, dst), sampe gimana menstrategi harga produk yang kita tawarkan, outsourcing..bla bla bla buueh bueeehhh…

Duh Duhhh…jadi banyak Pee r nihhhh…ternyata saya masih HIJAUUUUU!!

Seven Things yang terjadi pada mahasiswa ketika dapet PE ER dari dosennya
1. Ada yang malemnya bukan ngerjain kadang malah keluyuran ga jelas
2. Mata biasanya mbendul merah (berpasir) karena begadang malam sebelumnya (dan bukan jauh hari)
3. Ato malem2 segera nyari “sang master” (biasanya mahasiswi) buat copy paste
4. Kalo ga sempat malemnya, pagi-pagi banget merelakan dateng nunggu contekan
5. Kalo tiba-tiba rajin, berarti lagi ada cewe se mata kuliah yang lagi diincar (buat alasan biar bisa belajar kelompok)
6. Apaan sih…?
7. Apa Hayooooo…

Friday, June 22, 2007

Entrepreneurship

(trend, pilihan hidup, takdir atau epos?)

yang bikin kopi : DANTE
mas dante kayanya pengin mbagi pengalaman hidupnya nih..:D

Bosen dengan urusan kerjaan, saya baru saja jalan2 ke Gramedia, lumayan, menurunkan tekanan darah, mengurangi kram otak, dan eitsss...tiba-tiba cewe2 manis dengan celana harajuku melintas dan sungguh mereka emang provokatif...(hmmm…wanita)...
trus saya melirik-lirik barang2 yang didisplay..ufh, barang lama cuman teknik majangnya aja yang digeser-geser, ya udah, mending naik ke lantai 3 buat liat-liat buku baru...

Nyampe di lantai 3, ufh, the harajukus udah nangkring di bagian komik...tapi saya tidak tertarik untuk melakukan aksi flirting, saya muterin daerah buku2 best seller, hmm, agak tersentil ama maraknya buku yang bertema encouraging oneself untuk menjadi mandiri....saya emang ga melakukan survei kuantitatif, tapi berdasar feeling aja, kalo ga salah dalam 3 taun terakhir trend buku mulai mengarah pada pembentukan pribadi2 mandiri, yang dibahas mulai dari sisi psikologisnya, seperti serial chicken soup, ampe bagian bisnis sehingga istilah entrepreneurship kayaknya jadi kata yang mulai biasa disebutkan oleh lidah kita...gejala ini juga memunculkan tokoh2 penyebar semangat macam Purdi E. Chandra dengan enterpreneur university-nya(mastrie ga asing tentunya), atau kemudian pembicara2 ulung macam Tung Desem (Mister dahsat :P), Jaya Setiabudi, dan mungkin “nabi” baru Robert T. Kiyosaki yang terkenal dg 4 kuadran (derajat!) kehidupan manusia....

Saya sendiri adalah seorang self-employee kalo berdasar klasifikasinya Mr. Kiyosaki menurut temen yang ngikut pelatihan “rich dad poor dad” terlisensi, jadi saya blom boleh ngaku sbg biz owner-wah!
Memang hebad Mr. Kiyosaki ini, sampe bikin orang lain ga bole menjuluki dirinya sendiri, hehehehehe....

Sedikit cerita kilas balik, saya pengen berbagi cerita bagaimana saya berada di main stream trend buku2 hari ini: bisnis mandiri. Mungkin cerita ini ga jadi heroik kalo gw memulainya tidak cuman dengan modal dengkul. Trigger-nya ketika saya mengikuti sebuah seminar sekitar taun 1999(di mana buku2 mr. Kiyosaki blom diterjemahkan pokoknya, hehehe..), yang isinya adalah sambung rasa beliau para teknokrat yang akhirnya banting setir jadi pedagang (saya ga suka istilah bisnisman, hehehe). Di sana saya kepikiran untuk ga “jual ijasah” alias melamar kesana kemari jadi pegawai setelah lulus ntar, karena menurut formula hitung2an dari para speaker bahwa bangsa yang maju adalah bangsa yang minimal 10% penduduknya adalah pengusaha.. *Ting* saya langsung inspired mau jadi pahlawan Indonesia yang memberi solusi bagi bangsa ini atas penciptaan lapangan kerja..*yuuuhhuuuu*..dan gagasan ini memaksa diriku untuk menjadikan bisnis mandiri sebagai wacana pilihan jalan hidup pasca menyelesaikan kuliah.

Lalu cerita berlanjut, studi tetep gw lanjutkan, alhamdulillah tetep banyak A-nya, trus penelitian sempet didaftarkeun dapet paten, lalu di ruang sidang sarjana para penguji saya menawarkan opsi untuk melanjutkan studi lagi sekaligus sukur2 bisa melanjutkan penelitianku..tapi ceuk urang (kata saya), “ngga pak, saya mau nyari duit, negara menunggu saya segera berkarya,”ciee....*plok-plok-plok-plok-plok*....

Setelah semua seremonial kampus selesai, baru saya sadar bahwa menjalani wacana usaha mandiri ga gampang, bahkan setengahnya mustahil bagi saya yang sekolah saja butuh beasiswa karena saya memang ngga datang dari keluarga yang berlebihan secara materi, dan PNS, bukan pedagang...Mau mulai dari mana? Modalku apa? Lalu sempat saya menyerah dengan gagasan saya untuk tidak menjual ijasah, sehingga saya mulai nglamar-nglamar pekerjaan, dan *dhuss* setelah menghadiri interview selalu jadi kandidat terbaik, tapi entah kenapa selalu ada halangan di tahap terakhir..entah telat, entah gagal medical checkup, entah ga punya duit pas ada panggilan akhir(!), akhirnya saya frustasi....sampai saya bertemu dengan teman2 yang lebih tidak beruntung dalam hitung2an kesempatan dan capaian. Di sinilah saya memberanikan berkolaborasi dengan mereka di sebuah kesempatan memasuki dunia adu cepat kendaraan. Ternyata kami bisa membuat sebuah capaian-yang menurut saya- luar biasa, kami berhasil menjadi team implementasi sebuah standar nasional baru soal pengukuran waktu. Kami harus menentang para penguasa dunia balap Indonesia yang menikmati status quo standar lama...uphhh, kepanjangen kalo diceritain detailnya di sini...

Tapi dari pencapian itu membuat saya sadar, saya sudah maksimal di dunia balap dan saya masih punya Pe eR terhadap diri saya sendiri tentang bagaimana menjadi mandiri secara karya....keluar saya dari dunia hura-hura adu cepat, saya beruntung bertemu dengan seorang pedagang yang mengajarkan beberapa tips bisnis bagi pemula yang Nol Besar seperti saya, “business is all about trust building”, “duit itu cuma catetan,” “kalau mau bisa renang ya harus berani basah alias nyemplung, jangan cuman main di pinggiran kolam...itu cara nglakoni bisnis,” dan lain-lain...makasih oom dah “menampar” saya biar melek............

Cerita berikutnya saya dagang kaos...alhamdulillah, sempat mengguncang pasar tshirt pesanan di Batam..tapi lagi-lagi karena pemula, kami ga sadar bagaimana mempertahankan market...ga paham segmentasi, branding, kelewatan momentum, modal yang belom sempat ngumpul, dan diserang dengan persaingan begitu banyak pelaku, bisnis itu akhirnya hanya bertahan 2 tahun....

Lalu banting setir bisnis sekitar graphic design, berpartner dengan sahabat terbaik saya(hobinya fotografi, kalo mau liat foto2nya ada di www.flickr.com/photos/yellowsunday, hehehe)....pas pindah jalur inilah mulai deket dan ngobrol sama mastrie(biar blogger yang lain ngerti, bos)..ceritanya sama, sempat menguasai pasar, menjadi trend setter, tapi karena terbatas pemahaman tentang karakter pasar dan menejemen SDM, lewatlah modal partner-an yang puluhan juta itu...wah, padahal itu adalah amunisi terakhir... setelah dengan darah, keringat dan air mata dibangun selama 3 tahun, ternyata malah muncul betrayal dari dalam tim... lalu saya sempet limbung dan hampir aja putus asa, sampai saya memutuskan sebulan penuh liburan di Bali, ga kerja, hanya bersenang-senang bareng temen-temen baru dari manca(sssttt...ini karena ada subsidi liburan dari teman), dan membiarkan bisnis saya menuju satu kepastian: kebangkrutan berikutnya......

Di Bali saya banyak merenung....pokoknya ketika temen2 sedang asik motret2 objek wisata dan ngobrol sama pemandu2nya, saya biasanya menyendiri..dari aksi menyendiri itulah saya seperti sedang meditasi dan mencoba menemukan jawaban2 atas semua hal yang saya alami.

Di perenungan, awalnya saya protes sama yang “bikin skenario” atas hidup saya (Alhamdulillah, saya masih memegang keyakinan saya bahwa hidup ini berjalan bukan sekedar kehendak perut kita, tapi ada Invisible hand dengan Divina Comedia-nya mengatur jalan kita), kenapa saya diberi jalan yang beratnya minta ampun..saat temen2 saya udah mulai panen, saya malah bangkrut....Lalu saya dengan PeDenya “berhitung” dengan “beliau”...”Ya Gusti junjungan saya, saya itu memulai bisnis ini dengan niatan baik, mbuka lapangan kerja, untuk membuktikan janjiMu bahwa rejeki itu datang dari 8 penjuru arahMu(sukur2 termasuk pahlawan bangsa ini..)..saya bisnis itu Insya Allah ndak pernah melanggar hak2 temen2 yang mbantu saya-kalaupun pernah saya minta maaf dan muga2 itu bukan dengan kesengajaan-...trus saya bisnis itu ya udah nyoba pake ilmu, ga sekedar grudak gruduk...tapi kok ya diuji sampe titik yang sekarang.....mbok saya diberi kemudahan dalam nglakoni ini semua....” *dhuss* pokoke saya ngerasa ga tau harus ngapain setelah ini semua...kecuali satu...pulang dari Bali saya berketetapan apapun caranya saya harus bisa makan dengan otak dan keringat saya sendiri...

Yah lagi-lagi, keberuntungan masih selalu hadir di sela-sela kerja sporadis saya (karena masih berani menolak lamaran beberapa rekan untuk jadi menejer di beberapa tempat), dan yang menurut saya paling penting adalah karena orang-orang terutama inner circle masih mempercayai saya dan masih memberi semangat dan kesempatan, “Dan, kamu baru saja melewati kilometer pertama dari sebuah kejuaraan lari 10-K, dan setelah finish entar, ente masih kudu ngikuti kejuaraan-kejuaraan berikutnya,”(thx, pep) ...singkat cerita, saya berhasil mendirikan bisnis saya dengan modal duit sisa beberapa rupiah, saya sukses mengekskalasi omzetnya jadi beberapa ratus kalinya di tahun ke dua, walau saya pun masih punya kewajiban harus membayar hutang2 saya masa lalu, jadi saya masih tetep harus banyak “puasa” hehehe...dan saya lakoni semua itu hari ini dan muga2 dagangan yang sekarang seterusnya awet.....

Nah, sebenernya dari titik inilah kemudian saya cukup heran ketika baru saja kemaren, tiba-tiba beberapa temen(herannya lagi kok ya waktunya berdekatan, seperti janjian...) datang dan meminta “petunjuk”, “kalo gw keluar dari kerjaan gw sekarang, loe mau ngajarin gw bisnis?” karena saya tau persis betapa yang saya lakoni ini sangat tidak populer bagi para mertua...(karena saya dan mastrie pernah punya pengalaman sama soal calon mertua...hahahahaha...)ketika tingkat ketidakpastiannya sangat tinggi, resiko yang lumayan bikin adrenalin memuncak eh, kok malah pada mau ngikut.....

Saya sempet tanya, “emang bukannya enak bergaji puluhan juta sebulan, ga nanggung resiko macem2, di mana2 dapet garansi dan jaminan....” dan lebih mengejutkan lagi adalah jawaban mereka yg macem2 tapi kurang lebih ada persamaannya, ”kayaknya kamu memilih jalan yang gue banget”, whatever..... saya belum tahu kelanjutan dari obrolan sama temen2 di atas, tapi saya cuman mau kembali mengomentari buku-buku baru itu dan bertanya pada temen-temen yang baca tulisan saya ini dan kepikiran untuk mandiri, sama kayak temen-temen saya tadi:
“....so, masih pengen jadi entrepreneur?”

“Only those who can see the invisible can do the impossible” (makasih, mas Jaya)

Wednesday, June 20, 2007

BULAN JUNI, SAATNYA BELI BARANG MURAH!

(Pendidikan, tanggung jawab siapa?)

yang bikin kopi : DANTE


Terimakasih buat mastrie, yang dengan senang hati menawarkan sepojok ruang di warungkopi-nya buat tempat berbagi ide. Saya memilih mengambil porsi di kolom dengan lodhong yang lain, jadi ntar kalo ketahuan ga enak, tinggal ga usah dipesen lagi aja ama yang punya warung, begitu mas trie?

Trus sebagai tulisan perdana(muga2 juga bukan yang terakhir) :D saya coba nulis hal yang sudah sehari-hari menjadi sebuah topik di masyarakat kita. Saya mau mencolek temen2 blogger dengan fenomena di sekitar bulan Juni ini dan beberapa saat ke depan.

Bagi rekan2 yang sudah punya anak apalagi usia sekolah, atau kalaupun belum-seperti saya-, ya setidaknya mulai merasakan kiri kanan kita, betapa para orangtua mulai nampak sibuk untuk ancang2 urusan mencarikan sekolah. Rumpian di sekitar kita akan berkisar tentang tahun ajaran depan ke mana anak2 akan sekolah. TK yang bonafid mana? SD favorit mana? SMP terbaik di mana? SMU dengan reputasi terjaga yang mana? Lalu ujung2nya, “wah, kudu mulai membedah tabungan nih…”..mungkin terdengar naïf, ataupun terlalu remeh temeh bagi yang tidak melakoninya, tapi setidaknya akan ada golongan yang mengeluh berat dalam masa seperti ini, yaitu bagi para pelaku perdagangan terutama komoditas consumer goods sekunder karena mereka akan langsung paham imbasnya:omzet penjualan akan anjlok drastis!

Alasannya sangat klasik:duitnya buat nyekolahin anak, bukan buat barang yang aneh2!…nah itu bagi yang punya duit, bagi yang ngga punya duit, maka berlomba2lah nyari pinjaman, utang kiri-kanan, gadaiin macem2, jual barang macem2 mulai mobil, gadget, sampai kambing, bahkan tanah warisan! Sehingga, sebenernya kalo mau dapetin barang murah-terutama 2nd hand-an di Indonesia, tunggulah bulan2 ini(bukan pada waktu deket lebaran, catet!)
Tapi selain bulan Juni-Agustus adalah saatnya rajin baca iklan baris untuk dapat barang2 dengan status DIJUAL CEPAT: BU(butuh uang-pen.), hal ini sebenernya juga membuat saya miris.

Kenapa? Karena artinya sebagian masyarakat kita sangatlah kewalahan dengan biaya pendidikan kita akhir-akhir ini. Dan fenomena tahun ajaran baru ini menghebat pasca pemerintah kita malah mencoba melepaskan diri dari tanggung jawab mencerdaskan bangsanya sendiri setidaknya dengan banyak mengeluarkan kebijakan atas pendidikan yg diswastanisasi, termasuk perguruan tinggi negeri yg sekarang statusnya jadi BHMN.
Sebagai sebuah negara, harusnya pemerintah dan para politikus yang berebut kursi di senayan berani berinvestasi pada kualitas SDM yang kompetitif, shg rakyat seharusnya mendapat kompetisi yang seimbang sehingga negara ini selalu mempunyai stock putra-putri terbaik yang siap membela asset negara ini menghadapi tantangan jaman. Bagaimana inti membentuk kompetisi yang seimbang? Akses ke pendidikan yang relatif setara untuk semua kelas masyarakat jawabannhya.

Dari sini kemudian muncul kontradiksi yang mengkhawatirkan di dunia pendidikan kita: masyarakat kita butuh sebuah sarana pendidikan yang memadai agar mereka punya bekal untuk bersaing mendapatkan penghidupan yang layak. Tapi di sisi yang lain, biaya untuk mendapatkan pendidikan begitu membebani leher…(bukan hal yg baru sekarang kalo denger berita orang menjerat lehernya sendiri gara2 biaya sekolah, ga cuma bapaknya tapi bahkan bocahnya sendiri-dan ini bukan sebuah peribahasa!).

Kita sedikit bandingkan ama China yang relatif maju di segala bidang, padahal UMRnya lebih bagus Indonesia secara nominal(sekitar 400rb/bln)?mengapa mereka bisa?karena di sana negara sangat berkomitmen terhadap pendidikan warga negaranya. Pendidikan boleh diakses oleh siapa saja yang emang punya bakat alias beasiswa gratis sepenuhnya. Berbakat olahraga ya masuk ke pendidikan olahraga dan jadi atlet…berbakat matematika ya dapet pendidikan matematika dan jawara olimpiade matematika(untung di Indonesia masih punya Yohannes Surya, shg tim olimpiade fisika Indonesia masih bisa bicara di tingkat internasional-tapi lagi2 ini bukan komitmen Negara!-)

Blom lagi kalo kita membandingkan capaian bangsa kita ama Vietnam..sedih dah kita (harusnya…). Negara yang baru kemaren terbebas dari perang saudara dan terlepas dari aksi rambo-rambo Amerika ini ternyata sudah mulai menguasai bibit2 tanaman unggulan yang dipamerkan peserta pameran agrobisnis nasional di Soropadan Expo-sebuah terminal agrobisnis di Jawa tengah yang dibuka presiden SBY (kebetulan saya datang dan yang kembali disayangkan,selainnya vietnam dikuasai bibit dari thailand!) Ke mana penelitian bangsa ini?

Ngobrolin gini emang bikin 50+50, alias Cepek deeeehhhhh!!!!....

Trus kemana aja kita?ngapain aja kita sebagai warga negara? Apakah emang kita cuman mau menjalani ini semua dengan berpolitik diam lalu memaafkan diri kita dengan alasan2 sekitar “sibuk cari duit biar bisa sekolahin anak2 kita dengan baik”, ataukah kita bisa mulai dari sekarang untuk bersikap proporsional dan selalu mengusahakan agar ada Indonesia yang lebih baik? Bisakah kita tidak hanya reaktif pada hal-hal yang langsung menghantam kita(seperti seandainya kita tinggal di Meruya-Jakarta hari ini)..tapi mencoba menjadi “benar” di setiap langkah kita, menghayati setiap hak dan kewajiban kita, memilih pemimpin tidak dengan asal2an alias tidak sekedar karena kekayaannya, dan tidak mencoba mengambil yang bukan hak kita…

seven things? Ah, enggak.......

Wallahualam....
Salam perkenalan,
Dante

Friday, June 15, 2007

mulutku harimauku...


Dalam sebuah obrolan santai di warung kopi, temen saya pernah mewanti-wanti saya dengan pepatah yang bunyinya “mulutmu harimaumu”. Dalam bayangan saya muncul pertanyaan seganas dan semenyeramkan itukah mulut saya? Yah walopun lebar dan sedikit ndower tapi rasa-rasanya sih mulut ini ga pernah saya pake buat menerkam orang lain deh (rasa-rasanya!).

Dengan mulut saya ini, rasa-rasanya saya ga pernah nipu orang lain, rasa-rasanya saya ga pernah ngejek orang lain, rasa-rasanya saya ga pernah nyakitin orang laen, rasa-rasanya saya ga pernah berjanji-janji palsu, rasa-rasanya saya adalah orang yang hampir selalu baik dan benar seperti yang saya ucapin dulu waktu masih sering Pramuka. Yah rasa-rasanya…!

Tapi kemaren, skak mat!
Ah kamu suka janji-janji palsu sih! Kemaren katanya mau kesini eh taunya ga jadi, kemaren maren katanya mau nelpon eh udah ditungguin ga jadi juga. Pastinya sih hal-hal lain bakal kaya gini juga. Lama-lama capek juga deh denger janji-janji palsu!

Wakkkzz!
Kalo itu diucapkan di depan mata saya mungkin dia akan langsung ngeliat wajah saya yang seketika berubah jadi seperti kepiting rebus, jelek mbladhuzz. Tapi untungnya dia di seberang telepon, jadi saya sempatkan berdalih dengan “mulut saya”. Bla bla bla bli bli bli….mulut saya monyor monyor kesana kemari menari-nari mencari pembenaran. Dan saya yakin semua celotehan saya itu tetep tidak merubah penilaiannya terhadap saya. Walaupun dia mesam mesem tapi teep aja saya ngutuk diri sendiri! “Rasa-rasanya” saya ga pernah berjanji-janji palsu deh. Janji palsu kan dosa? Bukannya itu salah satu tanda orang munafik? Dan katanya orang munafik itu akan dimasukkan di neraka jahanam? Pesan yang pernah saya denger dari guru ngaji waktu masih kecil dulu terus terngiang-ngiang jelas di kepala saya. Tapi kenyataannya berapa banyak kemunafikan yang sudah keluar dari mulut saya ini? Berapa orang yang sudah saya kata-katai, berapa hati yang sudah lukai? Padahal katanya kalo hati dah luka, susah sembuhnya…Wah ngeri saya…

Karena “rasa-rasanya” saya benar, adalah subjektifitas saya sendiri. Walaupun subjektifitas yang tepat sasaran sesekali perlu untuk menumbuhkan kreatifitas, tapi seringya justru salah penempatan. Saya lebih sering berubah menjadi makhluk yang sangat egois untuk “rasa-rasanya” jadi seorang yang selalu benar dalam banyak situasi, yang lain salah. Dalam hal ini saya setuju kata AA Gym, “Bisa jadi saya benar, orang lain belum tentu juga salah, ato orang lain salah belum tentu saya benar, dst. Intinya dalam kenyataan banyak banget peluang ketidaktentuannya, kebelumpastiannya (bahasanya itu lo..:P)

Yang lebih parah , saya sering menggunakan privilege “manusia bisa khilaf” dengan seenak udel saya sendiri, sesering mungkin.

” Wah emang udelmu sering kamu cicipin apa? Emang bener enak?”
“Cicipin gundulmu itu yang aku gigitin!”

La iya, tenyata saya kadang butuh pembenaran untuk setiap kejahatan saya, baik disengaja maupun tidak disengaja. Walopun mungkin tidak merubah catatan di Lauh Mahfuz sana, tapi dengan sedikit pembenaran entah kenapa saya jadi bisa tetep survive. Saya jadi tidak terlalu larut dengan rasa bersalah tak berkesudahan. Iya saya salah, waktu itu saya khilaf, dan saya ga mau terulang lagi.
Saya jadi lebih optimis menjalani hidup, jadi tidak putus asa, dan saya masih merasa Gusti Allah ngasih kesempatan, ngasih waktu walo sedikit buat memperbaiki diri.

Bahwa saya harus hati-hati dengan mulut ini sepertinya akan indah kalo jadi bahan materi hidup saya. Karena mulut saya ini rupanya makhluk kanibal yang bisa berubah lebih ganas dari harimau yang bahkan tidak memakan anaknya sendiri (kecuali harimau murtad kali ya). Mulut ini kalo ga dijaga dia bisa menerkam siapa saja, apa saja tak terkecuali temen terdekat ato bahkan keluarga sendiri.

Kata temen saya, “ Ya udah ganti aja pepatahnya, Mulutmu kanibalmu”.

NB: Makasih buat “temen berarti” saya yang selalu ngingetin dengan caraya sendiri. Maafin aku yah. You’re amazing nice gal!!

Seven Things yang diucapkan laki-laki ketika “menghindar janji” dengan pacarnya :
1. Sayang, sebenernya aku bener-bener pengin jalan ama kamu,tapi mamaku minta dianterin nih! (…hati-hati dengan laki laki seperti ini, lebih baik cross check langsung ke mamanya-kalo berani)

2. Duh say, badanku lagi ga enak nih, kepala berat banget, bawaannya lemes aja (..hati-hati coba liat program2 acara tipi Anda, ada ga yang lagi nyiarin bola?)

3. Sori nih, kerjaan lagi numpuk, dedlen mepeeett (mending cek setengah jam kemudian, kalo hapenya mati bisa jadi dia serius, tapi kalo masi hidup berarti…co anda yang bodo!)

4. Wah aku besok UTS nih, kayanya ga bisa nganter belanja deh. (mending cek transkrip nilai pacar Anda, kalo nilainya “baik2 saja” jelas ini cuma alasan, kalo jelek…segera putusin mumpung punya alasan hehehe)

5. Wah motornya lagi dipinjem omku nih, lama deh kayanya…(telp lagi-(jgn ke hape) seperempat jam kemudian. Pokoknya jangan kasih dia kesempatan bener2 tidur)

6. Duh maaf sayang, aku lagi ada perlu nih sama temen-temen kantor (sebaiknya pastikan Anda segera tahu siapa “temen-temen” ato “temin” yang dia maksud)

7. Wah mobilnya lagi masuk bengkel nih! (nah nah.. kalo ini alasan klasik co kere, terserah Anda, mau diterusin apa engga…)

Wednesday, June 06, 2007

miskin ato dimiskinkan??

Saya tidak terlalu inget kapan terakhir kali maen ke Depok, tapi saya sempat liat satu poster besar yang iisinya akan ada pesta besar berbau Jepang. Code Dressnya adalah serba Harajuku (sekedar ceritanya saya baca disini), semua orang diharuskan memakai ato membawa atribut-atribut yang berbau Jepang. Iya! Memang luar biasa! Budaya di satu negara ternyata bisa begitu dibangga-banggakan di negara orang lain. Budaya Jepang mau ga mau udah bisa membius ribuan orang di suatu negara (ndonesa) sehingga “menjadi” seolah olah bangsa Jepang.

Kecintaan dan kekaguman terhadap sesuatu pengaruhnya emang luar biasa. Jepang saat ini ada dimana-mana. Jepang disana, disini, di tubuh Anda, di tubuh saya. Karena bahkan “hanya” sekedar atribut tubuh pun ternyata bisa bikin tergila gila. Pakaian atopun celana mungkin barang terdekat setelah panca indera dan udel saya, sekarang pun dah Jepang ato Amrik punya nyaris Cina. “Iya lo, saya seneng bener sama barang-barang yang serba luar negeri, keliatannya lebih keren en modern gitu loh!” bebas en sah aja, badan-badan gua ini! Dan emang ga akan ada yang mencibir, malah mungkin memuji.
kok bisa ya? Apakah kita emang ga punya satupun hasil budaya yang bisa dibanggakan? Apa kita emang ga punya budaya apa-apa? Kalopun ada, apakah emang budaya kita ini begitu lemahnya hingga tak terdeteksi dan ga pantas dibanggakan oleh kita-kita?
Jepang barangkali punya dasar budaya yang sangat kuat. James Clavell dengan buku SHOGUN nya bercerita, saat Jepang udah tau budaya mandi terutama kaum samurai, orang bule belum kenal. Orang Jepang sadar dan memandang bahwa mandi adalah nikmat yang diberikan dewa kepada mereka. Mandi adalah ritual untuk menjaga kebersihan agar mereka bisa bersatu dengan dewa (manunggaling kawula gusti). La bahkan orang bule pun cebok menggunakan tissue (ironisnya ini jadi standar hotel-hotel kita, kadang ga ada airnya). Sampe budaya/upacara minum teh pun di Jepang diperhatikan benar (cha-no-yu). Mulai dari mempersiapkan bubuk teh, pemilihan porselin untuk minum, api untuk memanaskan teh tersebut (arang tidak disebar rata tapi dibentuk seperti pyramid), dst. Mereka percaya untuk memperoleh citarasa tertentu harus melalui ritual tertentu.

Memang mereka punya budaya yang luar biasa. Tapi Indonesia sebenernya juga punya kompleksitas budaya yang ga kalah dengan Jepang. Kalo Jepang punya peso besar seperti katana atopun samurai, Ndonesa juga punya macem-macem peso dari berbage daerah, salah satunya yaitu peso berlekuk seksi, KERIS. Bukan sekedar sebuah senjata klenik tapi bagi saya keris adalah karya seni yang luar biasa. Sebuah hasil karya yang membutuhkan olah rasa, ketekunan, konsistensi, dan tentu saja teknologi tinggi. Awalnya adalah lempengan logam yang ditempa dengan pembakaran tinggi, tapi tidak sembarang tinggi karena dibutuhkan kondisi logam tertentu agar bisa dilipat-lipat. Kalo anak mesin bilang High Combustion. Kalo terlalu panas logam bisa leleh, kurang panas ga bisa dilipat. Konsep ini dijaman dulu adalah teknologi tinggi, logam harus dibakar dengan titik leleh tertentu, ditempa kemudian dilipat, ditempa lagi lalu dilipat lagi, beratus-ratus kali.

Tapi seperti biasa, yang terjadi kemudian adalah bahkan keris sendiri ga sepopuler laptop ato IPOD. Bukankah sebenernya dua hal itu sama? Output puncak dari peradaban adalah teknologi, dan kita udah punya itu sejak dulu. Borobudur adalah teknlogi tinggi yang saya sendiri susah membayangkan gimana cara membuatnya, menyusun kemudian menyatukan batu-batu itu, dst. Tapi saat ini bahkan saya ga kenal sama budaya sendiri. saya yang sekarang adalah orang Indonesia yang pemalu, yang selain miskin ekonominya juga miskin budayanya.

Ato di miskin-kan? Mungkinkah ada upaya terstruktur menjauhkan kita dari budaya kita sendiri? Agar kita malu dengan budaya kita sendiri? Agar kita lebih bangga kalo berbau british? Ato jepangish? Ato sembarang budaya yang saat ini masuk ga terbendung?

Seven things yang ada di otak konsipratifnya :
1. Semakin orang fanatik dengan budayanya sendiri maka tingkat resistensinya makin tinggi

2. Hal ini akan membuat bangsa lain sulit nanam pengaruhnya (politik, sosial, terspesialnya ekonomi) ke bangsa tersebut

3. Tentu saja ini ga akan dibiarkan terjadi untuk bangsa seperti Indonesia yang dilihat dari sudut manapun sangat strategis. Letak gepgrafis (jalur perdagangan strategis), orangnya buanyak (roma irama kayanya harus merevisi 180 jutanya jadi 250 jutaan sekarang), potensi alam yang melimpah ruah (tau ga sembarang2 indonesia ni punya, dari tusuk gigi sampe uranium), potensi budayanya dst dst… habis habisan deh pokoknya!

4. Dengan potensi itu tentu saja indonesia ga akan dibiarkan berkembang. Indonesia ga akan pernah dibiarkan kuat.

5. Mulai dari beasiswa untuk mendanai para intelektual yang dicekoki prinsip prinsip ekonomi berpihak pada capital bukan pada kepentingan orang banyak. Intinya biar negara-negara dunia ketiga tidak punya basis kuat, jadi “dibuat kesan” membutuhkan uang sebanyak-banyaknya dari pinjaman luarnegeri (wah kepanjangan, lebih jauhlagi baca deh economic hitman).

6. Pokoke gimana caranya Indonesia bisa hancur dengan kebodohan mereka sendiri gitu deh.

7. Yah ujung-ujunya selalu kepentingan capital, kepentingan ekonomi.

Tuesday, May 29, 2007

Hiburan Negeri - Cinta Bilang Benci

Selalu menjengkelkan tapi dinantikan...

“Rocker Juga Manusia!punya rasa punya hati, jangan samakan dengan pisau belati!!

Seurieus harusnya dapet royalty banyak sekali atas kalimat mereka yang hingga saat ini tetap aktuil dan mau tidak mau telah menjadi slogan yang sangat fenomenal di negeri tercinta inih. “Rocker Juga Manusia!” Dari kalimat inilah kemudian lahir beranak pinak frasa-frasa lain bernada sama yang mungkin sering juga kita ucapkan. Hingga yang paling hangat dan sedang rame dibicarain di kalangan elite kite saat ini yaitu Presiden juga Rocker..eh ..Presiden juga Manusia ding..

Saya sebenernya ga pengin latah ngobrolin dunia fulitik di warungkupi ini, tapi sinetrun elite kite sampe ini hari lama kelamaan menjadi sangat menarik dan saya sedikit tergoda deh.

Liat tipi tentang dunia fulitik baru2 ini saya sempat misuh, gemes, jengkel sekaligus kemudian senyum2 sendiri karena perilaku saya ini mirip bener sama ibu saya pas nonton inpoteinmen ato sinetrun. Bedanya, kalo ibu saya jengkel dengan jahatnya tokoh2 antagonis di sentrun itu tapi mereka selalu tergoda dan penasaran untuk terus menontonnya. Ngatai-ngatai artis yang seneng cerai, gonta ganti pasangan dst, tapi ternyata berita tentang segala yang berhubungan dengan itu malah selalu dipanteng.

Karena emang saya dan ibu saya dlm hal ini mirip banget. Saya jengkel sama elite2 yang sibuk merekayasa kuasa, memperkaya diri sendiri ga peduli sama orang lain, yang selalu gelut kerengan menang-menangan, padahal rakyat masih bla bla bla… Tapi “aneh bin ajaib” (kata pak SBY lo), saya kok tetep seneng dan apa ya seperti “terhibur”?
...sepertinya iya! Seperti halnya sinetrun, dunia seleb ato dunia gemerlap lain, Dunia politik bisa jadi adalah dunia yang juga sangat menghibur, entertaining. Dan para pelakunya juga diberi titel selebritis. Dunia yang penuh glamour, yang gebyar, yang penuh mimpi. Nah disinilah menariknya, saya ni seneng liat inpoteinmen karena acara itu nampilin dunia glamour mimpi saya, dunia di luar realita saya. Dunia yang serba hebat,s erba cakep, serba kaya, serba ketiwi ketawa. Dengan ngeliat dunia “selebritis”, saya jadi punya ladang untuk meninggalkan realita saya sehari-hari. Saya jadi punya kesempatan untuk sekedar menikmati “bayangan” menjadi mereka, berada di dunia mereka.

Saat Amin-SBY berseteru, saya yakin telah berhamburan beragam komentar dan hasil pengamatan di berbage media baik yang amatiran maupun yang dah mumpuni. Banyak harapan, banyak kejengkelan, dan seterusnya. Kalo ada yang bilang politik adalah dagelan yang ga lucu, tapi bagi saya politik adalah sinetrun negeri yang tetep menghibur. Saya jadi sejenak lupa dengan segala kepenatan hidup. Disatu saat saya benci, tapi suka ga suka juga merindukannya. Benci bilang radja..eh benci bilang cinta? ato malah cinta bilang benci? :P

NB :
Kalo kata pengamat politik, Pak SBY terpancing emosi mungkin karena beban pekerjaan yang menyemut, yang menguras energi dan emosi. Karena itu mungkin aja Pak SBY suatu saat akan bikin SMS Idola, SMS selebritis ato sejenisnya

Hai Aku lagi bête nih sama urusan negara, kamu mau ga temenin Aku, Aku pengen lho sharing sama rakyat2 semua.
Ketik Reg Spasi SBY kirim ke 9090, SMS yang kamu terima langsung dari HP Akyu loh..

Seven things yang sering dilakukan ibu saya saat nonton sinetrun :
1. Menguasai erat-erat remote tipi dalam genggamannya.
2. Berulangkali bilang “ih jahat banget sih si ini..”, tapi tetep aja nonton terus.
3. Pas iklan ngomentarin penuh emosi sinetrunnya
4. Tampak sesekali komat kamit kaya ngrapal mantra
5. Kalo ada telpon suruh anaknya yang ngangkat (mata tetep ga bergeser dari tipi)
6. Mmmmm…apa lagi ya?
7. Arghhhh…!!

Friday, May 25, 2007

waktu terluang


20 Mei kemaren disamping menjadi hari kebangkitan nasional berarti juga adalah habisnya hari yang menyenangkan. Bagi para pekerja hari itu berarti selesailah sudah long wiken mereka. Kembali berkutat dengan angka, kerjaan, dengan rutinitas. Barangkali, 4 hari libur kemaren adalah kesempatan yang sangat berharga, yang tidak setiap saat didapatkan.

Setiap kita ingin memanfaatkan libur panjang habis habisan. Ada berbagai rencana dan acara telah disiapkan sejak jauh hari. Tapi, empat hari bisa jadi tidak cukup, tidak pernah bisa menggantikan setumpuk penat yang mengendap sekian lama. Kata-kata menghiburnya adalah melupakan sejenak, sukur sukur bisa mengisi kembali semangat yang hampir habis dihajar rutinitas.

Keinginan idealnya adalah kerja kapan saja, suka suka kita, kebutuhan terpenuhi semua, waktu luang tersedia, bisa jalan-jalan kemana saja. Tapi mimpi adalah barang yang tentu saja ga gratis. Waktu luang kiranya adalah sebentuk makhluk yang mewah, yang mahal.. Dia diperebutkan, dinanti sekaligus segera dihabiskan ketika didapatkan. Kita seperti tidak ingin melewatkan sedetik pun hari libur tanpa sesuatu yang menyenangkan. Libur seperti memberi kesempatan seorang manusia untuk menjadi manusia…

Saya teringat sebuah acara di Metro TV yang membahas pernik kehidupan di Norwegia. Sebuah anjuran menarik dari perdana menteri negara tersebut yang memberi kesempatan setiap warga negara untuk meningkatkan kualitas hidupnya dengan jalan menyediakan waktu yang lebih untuk kegiatan2 yang sifatnya humaniora. Hal ini bisa dalam bentuk anjangsana anjangsini, olahraga, berkumpul bersantai bersama anak istri, hiha hihi sama temen2 dan sebagainya. Pemerintah Norwegia sendiri dalam hal ini tidak hanya sekedar pendorong abab dan idu, tapi juga memberikan insentif dalam bentuk regulasi dan fasilitas. Regulasi yang paling jelas adalah dalam bentuk pengaturan jam kerja yang lebih “memanusiakan” (yang sebenernya ini hanya salah satu bagian kecil dari tujuan besar pemerintah). Disamping itu fasilitas pendukung juga telah dipersiapkan seperti transportasi yang telah ditata dengan baik (sehingga warga tidak kelamaan tua di jalan) dan tentu saja taman kota yang menyenangkan.

Karena sekali lagi waktu untuk menjadi manusia yang tanpa embel -embel adalah mahal, waktu tanpa harus membawa nama perusahaan, almamater, suruhan siapa, technical development, financial controller, atas nama siapa bla bla bla dan tanpa segala label ataupun merek di pundak. Waktu ketika kita leluasa dan luang melakukan hobi dan bersosialisasi.

Tapi ternyata waktu luang bukanlah makanan utama manusia. Seperti vitamin memang dia dibutuhkan, tapi dalam dosis yang tepat. Kalo kata pak dokter bahkan kelebihan vitamin pun akan berakibat buruk pada kesehatan itu sendiri, avitaminosis katanya. Inilah yang terjadi di Bandung ketika long wiken kemaren. Antrean menyemut mobil-mobil berplat nomor jakarta di jalanan bandung mau ga mau mengakibkan ketidaknyamanan dan meningkatknya polusi. Sepertinya inlah suasana kalo terjadi kelebihan vitamin itu.

Dalam setiap hidup memang harus ada yang dikorbankan, dan ketika kita disibukkan oleh kerja maka waktu luang adalah yang sering diumpankan. Dalam rentang pemahaman yang lain, waktu luang adalah totalitas waktu untuk memikirkan kembali tentang diri agar menjadi manusia kembali, menjadi manusia seutuhnya yang mempunyai hak untuk bahagia… setiap saat, senantiasa...Kalo kata perdana menteri tadi, "manusia yang hidupnya lebih berkualitas".

Seven things (ga penting) yang dilakukan laki laki di hari libur :
1. Tidurrrrrrrr seharian, all day long.
2. Ga mandi seharian
3. Nonton tipi ato koleksi pelem yang barusan dibeli di toko bajakan
4. Nge game sampe lecet
5. Mbengkel motor ato mobil ato mainan2 mereka
6. Nongkrong, kongko kongko sama temen2nya
7. Kukurilingan teu puguh (muter-muter ga jelas)

Monday, May 21, 2007

Morning Coffee dan Romantisme pagi



Mengapa minum kopi di pagi hari??

Temen saya pernah bilang klo dia sering ngerasa lemes kalo ga ngopi di pagi hari. Entah sugesti ato engga, ternyata ada benarnya juga. Saya pernah dikasi tau kalo kafein yang jadi kandungan utama kopi, fungsinya adalah menambah detak jantung, meningkatkan tekanan darah dan tentu saja hal ini ber efek ga mudah bikin kita ngantuk. Tapi ketika tekanan darah meningkat dan jantung semakin cepat, otomatis akan meningkatkan metabolisme (proses dalam tubuh), kompensasinya residu dari suatu proses akan lebih banyak (kalo di mesin keluarnya asap), na kalo di tubuh wujudnya ya air kencing ato keringat. Inilah alasan kenapa kalo minum kopi kita jadi mudah kebelet pipis.

Kedua, bangun tidur kondisi mulut asam. Kondisi mulut seperti ini akan lebih pas kalo dikasih yang rada pait pait (syarat: jangan gosok gigi dulu nih). Saya ga tau ilmiahnya yang pasti kalo ga percaya, sekarang coba bangun tidur ga usah sikat gigi langsung minum sirup manis…pasti langsung bueh bueh…

Nah yang ketiga tentu saja sugesti. Sugesti kadang penting jadi sebuah alasan. Orang minum obat tidak hanya butuh khasiatnya tapi sekaligus sugesti yang menyertainya. Sugesti kopi adalah sugesti vitalitas dan cowo banget gitu loh…

Rasanya ketiga kondisi tadi kiranya dah jadi alasan kuat saya minum kopi di pagi ini.

Mengapa kopi menjadi penting ?? Katanya salah satu image istri yang baik adalah menyediakan sarapan dan secangkir kopi di pagi hari. Untuk kaum urban, sarapan adalah salah satu ritual keseharian keluarga yang mungkin masih tersisa. Saya cenderung yakin, untuk kaum urban makan siang adalah di luar rumah sedangkan makan malam cenderung menjadi berkurang maknanya karena terbatas untuk hal/aktivitas mengisi perut Nha, kopi dalam hal ini bisa deh dijadiin sarana menumbuhkan kehangatan keluarga dan percik-percik romantisme di pagi hari.

Ngomong-omong kenapa ya kopi itu indentik dengan laki laki??? Apa karena berwarna gelap? Ato karena ada unsur petualangan?? Saya belum tau pasti alasannya. Ato saya tak tanya mbah marijan sama chris jon dulu deh…Nanti kalo dah dibisiki, saya teruskan bisikannya ke Anda semua...:)

Seven things I hate about coffee :

1.Bisa mengurangi estetika wajah (gigi jadi kuning)
2.Ndeg ndegan (endapan) nya bikin gelas kotor apalagi kalo didiemin seminggu.
3.Cuma enak dinikmati selagi panas, kalo tambah es jadi mahal apalagi kalo dah dimacem macemin
4.Cocoknya cuma sama rokok dan gorengan (walah ini bahaya semua..!!!)
5.Yang kelima apa ya?
6.Ah ndak tau ah…
7.Ya gimana lagi wong saya pecinta kopi je

Monday, May 14, 2007

TANGAN-TANGAN TUHAN : From Zero to Hero

Tulisan ini sumbangan dari salah satu penggiat warungkopi mas trie …(OM Ardhi-yang blm maya:P), saya sih ngedit ngedit aja ngasih coffe taste dikit dikit biar tambah maknyuss 

Becham VS Ronaldo…. VS Alex Ferguson
Banyak persamaan diantara mereka berdua. Sama-sama punya banyak pengemar dan jadi idola dunia, sama-sama good looking dan jadi ikon pria maskulin. Apalagi kalo anda tanya ke penggemarnya dari kaum hawa.. Itu dilihat dari sisi fisik dan penampilannya. Sementara dilihat dari sisi sepakbola, jelas mereka sama-sama besar di Manchester United, sama-sama punya skill di atas rata-rata, dan sama-sama pewaris kostum bernomor 7 yang notabene merupakan nomor keramat di squad The Red Devils.

Ada satu lagi fenomena menarik dari dua manusia ini. Yaitu mereka sama-sama mencapai puncak karier setelah berlangsungnya Piala Dunia dan anehnya mereka sama-sama menjadi public enemy numero uno di negeri tiga singa persis setelah event piala dunia tersebut. Tentu anda masih ingat insiden kartu merah Beckham di Prancis ’98 dan kartu merah Rooney (yang disebut-sebut sebagai hasil provokasi Ronaldo) di Jerman 2006. Namun apa yang terjadi setelah insiden-insiden tersebut? Beckham menjadi aktor kunci United dalam merebut treble winner tahun 1999 sementara Ronaldo adalah pemain kunci dalam keberhasilan United merebut gelar premiership paling gress (semoga sebentar lagi jadi double winner, hehehe). Bener-bener From Zero to Hero kan?

Mungkin hampir tiap orang mengatakan bahwa titik balik dua manusia ini adalah buah dari kerja keras dan kehebatan mereka berdua. Ok…itu emang ngga salah. Namun sayangnya, mungkin cuma satu dua orang saja yang berhasil mengidentifikasi siapa “the real man behind their success” pada kesempatan pertama. Sekali lagi pada kesempatan pertama. Yah, siapa lagi kalau bukan Sir Alex Fergusson... Si Opa inilah yang sebenarnya bisa meyakinkan dua kawan kita itu bahwa mereka harus berani dan bisa mengalahkan “musuh-musuh” mereka di luar lapangan dan bahkan bisa membalikkan kondisi tidak menguntungkan tersebut menjadi faktor positif untuk keberhasilan pribadi maupun tim. Lebih dari itu, mohon diingat bahwa Sir Alex himself yang langsung menjemput Beckham muda ke rumahnya dan diminta bergabung di akademi-nya United. Demikian pula halnya dengan riwayat hidup Ronaldo. Sir Alex rela “berjibaku” dengan manajemen klub untuk membayar mahal harga transfer Ronaldo, seorang pemain yang kata petinggi klub lain dan kebanyakan pengamat belumlah terbukti kapasitasnya. Ngga berlebihan kalau saya katakan bagi dua kawan kita itu Sir Alex Fergusson adalah “pembuka jalan” dalam puncak pencapaian karier mereka alias pembawa Hand of God dalam bahasa british (kata tukul) alias “penglantar” dalam bahasa jowonya.

Bagi anda para pebisnis, mungkin menyadari betul betapa signifikannya peran para pembuka jalan ini. Bisa pemberi order pertama, penanam modal (angel investor), rekanan, tokoh protagonis maupun antagonis atau siapapun yang pantas dituduh sebagai penyebab kesuksesan atau perubahan drastis dalam bisnis anda. Tugas para pembawa hand of god sendiri sebenarnya ngga rumit-rumit amat kok, setidaknya menurut saya. Cuma membawa kesempatan kepada “korban” sambil melecut dan memberi “wangsit” bagaimana caranya mengalahkan rasa takut yang nyaman bersemayam di dalam diri si korban. SEDERHANA kan?!

Nah…bagaimana dengan anda?! Sudahkah anda bertemu dengan “hand of god” anda?! Kalo sudah ya selamat. Artinya saya bisa nuduh anda sekarang sudah sukses berat dan sudah pernah ketemu dengan pengalaman batin yang luar biasa.

Kalo belum?! Ya ada baiknya memperbaiki dan menambah kapasitas diri. Lha wong Sir Alex aja “ngrumat” Beckham dan Ronaldo ya ada alasannya kok (mereka mampu nunjukin punya skill dan potensi), kalo ngga ya belum tentu Sir Alex mau capek-capek ngurusin dua temen kita itu…tull ga?! Dan ada baiknya juga anda terus berusaha nambah kenalan dan jaringan. Siapa tau entah istri, mertua, orang tua atau salah satu kenalan ternyata adalah pembawa hand of god anda… Finally, jadi ketemu alasan kuat buat ngeramein dunia maya kita ini kan ?!! hehehe…

NB : Sukses buat OM Ardhi yang dah ngeramein warung saya ini…

Thursday, May 03, 2007

belajar dari ronaldo...

Sepakbola adalah kehidupan. Kalimat itu keluar dari mulut seorang Helmi Yahya di salah satu seminar yang kebetulan saya ada disitu sebage pesertanya. Dalam slide-slide yang ditampilkannya itu, dia ngomong panjang lebar tentang visi, strategi, teknik, taktik, dan berbagai kejadian menarik yang bisa terjadi di lapangan. Bermacam ramuan emosi jadi satu. Luapan emaosi ketika seorang striker bisa memasukkan bola ke dalam jala, ketika bola sudah benar-benar di depan gawang tapi seorang striker gagal memasukkan bola, ketika dalam hitungan detik sebuah peluang berbuah gol dan merubah keadaan...ada kemenangan ada kekalahan, ada kemarahan, ada kesabaran, ada sorak dan ada juga kepala yang tertunduk.

Menarik juga pernyataan Helmi Yahya ini..Mungkin benar, sepakbola bukanlah sekedar olahraga permainan yang menghibur, tapi dalam sebuah rentang pemahaman yang lain, sepakbola adalah sebuah miniatur hidup. Karena itulah saya menonton sepakbola.

Saya tertarik dengan salah satu artikel di DETIK.COM tentang Cristiano Ronaldo, pemain Manchester United. Judulnya "Prestasi Dulu, baru Spanyol...Bagi kaum hawa, Ronaldo mungkin terkenal karena tampangnya yang (hmmm cowo banget!!! Katanya lo ini hehehe). Tapi bagi kaum sepakbola, nama ini lah yang saat ini banyak dibicarakan orang karena peran sentralnya membawa MU dalam posisi yang sangat diperhitungkan sampe saat ini. Terancam treble winner!! Walopun sebenernya, saya sendiri ga seneng sama klub ini (Sori ni buat Man U fans club ya hehe), tapi untuk prestasi ya angkat topi bolehlah...

Cristiano Ronaldo tidak ingin pindah dari Manchester United walopun dia sangat ingin bermain di Spanyol dan banyak tawaran dari klub-klub besar lain, mungkin dengan gaji yang lebih besar. Saya kutip deh sedikit kata-katanya “ Suatu hari saya akan tiba di Spanyol, tetapi saya akan membuat PRESTASI dulu di Manchester”. Dalam usia 22 tahun, keluar sebuah keputusan hebat yang timbul dari sebuah karakter. Banyak orang yang yakin, suatu saat dia memang akan menjadi superstar. Di tangan pelatih yang tepat, seorang pemain bola bertalenta akan berkembang sangat luarbiasa. Kondisi ini sangat berbeda dengan Nicholas Anelka, yang bisa jadi hebat juga dalam skill tapi sampe saat ini tidak pernah membuahkan suatu ”PRESTASI”?

Ternyata dalam perjalanan kariernya, Anelka tidak pernah betah di suatu tempat. Disamping dia tidak segera menemukan pelatih yang tepat (faktor keberuntungan di sini nih), bisa jadi dia juga cenderung banyak berkonflik dengan lingkungan, apakah dengan pelatihnya ato dengan pemain lain dalam klub. Anelka pernah diprediksi akan menjadi pemain bintang, tapi sampe sekarang ternyata hal itu tidak pernah terjadi.

Ya sekali lagi, sepakbola adalah kehidupan. Keadaan yang hampir mirip saya dapati di dalam diri eksekutif-eksekutif yang menjadi incaran head hunter. Salah satunya adalah T.P Rahmat yang pernah menjadi CEO Astra dan merupakan sosok panutan eksekutif di Indonesia. Seorang T.P Rahmat sebelum memantapkan diri sebagai seorang entrepreneur, terlebih dahulu membuat prestasi yang sangat gemilang di Astra. Saya sendiri tidak mengenalnya, tapi kalo dilihat secara bukti dari sebuah perusahaan yang bermula di garasi hingga berkembang seperti Astra sekarang ini mau tidak mau harus dikatakan itu adalah sebuah prestasi yang luar biasa. Persistensi bolehlah dijadikan salah satu kata yang mewakili. Dalam bahasa guru-guru saya, istiqomah katanya. Dia bertahan sangat lama, bertahan dengan kegagalan, dengan kemenangan, bertahan dengan kebosanan, bertahan dengan visi yang dia pegang untuk membesarkan Astra, bersetia dengan ide yang sejak awal diyakininya. Tidak heran setelah menjadi pengusaha pun, perusahaannya sekarang ini juga bersinar luar biasa.

Saya sih percaya selalu ada faktor keberuntungan di balik sukses. Ronaldo beruntung berlabuh di tangan pelatih yang tepat, T.P Rahmat beruntung punya paman William Suryajaya dan teman-teman handal, dan seterusnya. Dan ternyata kalo diamati tiap manusia emang punya keberuntungannya ndiri-ndiri. Jadi sepertinya ga enak juga nunggu beruntung, mending jalani aja semua. Selesaikan satu pekerjaan, baru kemudian berpindah ke pekerjaan lain. Membuat prestasi terlebih dahulu, baru berprestasi di tempat yang lain. Siapa tau nanti ada keberuntungan nyelip di tengah jalan...:)

”Eh emang gampang Mas!! Coba kalo gampang, pasti ada jutaan ASTRA deh di Ndonesa ini. Anda berani ga dengan konsekuensinya?”, temen saya nyeletuk.

Saya hanya bisa jawab nyengir sambil garuk garuk kepala deh....

Tuesday, April 24, 2007

kopi untuk bersantai...

Saya lagi pengin posting tapi yang ga mikir ah...hehehe

Jarang-jarang saya menyempatkan ngopi bener-bener untuk menikmati kopi. Biasanya saya ngopi karena kebiasaan saja. Pagi pagi dateng ke kantor, say hello sama temen temen yang dah dateng duluan, trus langsung ngambil gelas dan bikin kopi item deh. ”Segelas kopi sangat bagus untuk menambah konsentrasi dan mempertajam daya ingat”, kata sebuah artikel yang saya rada lupa kapan baca dan apa medianya :). Trus menuju komputer, ngecek imel, telpun telpun janjian bla bla bla...Tapi kemaren, saya begitu menikmati segelas kopi item di pagi hari, di balkon kantor, ngeliat taman nan hijau dan kolam yang walo rada keruh tapi oke juga hehehe, dengerin burung yang menciap-ciap merdu sambil......ah ngelamun.

Setelah beberapa kegagalan kemaren-maren, Ternyata enak juga sesekali bersantai di hari kerja...

Suasana mungkin adalah tentang apa yang kita ciptakan sendiri. Entah kenapa kopi pagi ini saya rasakan begitu nikmat. Saya ikuti anjuran temen kuliner saya tentang cara menikmati kopi. Saya tutup gelas dengan tangan kanan saya, kemudian saya buka sedikit dan saya hirup dalem-dalem aromanya, baru kemudian saya minum dengan menyeruputnya pelan-pelan. Klo sampe terdengar bunyinya, sluuurp...dan mata saya merem melek, nah itu berarti saya sedang menikmati benar acara minum kopi kali ini..hmmmmm sluuurrrp...

Ngomong tentang kopi dan ragam suasana bisa jadi emang terkait sangat erat. Kalo dari pengalaman tadi, kopi sedikit banyak udah membawa saya pada sebuah suasana, suasana rileks. Di menit berikutnya, tiba tiba keinget warung kopi saya yang seperti ga diurusin akhir akhir ini. Kemudian iseng-iseng saya googling cari artikel-artikel tentang kopi. Pertama kali ketemu pastinya dengan kopi khas om wiki. Hebat banget ya list nya bisa terus di atas. Banyak sih yang ngomong tentang kopi, tapi ada satu artikel yang saya ingin bagi deh ke temen-temen semua. Artikel yang sepertinya akan merefreshing otak Anda cukup tajam. Kalo saya bilang, filosofi yang keren tentang kopi dan cangkir. Dia melihat kopi dan cangkir bisa diibaratkan seperti sebuah kehidupan. Ini nih artikelnya...

Mungkin masing-masing orang punya analogi sendiri mendefinisikan hidupnya. Ada yang mengandaikan hidupnya seperti kopi-kopi itu. Ada yang mengandaikan hidupnya seperti aliran air, ada yang seperti burung, hujan, angin, badai, tsunami, ato seperti kotak cokelat juga ada (forest gump banget..hehehe), bla bla bla dan seterusnya..Sungguh kok itu semua sah sah saja, bebas, wong masing-masing orang punya pengalaman hidupnya sendiri.

Satu hal, kalo menurut para langganan warung saya, enaknya ngelamun ato ngobrol santai tentang rumit ga rumitnya hidup ya tetep deh......sambil minum kopi.:)

Eh btw boleh tau Anda mengandaikan hidup Anda seperti apa Saudara?

Saturday, April 14, 2007

gagal tuh pait...tapi kadang harus tetep ditelen

Ekspresi jengkel, marah, misuh, dongkol seharusnya ga saya keluarkan, tapi pemberitahuan bahwa perusahan kami tidak bisa menjadi vendor di perusahaan tersebut mau tidak mau membuat perasaan saya sedikit blingsatan tidak karuan. Setelah sukses melewati beberapa tahap krusial dan untuk ukuran perusahaan kami rada "merogoh kantong", ternyata perusahaan tersebut tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk menunggu kelengkapan dokumen kami. Sungguh hanya kurang "beberapa dokumen" (yang sebenernya satu kesatuan), ternyata sebuah keputusan pahit harus kami terima. Bahkan pengunduran 1 hari yang kami minta pun ternyata tetap tidak bisa diluluskan.

" Maaf Pak Triyadi kami sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi, USER kami sudah menjatuhkan dedlen kepada divisi kami, tadi pukul 15.00 sudah saya eksekusi untuk pemenang tendernya", sebuah suara diseberang telepon saya dari divisi procurement.

"Apakah tidak bisa diundur satu hari saja Pak?Ada beberapa hal birokratis yang benar benar di luar kuasa kami, dokumen akan saya kirimkan senin besok pak." saya mencoba menawar.

" Maaf Pak, tetap tidak bisa, sekali lagi kami sudah terlalu lama menunggu, mungkin di kesempatan lain kita bisa bekerjasama", tapi silahkan mengirimkan dokumennya jadi nanti untuk ke depan proses sudah lebih mudah.

Dan memang mereka sudah menunggu terlalu lama. Ada hal-hal yang memang berjalan di luar kehendak kita,ada hal-hal yang sungguh tidak bisa dipaksakan kejadiannya.

Kata teori saya harus ikhlas menerima apapun kehendakNya, kata guru ngaji semua kejadian pasti ada hikmahnya, ada ibroh yang bisa diambil. Kata temen saya, belum rejekinya kalee...Dan kata saya....."terserah deh, saya waktu itu lemes aja pokonya" :D. Semua kata bijak seperti hanya mampir lewat saja, dan kalopun saya misuh misuh tak jelas, itu hanya sekedar numpahin uneg2 saja, dan emang ini treatment jelek dan antibodi saya terhadap stress.

Sungguh Gusti Allah punya sejuta rencana, sejuta ketentuan, takdir, yang mau ga mau pait manis harus ditelen deh...

kecintaan dan pengharapan berlebihan terhadap sesuatu,
ternyata ga bikin sehat...
mengurangi takarannya sepertinya justru menjadi pilihan yang tepat

percayalah. kata orang bijak sih..

tapi ikhlas kok tetep aja tidak semudah meludah ya?