headerversi2

Friday, October 26, 2007

kapan ya bisa lebih berguna buat orang banyak?? (refleksi buat diri sendiri)

Kemaren temen saya maen ke kantor, awalnya kita ngobrol bisnis kemudian topik melebar ke berbage hal hingga nyampe pada hal yang sebenernya telah menggelisahkan diri saya sejak lama.

Temen saya ngomong,” Di, tau ga baru akhir-akhir ini aku ngerasa jadi engineer!”

Lho kok?”,dahi saya sedikit berkerut.

Iya, bahkan hampir sejak kuliah hingga tiga tahun setelahnya inilah, baru aku ngerasa bener-bener jadi seorang engineer!

Deg. Sempat saya terkesiap. Ingatan itu…Rendezvous. Sudah berapan lama saya lulus (yang katanya seorang insinyur), menghabiskan uang milik rakyat yang disubsidikan ke saya? kemudian sudah berapa jauh saya menggunakan ilmu yang saya peroleh? Berapa karya yang sudah saya bikin dengan ilmu yang didapat? Berapa orang yang sudah mengambil manfaat dari ilmu yang hampir 6,5 tahun saya ulik (wah lamaa banget kuliahnya mas!).

Iya, baru kali ini aku ngerasa punya sebuah ide tentang sebuah produk/karya dan aku bisa secara berkelanjutan ngutak-atik, merekayasa dan mewujudkannya! Bayangkan seandainya banyak temen kita dulu (pas S1) yang ngerasain seperti yang aku rasain sekarang. Mahasiswa banyak melakukan riset, berkarya, dan menikmati apa yang mereka lakukan. Bayangkan seandainya ada dua ribu (2000) lulusan terbaik Indonesia menyumbangkan satu TA (tugas akhir) yang berkualitas! Itu adalah karya yang tidak main-main!”, temen saya semakin mengebu-gebu melanjutkan ceritanya.

Tapi yang terjadi ternyata memang berbeda dengan keinginan temen saya. Banyak temen-temen dari universitas ini yang kemudian tidak terfasilitasi, baik oleh lingkungan terdekat maupun sistem yang lebih besar. Banyak bakat yang kemudian seperti menghilang. Kalo laskar pelangi bercerita tentang kejeniusan yang tidak menemukan kesempatannya, kiranya di universitas ini dalam rentang kenyataan yang sedikit berbeda sebenernya punya kejadian yang hampir mirip. Banyak temen kami yang kemudian berpindah jalur. Sarjana Teknik Elektro yang kemudian memilih jualan beras, sarjana Teknik Geodesi yang kemudian memilih jualan batagor, Sarjana Teknik Planologi yang memilih jualan pasir, sarjana teknik mesin yang kemudian jual reksa dana, ato sarjana pertambangan yang jadi politisi….dan seterusnya. Ternyata kalo diteruskan statistiknya akan sangat mengejutkan.

Ah, di Indonesia ini mana ada insinyur ato ilmuwan kaya?! Lebih mending kuliah ekonomi, bisa jadi direktur, ato sekalian maen di politik, berarti megang anak teknik sekalian anak ekonomi ”, kata temen saya yang baru-baru ini saya tahu emang masuk ke salah satu partai politik.

“Apakah aku salah?”, tanya saya sewot.

Iya jelas! Bahwa kamu sudah menyia-nyiakan amanat rakyat yang membiayaimu untuk belajar bidang itu tapi tidak menjalankannya, kamu salah besar! Tapi untuk survive di tengah sistem yang mblukuthuk ini hukumnya tentu ya gimana lagi! La daripada kamu mati!”,temen saya menimpali.

Saya tau di universitas ini banyak sekali manusia jenius yang bahkan pinternya tuh seperti susah dicerna dengan akal sehat. Ada seorang anak Elektro (saya lupa angkatannya) yang TA (tugas akhirnya) tentang utek-utek seng biar bisa punya konduktivitas hampir sama dengan emas. Seng yang sangat murah bisa menggantikan emas untuk bahan pengganti semikonduktor pada CHIP. Untuk sebuah karya TA, ini adalah karya yang luarbiasa. Saya sempat membayangkan seandainya TA nya ini diriset lebih lanjut untuk kemudian diteruskan menjadi sebuah industri CHIP-prosesor, betapa kepercayaan diri kita sebagai bangsa akan bisa kembali terangkat. Ato penemuan anak Kimia yang bisa memisahkan zat pada cacing untuk pengobatan kangker. Cacing seperti kita tahu mengandung banyak sekali khasiat, mulai dari tipes, kosmetik dsb. Saya membayangkan jika dua ribu (2000) lulusan universitas ini mempunyai karya TA seperti itu ato minimal 10% nya saja, untuk kemudian ditindaklanjuti oleh system yang terkait (kampus, pemerintah, dan dunia industri), betapa bangsa kita ini mampu mengangkat kepalanya lebih tinggi, tidak menjadi makhluk yang inferior tak berdaya.

Yang terjadi? Banyak TA-TA berkualitas yang kemudian hanya berhenti memenuhi rak perpustakaan. Bahkan saya sendiri pun hanya seperti kebanyakan mahasiswa. TA saya asal-asalan, asal jadi, hanya memenuhi syarat kelulusan. Dan setelah kuliah pun saya mencoba berbage hal mulai dari jualan, bekerja, untuk kemudian jualan lagi, tapi “tidak di bidang yang saya pelajari di kuliah”. Padahal harusnya kami bisa lebih dari itu! Kami-kami telah melalui saringan yang ketat, kami ini putra-putri terbaik bangsa (inilah arogansi menyedihkan dari kami). Karena pertanyaannya kemudian trus apa yang bisa diperbuat kebanyakan dari kami? Kami kebanyakan berdalih.

Pernah saya mengajukan pembelaan, saya tidak pernah diberi contoh yang “bagus” dari dosen-dosen kami. Dosen adalah guru, guru adalah digugu (diturut) dan ditiru. Kami tidak cukup punya dosen panutan yang membuat karya-karya luarbiasa. Dosen-dosen yang inspiratif. Kami justru banyak mendapat "jam kosong" karena dosen sedang mroyek. Dosen asik mroyek, kami pun ikutan asik mroyek. “Kebanggaan kami” adalah dosen ber BMW. Dosen pragmatis, kami pun ikutan pragmatis. Siapa bisa disalahkan? Karena dosen memang butuh makan.

Padahal ada sebuah hitungan sederhana dari sebuah riset. Kita misalkan seandainya khusus untuk melakukan satu riset mahasiswa diberi gaji Rp 2jt (sudah seneng minta ampun buat pamer ke pacarnya), kemudian dosen yang membimbing digaji Rp 5jt. Riset awal dilakukan selama setahun, maka total biaya yang dikeluarkan hanya 84jt. Ah tidak seberapa!

Karena bandingkan dengan banyak hal ironis terjadi di negeri ini. Kemaren temen saya dapat orderan proyek untuk sistem keamanan jaringan internet sekolah sebesar Rp 35 jutaan. Ironisnya temen saya itu dapet orderan dari temennya, dan temennya itu dapet orderan dari temennya lagi. Ini ada tiga rantai tidak penting. Pada rantai terakhir ini besaran nilai proyeknya adalah 300jt. Duh Gusti!! Padahal hanya membuat system keamanan jaringan sekolah yang hanya membutuhkan cumi-cumi peringatan dan mentok mentok antivirus. Satu hari pun selesai!

Sampai kapan ya kisah-kisah ironi ini akan terjadi, Kapan ya bangsa ini akan menjadi bangsa yang punya daya saing dan menjadi bangsa kompetitif? Kapan ya birokrasi kita ga banyak utak atik mblukuthuk? Punya harga diri dan percaya diri??

Sementara kemaren saya baca di kompas sebuah artikel yang membuat terkesiap dan sedikit lemes. Cartoon Network Enterprise telah menyediakan dana investasi sangat besar untuk menyiapkan karakter-karakter kartunnya. Untuk 2000-2005 telah dianggarkan biaya 500 juta dolar US untuk membuat kartun baru dan akan berlanjut dengan dana yang sama pada 2005-2010. Bagi Shasim Direkur Eksekutifnya, Indonesia merupakan pasar yang penting!

Di penutup artikel itu,

“Sebenarnya ia tengah menunjuk kita dan bocah-bocah Indonesia sebagai pasar yang tak berdaya”.

Lalu apa kabar industri kreatif indonesia???
Temen nyeletuk, "Wis, ndonga asal slamet donya akherat ae mas, rasah neko-neko!"

Tuesday, October 23, 2007

harus amat sangat kuat!

Saya sama temen saya kemaren motor-motoran ke daerah Cieumbeleuit. Rencananya adalah mencari kontrakan di daerah yang sejuk untuk kantor baru. Ketika nyampe di satu perumahan, saya jadi gegelengan kepala tidak kepalang, mulut sampe nganga dibuatnya ngeliat barisan rumah elite disitu. Mungkin tidak banyak yang tahu ada perumahan elite di daerah sini karena memang tempatnya yang terpencil dan jalan untuk menuju daerah itu yang "ga enak dilewati". Saya dan teman saya baru sekali ini melewati daerah ini dan ga tahu kenapa dalam hati terbersit ungkapan “Seperti apa rasanya kalo saya berada di dalamnya!?”

Yang blok pertama, adalah rumah-rumah besar mewah biasa, di daerah dago dan perumahan elite lainnya udah banyak. Ketika sampe di blok kedua, disitu terdapat tiga rumah hampir mirip. Mulailah kami rada mendelik dan berdecak-decak ngeri. Saya jadi seperti jalan-jalan ke beberapa tower di Jakarta karena untuk melihat puncak ketiga rumah tersebut tiada jalan lain kecuali ndangak (menengadah?) jauh ke atas! Disamping sangat tinggi harus diakui rumah-rumah itu besarnya minta ampyun deh!. Dikelilingi tembok-tembok yang tinggi, tiga rumah itu tampak begitu kokoh, begitu besar, begitu angkuh.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan, kekagetan kami dibuat bertambah-tambah lagi. Di suatu sudut yang menyendiri, tampak di depan kami benteng (ya kami harus menyebutnya benteng!) yang sangat besar. Di dalamnya, di sela-sela tembok candi (benteng!) yang cukup tinggi itu, seperti tersembunyi sebuah KERAJAAN! Karena ternyata ini lebih gila lagi! Ternyata di Bandung ini ada sebentuk rumah mirip Kerajaan Majapahit! Hehehe, kalo ga percaya dateng ke bandung deh, nanti saya anterin! Jangankan masuk ke pekarangannya, benteng yang panjangnya Naudzubillah itu juga dihiasi dengan pahatan yang mengingatkan saya pada candi-candi di Gedong Songo Jogja. Bahkan untuk melintasi sepanjang benteng naik motor aja kami butuh 5 menitan. Saya mengintip dari kisi-isinya dan melihat pilar-pilar yang sangat tinggi serta pendopo/bangunan rumah yang membuat saya bergidik. Ada yang membuat saya tidak percaya, sedikit ngeri. Satu pertanyaan, “ Orang ini kerjanya apaan ya??!

Pada awalnya bisa jadi berangkat dari filosofi yang begitu mulia. Kalo saya ingin menolong orang lain, maka saya harus bisa menolong diri sendiri terlebih dahulu. Kalo saya ingin menguatkan orang lain, maka saya harus kuat dulu. Yang kemudian jadi pertanyaan adalah sampe seberapa kuat untuk bisa menolong orang lain? Dan jawabannya ternyata sangat relatif. Saya dan Anda bisa jadi mempunyai ukuran yang berbeda pada kata CUKUP. Cukup ada, cukup punya, cukup uang, cukup kuat, dst memang tidak sama pengertiannya di tiap orang. Boleh jadi di satu kesempatan Anda hanya cukup punya uang 50ribu untuk sebuah alasan membeli baju sepantasnya dan sisanya disisihkan untuk disedekahkan. Ato di kesempatan lain ketika status sosial sudah naik, maka Anda cukup membutuhkan 5juta (tidak harus 10 juta seperti temen Anda) untuk alasan membeli baju yang pantas dan sisanya (kalo ada) disedekahkan.

Apakah ada yang salah? Dalam kenyataannya tidak pernah mudah mengukur relativitas cukup. Untuk orang yang hanya punya 50 ribu, 5juta adalah uang yang banyak, sedangkan untuk orang yang punya 5 juta bukankah sebaliknya? Apakah tidak adil? Apakah ada yang merasa disakiti ato tersakiti? Saya belum tahu deh, saya ga punya hak mengukur persepsi orang tentang kata cukup. Karena kepantasan bisa jadi sangat relatif. Persepsi orang sangat subyektif tentang hal ini.

Okelah misal sekarang saya yang masih kere ini misuh (kok bisa?) melihat deretan rumah-kerajaan itu, tapi siapa yang bisa menjamin bahwa dalam perjalanan saya tidak akan melakukan hal yang seperti itu? Siapa bisa menjamin saya tidak berubah pikiran, jika suatu saat saya pun pengin “tidak sekedar kuat, tapi saya harus lebih kuat”. Kemudian tidak hanya lebih kuat, tapi saya harus amat kuat, kemudian tak pernah cukup dengan amat kuat, karena saya harus teramat sangat kuat sekaliiiiiiiiiiiiiiiiii dst dst dan seterusnya...

Seventhings yang menjadi alasan mengapa (kok lelaki?) yang harus kuat ?:


1. Karena doktrin dari sejak bayi kaya gitu
2. Karena lelaki biasanya lebih berotot
3. Karena lelaki ga melahirkan
4. Karena lelaki ga ngalamin menstruasi
5. Karena lelaki selalu pengin melindungi cewek
6. Karena ego lelaki ingin dianggap begitu
7. Karena di rumah tangga yang jadi kepala keluarga adalah lelaki

Monday, October 08, 2007

jawaban ke seseorang yang saya tidak tau siapa

Kemaren hari jumat malem tanggal 4 Oktober pukul 21.04 saya nerima sms. Sebuah nomer yang tidak ada di phone book. Begini sms nya:

“Aslmlkm. Blh tau ap sih fantasi perjaka tentang pnikahn? Btw, ttg nikah , klo hanya karena nafsu mgk rsn~a akan sama dengan sop buah. Klo kelak antm (ini antum) nikah moga bkn krn lpr mata”

Waktu jam itu saya masih di luar dan hape tidak saya bawa, baru sekitar 21.30an saya balas smsnya,

“Saya ga tau sapa saudara, tapi saya jawab di blog aja deh. Moga saudara sudah berbuka puasa, jadi ga laper .

Waduh, siapa ya ini? Ada yang protes…Saya bertanya-tanya, dia komen tentang tulisan saya di blog tapi ke hape?Gaya bahasanya juga ga familiar, tapi sepertinya dia temen saya (tapi temen saya jarang yang pake ana-antum gini), ato paling engga temennya temen saya, ato ah biarin, saya ngga ambil pusing. Saya anggap aja malekat yang lagi ngingetin saya…:P Sebuah tulisan ternyata bersifat multitafsir. Point saya di tulisan itu sebenernya bukan di titik tentang nikah, ato fantasi perjaka tentang nikah, tapi ternyata ada tafsiran yang melebar ke arah sana. Sungguh saya belum nikah, jadi pendapat ini mungkin hanya bersifat meraba-raba, sedikit membayangkan, dan (berfantasi?) Boleh jadi! hehehe.

Satu hal yang saya catet dari sms itu adalah saya diingetin bahwa pernikahan bukanlah hal yang sekedar-kedaran, sekedar menuntaskan hasrat, sekedar menuruti kebutuhan sosial ataupun seksual belaka. Saya dingetin kalo tujuan nikah lebih dari itu. Jelas saya setuju! Kalo hanya sekedar itu apa bedanya manusia dengan kebo? Tapi emang di tulisan itu mungkin saya terlalu gegabah membandingkan beli sop buah sama nikah. Mungkin ada analogi yang kurang pas, membandingkan barang dengan manusia, akan tetapi point saya di tulisan itu adalah tentang fantasi yang kadang menjadi di-lebihkan (tolong catet), daripada kenyataan yang terjadi kemudian.

Dan karena memang keinginan dan kebutuhan itu berlainan. Fantasi adalah sebuah mimpi, keinginan yang belum menjadi kenyataan. Keinginan sifatnya sangat subyektif dan inilah yang disebut nafsu. Saat cuaca panas sedemikian rupa, keinginan saya adalah minum es sebanyak-banyaknya, kalo perlu saya beli sampe yang jual-jualnya. Tapi kebutuhan kerongkongan dan perut di kenyataannya tidak seheboh itu. Paling mentok kita cuma perlu segelas dua gelas untuk menuntaskannya. Hampir di semua keinginan akan selalu bersanding dengan kebutuhan, dalam berbagai kondisi.

Sebenernya fantasi tentang pernikahan ini terjadi sama semua orang, tidak perduli lelaki ato perempuan,masing-masing memiliki fantasi sendiri-sendiri, sekali lagi sangat subyektif. Normatifnya adalah seperti dalam buku-buku provokasi nikah, semua orang pasti pengin keluarga sakinah mawaddah wa rahmah (silahkan dibaca sendiri), tapi saya pingin coba mengajukan pendekatan sebuah model. Dimulai dengan siapa yang menjadi pasangan idealnya. Fantasi-keinginan perjaka tentang sosok seorang istri ideal mungkin wajahnya seperti artis-artis jelita, shalihah perilakunya, pintar, cerdas otaknya, hatinya mulia semulia siti khadijah, menyenangkan dan menenangkan hati senantiasa dst dst…pokoknya yang bagus-bagus. Fantasi perempuan ya sebelas dua belas.

Itu adalah keinginan, sedangkan kebutuhan apalagi kenyataan kadang menjadi hal yang berbeda. Seseorang lelaki mungkin diberi istri yang cantik nya minta ampun. Dalam hal ini keinginan dan kenyataan terwujud, tapi berbicara kebutuhan bisa beda urusan. Apakah dia memang membutuhkan istri yang seperti itu? Bagaimana kalo lelaki itu malah jadi kesulitan me”maintenance”, apakah tidak malah menjadi “tekor” luar dalam. Bagaimana kalo ternyata perempuan itu sangat ramah pada siapa saja dan lelaki pasangannya itu sangat cemburuan?? Wah rame nih kayanya…hehehe.

Kalo di sms saya didoakan seandainya menikah semoga tidak karena lapar mata, maka tentu saja saya akan mengamininya. Terbayangkan sungguh, akan menjadi seorang yang gila kalo saya menikah karena hal tersebut. Ngeliat tiap hari lahir dan bermunculan wanita yang tambah lebih cantik, lebih seger, lebih banyak lagi dari era sebelumnya kemudian saya pengin nikahi semua! Wah sungguh..beneran ni, kalo nurutin capeeee deh! Padahal katanya kunci kebahagian lelaki adalah cukup seorang istri shalihah yang jika dipandang membuatmu semakin sayang dan jika kamu pergi membuatmu merasa aman. Mau cantik, mau jelek, mau judes, mau manja, mau apapun asal seorang lelaki bisa “merasakan” itu dari pasangannya beresss! Intinya itu.

Kemudian tentang menyamakan menikah dengan minum sop buah, dalam hal ini mungkin saya tetap ngeyel ada kaitannya, yaitu dalam ketiga hal tadi, keinginan, kebutuhan dan kenyataan. Tapi kemudian harus ada catatan lanjutannya. Dalam hal menikah tidak sama dengan minum es, tentu saja saya mengamini bahwa setelah menikah tidak lantas menjadi biasa-biasa saja, datar, dingin, kaku dan seperti dahaga lepas ya sudahlah.

Romantisme adalah kata yang menarik. Disini subyektifitas berperan. Subyektifitas keluarga itu sendiri. Kita akan sulit mendefinisikan bahagia dan romatisme sebuah keluarga hanya pada sebuah kasus, apalagi hanya sekedar berdasar perbedaan/persamaan sifat. Setiap individu subyektif, punya kesenangan ato ketiksenangan yang tak sama, ketika bergabung menjadi satu keluarga, dua subyektifitas bertemu akan menimbulkan dinamika dan harmonisasi yang berbeda-beda, untuk kemudian keluarga itu pun harus menjadi unsur subyektif di tengah lingkungan (walah). Intinya adalah “cara” sebuah keluarga mendefinisikan dan mempraktekkan bahagia yang beda-beda. Ada yang perlu pake bunga-bunga tiap hari biar bisa romantik dan bahagia, ada yang perlu cubit-cubitan dulu biar bisa romantik, atau ada yang cukup suaminya ngasi duit banyak istrinya sudah bisa senyam-senyum bahagia (kalo ini pasti deh hehe), ada yang perlu dinner berdua, ada yang…macem2 kali ya. Barangkali ini strategi berkeluarga, ngasih bumbu, menjaga kualitas, bagi yang belum mengalami ya membayangkan saja versinya masing-masing. Ngutip hadits dikit ya,

Sesungguhnya ketika seorang suami memperhatikan istrinya dan istrinya memperhatikan suaminya,” kata Nabi SAW. Menjelaskan,”maka Allah memperhatikan mereka berdua dengan penuh rahmat. Manakala suaminya merengkuh telapak tangannya, maka berguguranlah dosa-dosa suami istri itu dari sela-sela jari jemarinya.

Nah disnilah yang saya maksud fantasi berlebihan karena biasanya fantasi itu yang indah-indah saja, yang engga enak hanyak dibahas sekilas, dilewati, atau kalo perlu diabaikan. Karena itulah saya sebut setelah menikah sebenernya ya biasa aja, ga gitu gitu amat. Kalo pun pengin gitu-gitu ya monggo silakan berstrategi, wong subyektif kok.
Oh iya kita bandingkan dua dialog berikut ini :

Ini yang pertama
“Dik, mbok saya dibuatin kopi”, kata seorang suami yang sedang baca koran pada istrinya yang sedang nonton sinetrun.

Si istri diem aja, langsung berangkat, bikin kopi, kemudian kembali dan langsung ngasi kopi itu,

“Ini mas”, singkat padat, jelas, lugas mungkin hampir tanpa ekspresi, dingin, frigid.
Kemudian suami meneruskan baca korannya, sang istri kembali serius menekuni sinetrunnya.

Ini yang kedua
“Sayang, buatin kopi dong, haus nih ”, sambil mengerling manja pada istrinya yang sedang baca buku.

“Ah papa ini, ganggu mama aja”, kata si istri rada-rada cemberut manja dengan senyum yang masih terlihat, berlagak ga mau, tapi pergi juga bikin kopi dan kemudian menyajikan minum dengan penuh cinta.

“Makasih sayang…., mama ini emang istri spesial deh”, kata si suami kemudian.

“Papa juga...”, kata si istri yang balas mengerling manja.

Anda pilih mana? sekali lagi subyektifitas. Tidak pasti mana yang bisa membuat Anda bahagia, yang pasti jangan sampe suatu saat keluar ungkapan seperti seorang artis peragawati di salah satu inpoteinment (dulu),

“Salah sendiri ngelayanin suami kaya gedebog pisang!” katanya dengan senyum yang rada gimana gitu.
Waduh…(puasa-puasa kok ngomong inpoteinment):P


Btw…siapapun anda yang ngirim sms, makasih sudah ngingetin saya!

Thursday, October 04, 2007

harus rumit dulu kah?

Temen saya yang seorang konsultan manajemen suatu ketika bercerita tentang kejadian di bengkel & cuci mobil salah satu kliennya di daerah Antapani Bandung. Saat itu ada Ariel Peterpan datang untuk nyuci mobilnya.

“Pak, ada Ariel tuh”, kata salah seorang pegawe bengkel.

“Ariel sapa?”, tanya temen saya sok bego.

“Alah bapak ni ga gaul pisan, eta tah Ariel Peterpan!”

“Oh itu ya, sering dia kesini?”

“Ya lumayan sih pak, sebulan sekali lah”, kata pegawe itu sambil terus ngliatin mobil yang tampak tertutup rapat kacanya dengan ariel yang masih di dalam mobil.

“Hmmm, ga diajak ngobrol? Ato minta tanda tangan ato fotonya , kan lumayan tuh buat promosi bengkel!”, kata temen saya kemudian.

“Wah boro-boro pak, buat bayarnya aja buka kacanya dikit banget!”

Ada saat dimana orang banyak yang mencari popularitas. Ngasi demo band ke produser-produser, ikut kontes-kontesan nyanyi, lenggak lenggok kesana kemari, model-modelan, dst. Ketika semua telah didapatkan ternyata orang tersebut malah seperti sembunyi dari kepopulerannya. Dalam hal tertentu dia menjadi orang yang ga ingin terdeteksi kehadirannya. Tentunya juga tidak mudah manusia yang sangat populer mencari teman sembarangan. Saya jadi inget ucapan Ariel sendiri saat acara empat mata yang ngomong bahwa menjadi orang popular seperti dirinya ga mudah, sebenernya banyak hal justru menjadi tidak bebas. Tidak bebas memilih apa yang disukainya. Semua harus sesuai keinginan penggemar. Ada keterbatasan, ada sisi manusia yang teralienasi, terasing. Apakah dia bahagia? La ya wallahua’lam dan tentu saja bukan urusan saya, tapi saya sedikit yakin kadang-kadang mungkin terbersit setitik kerinduan untuk menjadi bukan siapa-siapa.

Mari kita cari benang merahnya. Bahwa ada satu titik yang sebenarnya ingin dicapai. Titik sederhana, Sebuah kebahagian. Tapi sebelum mencapai titik sederhana itu, tentunya ada multitafsir. Ada persepsi macem-macem tentang itu. Sepertinya kalo saya populer saya akan bahagia, seandainya punya mobil saya pasti senang senantiasa, kemudian kalo saya punya rumah bagus, sepertinya…dan seterusnya. Ada ambisi, ada kerja keras, banting tulang, habis-habisan, bahkan mungkin dengan mengorbankan banyak hal. Hingga suatu saat ketika benar-benar semua sudah ada, akan muncul pertanyaan, sudahkah saya mencapai “titik itu”?

Sepertinya manusia harus melakukan banyak hal dulu, sebelum mencapai titik sederhana itu. Seorang Einstein, untuk mendapatkan sebuah rumusan sederhana E=mc2 mungkin butuh berlembar-lembar kertas dan ratusan percobaan yang gila. Being simple is not easy, katanya. Pengen labih mantep teorinya tanya OM Dante..

Kalo kita, dari hari ke hari, umur ke umur, kita selalu merasa berhadapan dengan masalah yang pelik dan seperti tak bisa dihadapi. Tapi sampai hari ini ternyata semua itu bisa terlewati. Tanpa sadar kita naik kelas. Dan dari waktu ke waktu, semakin banyak yang kita lakukan, pengertian hidup ini sepertinya menuju ke arah menjadi semakin sederhana. Barangkali suatu saat di akhirnya kita emang ditakdirkan untuk menjadi bukan siapa-siapa.

Lalu apakah benar untuk mencapai ujung kesederhanaan harus merumitkan diri terlebih dahulu? Harus ada sedih dulu, harus ada marah, harus ada jengkel, harus ada segala emosi terlebih dahulu baru kita ngerti titik bahagia di sebelah mananya?

Nunggu tua dong?

“Wah capek de……”, kata seorang temen wanita di depan saya yang menggerutu karena ngeliat saya dari tadi ngelamun aja.

Seven things yang bisa buat wanita senang :
1. Dibeliin barang-barang yang bagus-bagus,
2. Dipuja-puji oleh orang yang dicintainya
3. Didengerin dengan penuh perhatian omongan-omongannya
4. Dst
5. Dst
6. dst
7. Wah sori, terusannya sama temen-temen aja ya..saya belum gape urusan ginian…:P

Wednesday, October 03, 2007

ketemu ibu cantik...

Setelah nunggu selama hampir tiga setengah jam akhirnya kami bisa bertemu sama ibu itu.

“Aduh maaf ya, jadwal kita ketemu tadi saya cancel, saya baru liat hape tadi pagi dan ada keperluan mendadak…maaf”, katanya ketika pertama kali bertemu dengan kami.

Tadinya saya mengira akan bertemu dengan seorang yang sudah berumur (sudah tua maksudnya), tegas dan “galak”. Ternyata kemudian perkiraan saya bergeser. Hmmm…masih cantik. Seorang ibu (lebih tepatnya tante deh…) yang masih awet muda, tidak tampak guratan usia 40an akhir, padu padan baju yang cantik, modis tapi tidak berlebihan…pas. Ada satu kata lagi…energik! Dua puluh tiga tahun ibu ini menjadi profesional Multinational Company IBM, dan selama 8 tahun dia sudah menjabat sebagai PRESDIR nya. Dalam hati saya berpikir pasti ada hal luarbiasa dari ibu satu ini sehingga bisa “mengalahkan” dominasi pria dalam sebuah kompetisi karir.

“Saya bisa mengetahui seseorang cocok menjadi karyawan hanya di 5 menit pertama, di 5 menit itulah decision sudah saya buat”, katanya di sela pemaparan visi misinya menjadi Ketua ikatan alumni.

Satu hal ini yang saya catat di kepala saya. Itu adalah salah satu kemampuan yang terbentuk karena pengalaman. Dua puluh tiga tahun tentu bukan waktu yang singkat. Kalo bagi saya sih ini peluang bisnis hehehe…, bagaimana kalo dibuat e-learning ato multimedianya bu? Tentang interpersonal skill, tentang banyak hal managerial, dan lain lain. Bukankah ilmu berharga itu bisa dibuat panduannya? Ibu sebagai narasumbernya. Mungkin ini suatu saat yang akan saya tawarkan.

Obrolan berlanjut ke persoalan entrepreneurship, terutama di kalangan alumni yang masih muda. Ada sebagian alumni yang beruntung ketika kemudian mendapatkan networking yang cukup luas. Networking disini tidak hanya sekedar dalam hal mencari modal tapi juga dalam hal mendapatkan pasar. Ibu cantik ini mengungkapkan bahwa banyak di kalangan alumni yang punya uang banyak dan juga banyak yang telah menjadi decision maker di perusahaan-perusahaan besar (ya termasuk ibu ini tentu saja), akan tetapi selama ini yang terjadi adalah hanya segelintir alumni muda “yang beruntung” yang bisa mendapatkan akses tersebut, lebih banyak yang merangkak sendiri, banting kanan banting kiri, mencoba survive sendiri. Di satu sisi tentu saja bagus,menjadi kuat sendiri, tapi ada satu hal yang sebenernya bisa dicapai dengan adanya network yang luas yaitu akselerasi.

Menjembatani pertemuan antara pebisnis muda dengan pebisnis tua ato dengan kalangan industri. Toh katanya ada banyak banget alumni yang jadi decision maker di beberapa perusahaan besar, dia menyebutkan beberapa contoh para decision maker temannya yang bisa dikontak dengan mudah. Kemudian dimasukkan sebuah ide investor forums yang dilaksanakan secara berkala dengan tema yang berkesinambungan. Tentu saja in sebuah ide yang perlu didukung. Idenya! dan tidak mesti orangnya.

Ya inilah yang sedang rame digelar oleh salah satu universitas yang katanya pernah menjadi terbaik . Katanya lo ini, belum tentu juga. Pemilu Ikatan Alumni. Euphoria politisi muda, dukung mendukung, kasak kusuk sudah mulai terasa. Selain presdir MNC tadi, ada satu menteri, dirut salah satu BUMN, dan pengusaha lumayan gede yang meramaikan bursa pencalonan. Hmmm…biasanya para calon itu jadi lebih ramah dari biasanya, tangan jadi lebih terbuka, senyum lebih banyak ditebar. Undangan sana sini, loba lobi…Yang muda-muda ikut bergerak mencari “sandaran”, mencari batu loncatan sapa tau kecipratan bau kemenyannya.

Sepertinya semua calon punya visi yang mirip. Tidak ada yang beda. Selalu melangit. Yang membedakan adalah komitmen dan idealisme. Saya sendiri heran kenapa orang-orang itu yang notebene sudah punya jabatan “aduhai” dan berkelas mau-maunya berebut kursi ketua IA. Saya pernah nanyain ke temen saya yang notabene alumni universitas lain tentang pemilu ikatan alumni mereka dan ternyata kondisinya memang tidak seheboh pemilu IA ini.

Kalo saya sih mikir oportugisnya aja, diajak roadshow ke para calon, ayo aja, bawa produk dan proposal sekalian iseng-iseng ketemu para orang hebat yang memang punya “aura”. Sapa tau ketularan nantinya. Ketularan yang baik-baiknya...

Tuesday, October 02, 2007

hanya begini, seperti ini...saja

Di Bandung ini ada sebuah warung es yang sangat laris. Tempatnya di daerah Tubagus Ismail, terkenal dan bahkan sudah masuk acara kuliner tipi. Sop buah/Es shanghai Fadhilah kalo Anda pengen tau namanya. Warung ini emang luar binasa. Apalagi pas puasa ini, ramenya minta ampyun deh! Saking ramenya, penjualnya bahkan seperti sudah lupa dengan istilah senyum sebagai materi jualannya. Kalo istilah kerennya cool. Tidak perlu senyum, senyum hanya untuk penjual yang tidak berhasil, tidak rame dagangannya. Toh keberuntungan sudah di depan mata dia. Semua pembeli telah menjadi umatnya, para evangelis yang siap membela “mati-matian”, berfatwa ndower kesana kemari tentang barang yang sedang dibelinya (diantre) olehnya.

Saya ini bisa jadi juga termasuk orang yang aneh, sudah antrenya mengular gitu, tapi tetep nekat berambisi untuk dapet es seciduk kecil yang harganya pun ga seru seru amat, cuma 5000 an perak.

“Yess!” Seru salah seorang teteh mahasiswi kece yang sumringah begitu mendapatkan es seciduk itu.

Malah ada yang lebih dramatis lagi ketika dah dapet barangnya, kemudian cerita ke bapak ibunya.

“Mah, aku menang!” , katanya berbinar binar seperti habis dapet lotere satu miliar.

Memang yang dijual hanya sekedar es yang kemudian sering juga disebut sop buah. Sop buah adalah ya buah macem-macem mule dari melon, labu, timun suri, apel, anggur, dll yang diiris-iris besar kemudian dikasih kuah air kelapa, finishingnya dileletin susu putih. Anda membayangkan gimana? Tapi pertanyaannya kenapa merelakan antree berdiri berderet-deret di warung itu?? Apa ngga ada warung laen yang jual? Jawabannya adalah tentu saja ada dan banyak!

“Seperti pemandangan antri sembako jaman G30S aja!”, kata saya yang ternyata ikut antri juga (hehehe).

Sungguh saya sendiri sering heran terutama pada diri sendiri kok mau-maunya ikut dalam “perburuan dan pertarungan” seperti itu. Dan emang, pertarungan kaya gini ternyata adalah sebuah kenikmatan tersendiri. Kadang dia melebihi harga yang harus dibayarkan. Okelah es tadi enak, tapi apakah dengan meminumnya bisa sampe buat kita mabuk kepayang, meregang kesana kemari dan terserang ekstase menjadi sensasi tiada henti? Antrean mengular, penasaran, sensasi bercerita dan “rasa kemenangan” bisa jadi lebih mendominasi fantasi saya daripada kenyataan nantinya.

Saya jadi inget lagi kebiasaan temen saya yang rela berganti-ganti toko hanya untuk memburu obral dan mendapat satu barang murah (padahal harganya juga ga beda-beda jauh). Semangat 45 nya kadang membuat wajah saya terpaksa harus rada berlipet-lipet mengikuti kemana arah langkahnya. Bagi temen saya, bukan di nilai barangnya tapi di kepuasan dan kenikmatan seolah telah menemukan harta langka ato bahkan mungkin memenangkan sebuah pertempuran besar.

Itulah mengapa di puasa ini saya lebih sering lapar mata dalam artian berfantasi yang berlebihan daripada kenyataanya. Fantasi saya tentang rasa es (sop buah) yang begitu luar biasa akan segera menjadi biasa saja ketika bedug magrib tiba. Cukup seteguk, dahaga sudahlah. Ato fantasi seorang perjaka tentang sebuah mahligai pernikahan (hahaha..berkaca diri sendiri) yang akan berbunga-bunga, penuh romantisme dan luar biasa indahnya-seperti provokasi buku. Padahal sepertinya di kenyataan sesudahnya ga gitu gitu amat ya? Sepertinya semua akan menjadi biasa-biasa aja.

Sesuatu yang belum terjadi kadang begitu kita dewa-dewakan, kita lebih-lebihkan. Ngutip istilah dari Prie GS, Kehausan dan kelaparan adalah sesuatu yang disini, begini dan hari ini, sering “cuma” butuh teh panas setegukan. Tetapi ketika ia ditempatkan “disana” terpaksa dibutuhkan sekarung lauk pauk, sebakul nasi, satu truk buah-buahan, 10 hektar lapangan golf, rumah mewah, pulau, dan seterusnya…

Padahal kehausan cuma seperti ini, cuma begini.

Seven things yang boleh/tidak boleh dilakukan/disiapin sebelum berbuka puasa :
1.Kalo pengen rada gretongan, dateng ke mesjid biasanya ada tajil gratis.

2.Makan/minum yang manis-manis tentu saja, kalo punya istri yang manis ya bolehlah diajak ikut serta .

3.Jangan nunggu buka sambil berenang, rada riskan soalnya.

4.Eh sambil nunggu bedug jangan ngerumpi, soalnya takut berisik, bisa bisa ga kedengeran bedug adzannya.

5.Sungguh hindari berbuka puasa di tempat dugem, soalnya sebelum bedug dah banyak yang ngrokok, takut asepnya masuk ke kita, batal duluan deh puasanya.

6.Jangan nyiapin jack daniels, vodka, wine, ato bir buat berbuka soalnya dijamin lebih mahal daripada kolak.

7.Jangan berantem, entar capek (kalo ini ga ada hubungannya deh). “Biariiin!”, kata temen saya.

Friday, September 28, 2007

penghilang stresss!!

kemaren maren ada forward an asik dari seorang temen, dan pasti dah banyak yang dapet ni imel...tapi lumayan buat ngilangin stress...

kalau udah stress atau ngantuk bener di kantor,
take time 7 menit dan matikan telepon anda, ayo ikuti senam ringan ini... gerakan yg betul...
headerversi2
ni ala taichi d ikit ..
sebagai intro n warming up..


headerversi2
tirukan gaya spt ni...
untuk mengendurkan otot bahu dan leher..


headerversi2
wa..wa.. aaaakula pahlawan bertopeng , gerakan tebar pesona

headerversi2
gerak ke kanan kemudian ke kiri.. yiihaaaa....

headerversi2
gerak ke kiri kemudian ke kanan... biar imbang balik in lagi arahnya...

headerversi2
ikuti aja ... jgn banyak comment

headerversi2
ambil kayu / bata pukul kuat kuat di dahi..kalau ga ada boleh pakai setumpuk paper work atau quotation
ini tips untuk menghilangkan ngantuk.. jamin jesplengggggg......


headerversi2
habis i tu buat gerakan tangan dan badan...
buat gaya happy aja.. jgn lupa senyum biar enak di liat....


headerversi2
kemudian goyang2 kaki dan badan ... memperlancar sendi bahu.... namanya goyang rege sebagian...

cik..cik..bum..cik..cik..

headerversi2
buat secara aggresive pula...
jangan peduli apa orang lain bilang.. lepaskan semua bebannnnnn..... "lepas...lepas...lepas...."


headerversi2
lenyap la semua stress... "lenyap....lenyap..."

headerversi2
buat exercise tambahan putar kepala ... " membuang sedikit beban yg tertinggal di kepala"

headerversi2
lihat wajah di cermin
sambil goyang2 n gaya .. cute ...


headerversi2
tahap akhir sekali, tahap manggil hokie..

"hoki...hoki.. lai.... lai....hoki hoki lai.... "

Friday, September 21, 2007

salam...dan saling menyelamatkan

Kira –kira sudah lewat hampir sebulan saya dihubungi seorang teman seangkatan kuliah dulu. Setelah sekian waktu kita emang tidak pernah terlalu akrab, tidak pernah ber-hai hai ato ber sms ria, kemudian tau-tau dia nelpon..

“ Euy, haloo bos pa kabarnya nih?
“ Oyy, Alhamdulillah baik boss…pije-pije kabarmu?


Tidak banyak basa-basi berlanjut. Dia langsung ke point tujuannya.

“Eh katanya loe udah punya rumah makan 7 cabang ya? ? Gini nih…”

Walah isu bagus (do’a) darimana ini, tapi saya diem dulu tidak mengomentari apapun, saya nunggu penjelasan dia.

Aku mo nawarin sistem nih buat restoranmu…bla bla bla…”, panjang sekali dia cerita.
Temen saya ini disamping bekerja sebagai IT support di perusahaan asuransi juga punya usaha domain dan hosting. Dari ceritanya dia punya 8 server yang dia letakkan di beberapa tempat, sehingga dia meyakinkan bahwa dengan system yang dia tawarkan, “rumah makan saya” yang bercabang-cabang (doanya orang lo) akan lebih terpantau, teratur, ter-efesienkan lah pokoknya. Saya di moment itu hanya jawab dengan kata ya… ya… ya…bagus tuh, oke juga…dst.. Baru setelah semua penjelasannya kelar, saya ngomong ke dia.

hehehe…sori bos, kata siape tuh? Engga kok, ga bener itu! Nanti suatu saat deh moga-moga iya”

Di detik berikutnya saya menangkap sebuah nada kecewa di seberang telpon, setelah pamit telpon ditutup.

Selalu ada kejadian yang menyindir saya. Bahkan yang menimpa diri sendiri. Bener juga kata Tukul, segala yang kita lakukan adalah cermin yang akan selalu memantulkan apa yang ada di diri, apa yang telah dilakukan. Selama yang kita lakukan baik, maka kebaikan itu akan memantul di kita. Dan buruk? Tentu saja.

Kalo inget cerita di atas, saya jadi keinget, seringkali saya ini pun menghubungi teman cuma kalo lagi butuh, kalo sedang memerlukan bantuannya. Lewat dari itu saya jarang sekali ato mungkin malah tidak pernah mengulik-ulik nomernya (padahal teknologi murah seperti sms dah banyak!). Bahkan untuk bersay hai…assalamualaikum pa kabar, semoga semua baik baik aja..dst pun jarang.

Iya..itu emang basa basi, tapi lebih dari itu semua, hai..Assalamualaikum, apa kabar, adalah SALAM. Kata Cak Nun, SALAM adalah janji untuk saling menyelamatkan. Selamat dunia akherat. Mengapa demikian? Agar rahmat (anugerah Tuhan tanpa pilih kasih) bisa menjadi berkah (rahmat yang telah diorganisir, disusun, dan ditata) bagi semua. Aturan, AD/ART, dan lain sebagainya sesungguhnya dibuat dengan tujuan agar rahmat bisa menjelma berkah. Cara agar rahmat menjadi berkah adalah setiap hari kita harus meneguhkan salam. Diucapkan maupun hanya dalam hati. Itulah yang semestinya dilakukan bangsa Indonesia. Presiden mesti salam kepada rakyat. Anak salam pada orangtuanya. Suami mesti salam kepada istri, dst dst. Mungkin tidak harus tiap hari, kita tentukan saja sesuai proporsinya.

Dari sisi bisnis pun ternyata ada benarnya. Teman adalah jejaring rizki, dan network ini bisa menjadi networking (menjadi kata kerja) kalo dijalankan. Akhiran –ing dalam tindakan nyatanya (bagi saya saat ini) adalah memencet tuts hape, dan mulai menghubungi temen-temen saya, mulai bertanya apa kabarnya, bagaimana keluarga, dah punya istri berapa… eh… dah punya anak berapa hehehe…dst. Gambaran sederhana efek salam yang berkelanjutan, kalopun saya bener-bener punya restoran berjumlah ratusan pun, kemudian tiba-tiba teman lama yang tidak pernah ngontak, tidak pernah ber-hai-hai, tidak pernah ber-salam, menjadi sangat ramah, meminta sesuatu kepada saya, apakah saya akan menerimanya begitu saja? Wah ini juga belum pasti, tapi saya yakin intensitas networking akan sangat berpengaruh untuk memperlancar hal-hal seperti ini.

Jadi...
sudahkah kita punya keinginan untuk saling menyelamatkan? Berapa banyak manusia yang sudah kita beri SALAM…hari ini? Orang tua kita?

Thursday, September 20, 2007

seni..dilihat dan dirasain

Untuk memproduksi sebuah karya luarbiasa dibutuhkan usaha yang luar biasa juga (ya iyalah hehe). Walaupun pada akhirnya luarbiasa pun adalah relative, tapi untuk menghasilkannya tetap dibutuhkan detil dan kecermatan tinggi. Ketika tim dari LOKILAKI membuat background untuk game, ada sebuah pertanyaan yang saya sampaikan pada mereka,

Bener nih gambar kaya gini cuma muncul 1 (satu) detik ato jangan –jangan malah kurang dari itu??!
Mereka pun jawab enteng, “Yoi…”
Singkat, padat, dan sempat bikin tidak habis pikir.

Kemudian di kesempatan berikutnya saya coba membandingkan hasilnya dengan “background” yang biasa-biasa saja (terkesan asal jadi). Dan memang, ada sesuatu yang beda.

Ternyata benar juga, seni itu tidak hanya sekedar soal dilihat tapi juga soal dirasakan. Kadang detil itu tidak secara kasat mata terlihat tapi ketika detil itu dihilangkan, maka akan ada sesuatu yang kurang well, kurang mantap.
Sebage informasi, ada satu studio animasi Jepang yang sangat concern dengan detil, kalo diibaratkan music dia ngambil jalur music klasik. Coba lihat perbedaan dengan studio Gibli ini.

Mo cerita dikit tentang game yang kami bikin
Overview game The Rather Perilous Adventures of Nusa Newman ato Petualangan Agak Berbahaya Nusa Newman

Jurnal Nusa yang berisi info tentang konsep meriam diambil oleh Willem Van Besaar dan karena Nusa tidak mau diajak kerjasama, maka dia segera ditendang keluar kapal, dan kemudian terdampar di Pulau Tikus. Dia ingin menyusul Van Besaar yang menuju Batavia untuk mengambil kembali jurnal yang sudah dirampas. Untuk mendapatkan tiket kapal ke Batavia, Nusa harus menyelesaikan terlebih dahulu berbagai misi yang melibatkan banyak orang dan beragam persoalan. Cerita menjadi lebih menarik dengan adanya mini game di beberapa scene dan juga penjelasan hukum-hukum alam/fisika yang disampaikan dengan sederhana tapi mengena.


Buat diliat-liat…ini sebagian snapshot game hasil karya LOKILAKI (jumlah total scene 30 gambar, karakter 20), walopun belum secanggih Studio Gibli, tapi ya lumayan ok lah..dan sebentar lagi Insya44J akan mengguncang Indonesia dengan varian komik dan animasinya hehehe…

cover depan game


Nusa Newman dan Lois D'Impresa di hutan monyet


Nusa Newman dan Cak Nuris di dermaga

Nusa Newman di rumah paranormal Mbah Singo Putih

Friday, September 14, 2007

ngeblog lagi...Ramadhan kali ini

Dear all

wah dah lama ga ngeblog ya!! ternyata memulai kembali sama susahnya dengan memulai dari awal. sepertinya butuh energi aktivasi yang lumayan tinggi...tapi intinya horeee bisa ngeblog lagi!! setelah pindahan kantor, setelah nyambung internet lagi, setelah nyelesain produk beta untuk Adventure Game yang kami buat (eh iya doain menang lomba ya...:)...

Setelah ternyata sekarang masuk Ramadhan...
..btw hawanya kok jadi me- Rangga -AADC- yaaa hahaha

Ketika pintu amal dibuka seluas-luasnya
Ketika tiap jengkal langkah menjadi catatan
Tiap detik nafas adalah perhitungan
…yang dilipatgandakan

Ramadhan kali ini…
apa kabar hati?


Berduyun-duyun,
Bershaf-shaf,
Bergerak bersama, bersukacita
Menghidupkan rumah-rumahNya
seperti memendam penuh kerinduan
seperti sebuah kesempatan yang tak mesti datang

Ramadhan kali ini…

Masih begitu lekat…
Sudahkah mulut yang sering menyakiti, beramadhan?
Sudahkah mata ini beramadhan?
Sudahkah tangan ini beramadhan
Sudahkah kaki ini beramadhan…

setelah ramadhan kali ini…
Apa kabar hati?
sudah berapa lama ramadhan terlewati?
sudahkah beramadhan tubuh dan hati ini?

Alhamdulillah…
ah ya…
bibir ini masih sempat basah dengan hamdalah
masih diberi kesempatan
masih diberi kelonggaran
Gusti Allah masih memberi waktu…
Detik demi detik…
memanfaatkan waktu istimewa
untuk merasakan indahnya Ramadhan

Sahur di pagi buta
Menyambut subuh dengan seluruh suka cita
tadarus penuh tunduk
melatih lidah sering bertasbih, mengagungkan asmaNya
keinginan sederhana, mencoba sholat tepat waktu
ada janji suci yang diharapkan, berlomba berkejaran…
Hmmm…yah
Semua ibadah seperti menjadi lebih mudah
Tidakkah ini menjadi kenikmatan yang tidak dirasakan hari-hari lainnya?

Bukankah harusnya saya sennatiasa merindukanNya
Bukankah harusnya saya mencintaiNya
Bukankah harusnya saya membahagiakanNya
kalau kemaren sempat alpa,
Bukankah sekarang saat yang indah untuk memulai itu semua?

Duh Gusti…
Saya mohon ampun...
karena ternyata saya lalu asik dalam kata-kata sendiri
memutar mutar kata
mengindah-indahkan
dan…
tak terasa menenggelamkan
tapi yah..
biarlah..

untuk ibu saya yang juga menjadi kedua orangtua saya
untuk sahabat-sahabat saya semua
untuk semua teman saya
untuk yang dicinta dan Tercinta
siapa saja…

sungguh bukan latah mentang-mentang menjelang ramadhan
karena kali ini,
hanya kesempatan mudah untuk meminta,
sebuah maaf…

dari hati yang paling dalam
maafkan saya lahir batin…

Selamat menjalankan Puasa dengan semangat membara!!


NB : (kata Ustad puasa artinya beda sama shaum)
- buat Cahaya Kebaikan -

Tuesday, July 24, 2007

lagu baru



beda sama lagu sebelumnya yang format "acoustic sendirian", kalo lagu ini dibikin bisa untuk format "ngeband"..ini liriknya

pada malam


waktu berputar menjauh
meninggalkan diriku
betapa dunia tlah banyak berubah
tapi mimpi ini terhenti

mungkin tak slalu terjadi
apa yang kuingin
kuhanya bisa mengendapkan perih
sgala yang tak dapat kuraih

dah hanya saat malam
aku melihat hidup
membangun semangat
yang mulai sirna
dan hanya pada malam
aku melihat hidup
merangkai kembali sebentuk cinta

Wednesday, July 18, 2007

psycho!

“Wah yang namanya godaan itu ya, ada aja caranya…”, kata temen saya memulai obrolan.

“heh, emang godaan apaan?” tanya saya.

“Ga tau nih, kenapa godaan yang bertubi-tubi justru dateng sekarang, seminggu ini!” Dan tadi siang sungguh yang paling gila diantara rentetan godaan selama ini! Aku ga habis pikir apa sih yang ada di pikiran wanita itu! Gila, psycho!” nada suaranya mulai meninggi seperti tak percaya dengan apa yang dialaminya.

Saya semakin penasaran denger temen saya ngedumel, “ Lah , apaan sih, godaan, wanita, ga percaya, blablabla, yang jelas dong…”

““Pernah ga ente berhadapan sama orang yang sangat sangat nekat? sesaat temen saya diam sambil menggeleng-geleng kepala. Kemudian dia melanjutkan, “Gini lo…Kamu taulah bentar lagi aku nikah, seminggu lagi coy! Tapi kenapa coba justru di saat saat seperti ini godaan justru dateng bertubi tubi, godaan yang khas menghantui laki laki…Yah wanita!! Apa lagi! Aku pun bingung karena bahkan ga hanya satu! Dan yang lebih gila, ga hanya itu saja!”

“Hehehe…” Saya senyam-senyum sambil nunggu cerita berikutnya. Saya jadi inget cerita temen saya yang lain, suatu saat dia jadi banyak pilihan calon, tapi di saat lain seperti paceklik sepi tak berujung.

Temen saya melanjutkan dengan lebih semangat daripada tadi, ”Yang satu janda, cakep sih hehehe, dulu aku pernah ceritain kan? yang satu dah punya suami, dan terakhir, Counter Service kantor gue, ini nih yang paling gila, psycho! Padahal di hari-hari biasa mereka keliatan jaim, tapi sekarang yang ada malah aku kesel sekaligus ngeri! Bayangin, seminggu sebelum nikah! Kok bisa?!”

“Alah apaan sih…? Langsung aja deh!” Saya jadi penasaran ga sabar denger dia ngedumel.

“Ck ck ck…apa engga gila! Tau ga apa yang diucapin sama si wanita gila itu?

“Weh,ya engga tau!

Temen saya melanjutkan, “Gini katanya, Den, tau ga aku kaget banget pas denger kamu mau nikah secepat ini. Aku tau kalo kamu ngrencanain nikah, tapi ga pernah nyangka kalo secepat ini! Aku jadi bingung seperti ada yang hilang, aku seperti ga bisa nerima kamu jadi milik orang lain, masihkah ada kesempatan buat aku..dan….ini nih bagian yang gilaaa!! Katanya, aku pengin ngerasain kamu sebelum si teteh! Perawanku aku kasih buat kamu aja…Aku rela disuruh apa aja deh. Waktuku tinggal seminggu ini kan, aku janji dalam 4 hari ini aku akan melayani kamu sepuasnya…mau ya? Please…”

“Wah…gendeng, sumpe lo!”

Yah ini sungguh cerita temen saya yang tanggal 22 Juli ini mau menikah. Walopun sudah berkali-kali denger cerita dia tentang ajakan-ajakan “menggoda” kaya gini, tapi untuk yang terakhir ini sungguh yang paling saya ga ngerti. Buat temen-temen yang tinggal di Jakarta ato dimanapun yang katanya “gaul” mungkin ga asing dengan dunia kaya gini. Tapi sungguh bagi saya, dunia Hollywood kaya gini masih saya anggap gendeng, edan ga ketulungan.

Seven things yang bisa meruntuhkan hati laki laki
1. Di awal perjumpaan tentu saja fisik! Hmmm..ada benarnya juga kalo untuk sementara cowo akan milih kepri-bodi-annya

2. Bisa juga dari bahasa tubuh yang luwes, cara bicara yang menarik (“terlihat” smart)

3. Nah yang berikutnya adalah apa isi otaknya. Sekedar kerutan-kerutan ato malah isi yang pliss deh.

4. Kalo ketemu karakter wanita yang membuat laki laki berasa jadi seorang “laki-laki”. Sebuah karakter wanita yang “membutuhkan” kehadiran laki-laki.

5. Level berikutnya adalah “perhatian”. Seorang laki-laki biasanya sering dan sangat tak berdaya dengan hal kaya gini. Nah keplesetnya cowo jadi makhluk yang paling gampang ge er.

6. Laki-laki tuh biasanya seneng banget dipuji, apalagi tentang segala kehebatannya, oleh cewek lagi! Dhog dheng pokokmen! Catetan: makanya mohon jangan mudah mengumbar pujian, entar cowok geer, Anda (wanita) akan repot ndiri hehehe…

7. Yah pokoknya intinya cantik, seksi soleka…huahahha…(Ini prasyarat paling naïf dari temen saya)

Sunday, July 15, 2007

hobi baru

simbok ini kemaren koment :
eh mas, lagu kopdar-mu itu lhooo...ngekek2 aku dengerinnya. sempet2nya bikin ya? hihihi...

la saya yang dengerin juga ngekek-ngekek sendiri...:D??
warungkopi sebenernya akan lebih asik kalo ada live musicnya...
yah suatu saat kalo diberi umur dan rizki pengin bikin warungkopi ato warung apapun...yang ada live musicnya...

nah...selain nulis di blog ternyata yang njagani warung ini punya hobi lain...

bikin lagu!!

...masih ecek-ecek, bener-bener iseng disela-sela mikirin usaha, cari makan (orderan, hehehe)...en tentu saja masih sangat jauh dari ok, nadanya masih mentah, ga ada aransemen apapun (yang bikin ga bisa soalnya), suaranya fales fales (la bukan arteeeezzz)!

dan yah namanya juga hobi..seneng2 aja, bukan buat profesional2 an.

Ada beberapa lagu yang (kalo mau..) bisa didonlod disini


tengkyu...

Tuesday, July 10, 2007

Masa Kanak-kanak Kita Makin Panjang?

yang bikin kopi : OM DANTE


Musim liburan! Bulan2 tengah tahun, Juni-Juli ini semua yang ngaku masih sekolah pasti dapet jatah libur. Ada kabar menarik seputar liburan ini, setelah kemaren saya nulis tentang bisnis tersier yang merosot, ternyata memang tetep ada bisnis yang panen. Dan bisnis itu bernama bisnis hiburan!...berwisata, panggung pertunjukan, maupun hiburan dalam bentuk individual game(sports, game console-Playstation,Xbox,SEGA-, internet dll)...Betapa prinsip dunia yang berpasang2an emang ga pernah dilanggar:kalo ada yg lagi sepi, berarti sedang ada yg rame...kalo ada yang lagi untung berarti ada yang lagi rugi…betapa semuanya sebenernya adalah tunggal dan tetap.

Ada satu hal yang pengen saya garis bawahi di sini, bisa dikatakan melanda seluruh dunia-alias jadi trend global- yaitu kecenderungan masyarakat dari berbagai umur berlomba2 menuju tempat2 hiburan. Ga ada lagi mainan anak2 atawa mainan orangtua, tapi siapa aja asal suka, kuat bayarnya langsung aja gabung. Di sisi yang lain, para pemasar bisnis hiburan saat inipun sangat paham untuk tidak melakukan segmentasi berdasar usia tapi segmentasi berdasar ketebalan kantong. Udah mahfum.

Khusus masalah eksploitasi ekonomi seperti ini sebenarnya berakar dari sisi diri kita -manusia- sendiri. Dunia psikologi pernah meneliti adanya sisi manusia sebagai hewan yang bermain(tuh disebut hewan(!) ) alias Homo Ludens. Dan bahkan di negeri Belanda tahun 70’an kalo ga salah sempet ada gerakan demonstrasi bertajuk Revolusi Bermain- yang memprotes para penguasa untuk memberikan upah dan waktu kerja yang memungkinkan masyarakatnya bisa melakukan apa yg mereka senangi, sekaligus menyuarakan kepada masyarakat untuk ga sekedar terlibat pada proses produksi alias kegiatan ekonomi saja. Hal ini bisa jadi menjelaskan kenapa bule banyak banget yg piknik di negara kita...karena para bule itu didukung komitmen negara mereka untuk meng-encourage hal-hal tersebut (la penguasa kita boro-boro mikirin warganya yak?)hehehehe....
Setelah revolusi di Belanda itulah kemudian bisnis mainan mendapat momentum, bahkan industri macam Disneyland merebak di seluruh penjuru dunia...yang kalo di Indonesia ya kayak di Dufan sono noh ....

Tentu saja setiap proses selalu ada residu (istilah saya) yang mengganggu. Jujur aja, sekarang ini, kita langsung jadi panik kalo disebut mature, dewasa, apalagi tua(!). Bener ga? Kita berlomba-lomba untuk selalu dianggap muda, dianggap masih segeeerrr, masih kenceng, masih awet. Ini bahkan bisa kita tandai dari perkembangan industri mode dan kecantikan=produk body-treatment yang menjanjikan awet muda, mempertahankan kulit jadi selalu seperti kulit bayi. Yang laki pun punya genre baru=metroseksual. Walah, mahluk macem mana lagi ini? Hal yang kemudian dampak jangka panjangnya belum tentu kita sadar...tapi fakta2 udah mulai muncul....

Ternyata tak hanya fisik ingin menyerupai bayi, seringkali tanpa sadar perilaku kita juga seperti anak-anak untuk menjauhi fungsi-fungsi yang bentuknya bertanggungjawab pada kepentingan orang banyak. Kita jadi egois? Sadar ga bahwa generasi mbah2 kita, yang kita sebut sebagai angkatan ‘45 yang lulusan SD pun bisa jadi presiden?pemimpin-pemimpin revolusi? Sadar ga kita bahwa para beliau yang sekarang udah mulai pensiun, mereka lulusan SMA dan bisa jadi kepala kantor? Sadar ga kita kalo yang sekarang umuran 30 ke atas, S1 dah dapet jatah kerja macem2? Trus, sekarang kita kudu sekolah S2 dulu baru berani nyari kerja?(sampai-sampai ada buku yang sangat provokatif ngasih judul “if you wanna be rich,don’t go to school!”, yang terinspirasi ucapan michael dell yang “menyerang” para lulusan harvard pada saat dirinya disuruh pidato di acara wisudaan di sana...)

Dari segi umur nikah pun menunjukkan kecenderungan yang mirip. Dulu, umur 12 taun dah punya anak sehingga muncul aturan pemilu 18+ atawa yang udah nikah...sekarang? dijawab ndiri ajah...soalnya gw jg blom kunjung laku, hahahahaha...
Trus naik ke parameter berikutnya...dulu 18 taun dah brani jadi pak RT, sekarang, hehehehe umur 30 taun aja blom tau tetangga2 kita itu butuhnya apa aja, karena asik teralienasi di kamar kost2an bareng urusan sendiri, PS3 ato TiVi ...

Apakah kita semakin mundur dalam “menjadi bijaksana”, ketika lingkungan kita semakin ribut, over-informed society? Semua informasi bejibun kita telen mentah mentah, sehingga tidak punya waktu untuk “mengendapkan” semua informasi itu menjadi keunggulan komparatif yang tetep berpegang pada value tertentu?...atau apakah ini salah orang tua saat ini yang punya kecenderungan tidak berani untuk menjadi tua? Sehingga anaknya ga boleh jadi dewasa? Atau sekedar karena keinginan memanjakan dengan memilihkan “jalan tanpa lubang” buat anak2nya?
Pertanyaan berikutnya, benarkah ini bukti kemajuan masyarakat? Apakah “kemajuan” ekonomi harus kita sanjung2 dengan segala tipu muslihatnya?
Ato justru kondisi ini menunjukkan gejala degeneratif? Huuu cepek deh…

Saya akan selalu mengucap terimakasih atas waktu temen2 untuk membaca coret2an ini, yang saya lakukan sambil ngebuka nutup window karena keponakan saya yg umur 2 taun keluar masuk kamar saya sambil memaksa saya ngegame feeding frenzy-nya Game House di laptop saya,

Lihat Paus Oom,”..emang game bisa membius segala umur! :)
Tapi, most of all, happy reading!

Tuesday, July 03, 2007

Pe eR untuk Membesarkan

Review Konsultasi dengan Konsultannya konsultan



Membuat sebuah perusahaan dengan membesarkan perusahaan adalah dua hal yang berbeda. Kalo kita diberi tantangan membuat perusahaan tiap bulan bahkan tanpa modal sendiri sekalipun sepertinya terdengar lebih mudah daripada membesarkan perusahaan yang sudah kita buat. Seorang teman, sekarang kebingungan sendiri karena mempunyai 4 perusahaan (bentuknya PT semua) yang keempat-empatnya masih –katakanlah- proses “kecambah”, dan harus mendapat perlakuan perawatan yang sama. Ini salah satu perusahaannya… Saya sedikit banyak bisa membayangkan proses berdirinya dan keempaat-empatnya itu dia bikin tanpa uang milik sendiri, hmmm…bisa jadi tidak terlau susah. Tapi yang menjadi masalah berikutnya adalah bagaimana merawat, menjaga, dan membesarkan “biji” yang sudah terlanjur ditanam tersebut sehingga jadi sebuah pohon yang kokoh dan menghasilkan kemanfaatan sebesar-besarnya. Ini yang pelik dan tidak mudah. Karena lama kelamaan mumet sendiri, akhirnya teman saya tersebut berencana memerger dua perusahaannya dan melepas satu bidang usahanya. Sepertinya dia menyadari untuk ngerawat “sebuah bayi” perlu fokus!

Iya saya pernah membuat beberapa beberapa jenis bidang usaha, asal gasak, asal keliatan ada pasarnya, asal jalan dulu, dan memang kesananya usaha itu jadi asal-asalan. Saya kehilangan tenaga dan enggak tahu harus digimanain, il fil dan …yahh…tutup deh…Ini nih yang kata orang disebut visi. Saya belum punya visi. Saya sendiri sampe saat ini masih harus banyak belajar dari teman-teman dan lingkungan sekitar tentang bagaimana mengelola sebuah perusahaan.

Anda pernah dengar profesi konsultannya konsultan? Tolong jangan percaya begitu saja kalo menejemen konsultan itu semegah yang diomongkannya. Terlepas bahwa perusahaan konsultan tersebut memiliki klien yang banyak, ternyata menejemen di dalamnya pun kadang nggak bener dan kacow beliaw. Sebuah perusahaan yang memberikan saran dewa tentang sebuah manajemen ternyata kerepotan melihat dirinya sendiri. Dia tetap membutuhkan orang lain untuk mengatakan bahwa sebuah rongga di bawah hidungnya adalah mulut. Dunia ini kadang emang lucu.

Nhaa, Om Ardi yang pernah nulis di blog ini profesinya adalah konsultannya konsultan tersebut. Kalo dia dibranding oleh temen-temenya tukang restrukturisasi. Sulitnya tukang ini sebenernya bukan pada menganalisis ragam masalahnya (profesi wartawan jago kalo ini), tapi justru bagaimana menemukan sebuah titik awal bergerak untuk memutus lingkaran setan dan mengeksekusinya. Tidak pernah makan sekolah manajemen, tapi saya berani jamin Anda akan mendapat penjelasan yang luar biasa enak kalo mendengar saran menejeminem dari dia. Tentu saja belum sehebat Cacuk Sudariyanto yang berhasil menganalisis masalah untuk menentukan titik awal bergerak, mengeksekusi dan bahkan merubah kultur birokratis Telkom hingga saat ini bisa menjadi perusahaan yang kompetitif.

Baru tadi malam saya dapet kuliah dan konsultasi gratis berjam-jam untuk menata sebuah perusahaan. Saya sodorkan pada temen saya itu angka-angka report mulai dari jurnal, buku besar, laba-rugi dan neraca. Awalnya saya hanya bertanya gimana sih nganalisis angka-angka itu? Saya pernah dapet akuntansi saat SMU, tapi sungguh baru tadi malem saya tahu maksud dari angka2 berderet ga jelas itu, dan gimana memperlakukannya…Yah singkat cerita obrolan mengalir sampe akhirnya pertanyaan besarnya bagaimana membuat sebuah SISTEM??

Kata James Gwee 80% perilaku sebuah perusahaan adalah rutin, dan setiap hal yang rutin pasti bisa disistemkan.

“Emang kenapa harus disistemkan? Bukannya selama ini proyek datang adalah karena networking pemiliknya, kenapa jadi harus ada marketing?”, tanya saya.
“Laiya kalo ada PEMILIKNYA! la kalo nggak ada yang pemiliknya gimana? La kalo yang punya sakit gimana? Masa sih usaha jadi harus tutup gara-gara tidak kita tongkrongin! Ayolah udah saatnya bikin usaha yang bukan sekedar warungan”, temen saya ngomong sambil mendelik-delik.

Yah, dan kuliah pun berlanjut sampe larut malam…menjelang pagi...gimana saya harus merumuskan lagi visi misi -yang benar- lalu berlanjut mulai bikin struktur perusahaan yang baku tapi bisa fleksibel (yang ternyata semua hal akarnya mulai dari sini-mulai dari cara penomoran surat, job desk, alur kerja, marketing, standar evaluasi, bonus, gaji, dst), sampe gimana menstrategi harga produk yang kita tawarkan, outsourcing..bla bla bla buueh bueeehhh…

Duh Duhhh…jadi banyak Pee r nihhhh…ternyata saya masih HIJAUUUUU!!

Seven Things yang terjadi pada mahasiswa ketika dapet PE ER dari dosennya
1. Ada yang malemnya bukan ngerjain kadang malah keluyuran ga jelas
2. Mata biasanya mbendul merah (berpasir) karena begadang malam sebelumnya (dan bukan jauh hari)
3. Ato malem2 segera nyari “sang master” (biasanya mahasiswi) buat copy paste
4. Kalo ga sempat malemnya, pagi-pagi banget merelakan dateng nunggu contekan
5. Kalo tiba-tiba rajin, berarti lagi ada cewe se mata kuliah yang lagi diincar (buat alasan biar bisa belajar kelompok)
6. Apaan sih…?
7. Apa Hayooooo…

Friday, June 22, 2007

Entrepreneurship

(trend, pilihan hidup, takdir atau epos?)

yang bikin kopi : DANTE
mas dante kayanya pengin mbagi pengalaman hidupnya nih..:D

Bosen dengan urusan kerjaan, saya baru saja jalan2 ke Gramedia, lumayan, menurunkan tekanan darah, mengurangi kram otak, dan eitsss...tiba-tiba cewe2 manis dengan celana harajuku melintas dan sungguh mereka emang provokatif...(hmmm…wanita)...
trus saya melirik-lirik barang2 yang didisplay..ufh, barang lama cuman teknik majangnya aja yang digeser-geser, ya udah, mending naik ke lantai 3 buat liat-liat buku baru...

Nyampe di lantai 3, ufh, the harajukus udah nangkring di bagian komik...tapi saya tidak tertarik untuk melakukan aksi flirting, saya muterin daerah buku2 best seller, hmm, agak tersentil ama maraknya buku yang bertema encouraging oneself untuk menjadi mandiri....saya emang ga melakukan survei kuantitatif, tapi berdasar feeling aja, kalo ga salah dalam 3 taun terakhir trend buku mulai mengarah pada pembentukan pribadi2 mandiri, yang dibahas mulai dari sisi psikologisnya, seperti serial chicken soup, ampe bagian bisnis sehingga istilah entrepreneurship kayaknya jadi kata yang mulai biasa disebutkan oleh lidah kita...gejala ini juga memunculkan tokoh2 penyebar semangat macam Purdi E. Chandra dengan enterpreneur university-nya(mastrie ga asing tentunya), atau kemudian pembicara2 ulung macam Tung Desem (Mister dahsat :P), Jaya Setiabudi, dan mungkin “nabi” baru Robert T. Kiyosaki yang terkenal dg 4 kuadran (derajat!) kehidupan manusia....

Saya sendiri adalah seorang self-employee kalo berdasar klasifikasinya Mr. Kiyosaki menurut temen yang ngikut pelatihan “rich dad poor dad” terlisensi, jadi saya blom boleh ngaku sbg biz owner-wah!
Memang hebad Mr. Kiyosaki ini, sampe bikin orang lain ga bole menjuluki dirinya sendiri, hehehehehe....

Sedikit cerita kilas balik, saya pengen berbagi cerita bagaimana saya berada di main stream trend buku2 hari ini: bisnis mandiri. Mungkin cerita ini ga jadi heroik kalo gw memulainya tidak cuman dengan modal dengkul. Trigger-nya ketika saya mengikuti sebuah seminar sekitar taun 1999(di mana buku2 mr. Kiyosaki blom diterjemahkan pokoknya, hehehe..), yang isinya adalah sambung rasa beliau para teknokrat yang akhirnya banting setir jadi pedagang (saya ga suka istilah bisnisman, hehehe). Di sana saya kepikiran untuk ga “jual ijasah” alias melamar kesana kemari jadi pegawai setelah lulus ntar, karena menurut formula hitung2an dari para speaker bahwa bangsa yang maju adalah bangsa yang minimal 10% penduduknya adalah pengusaha.. *Ting* saya langsung inspired mau jadi pahlawan Indonesia yang memberi solusi bagi bangsa ini atas penciptaan lapangan kerja..*yuuuhhuuuu*..dan gagasan ini memaksa diriku untuk menjadikan bisnis mandiri sebagai wacana pilihan jalan hidup pasca menyelesaikan kuliah.

Lalu cerita berlanjut, studi tetep gw lanjutkan, alhamdulillah tetep banyak A-nya, trus penelitian sempet didaftarkeun dapet paten, lalu di ruang sidang sarjana para penguji saya menawarkan opsi untuk melanjutkan studi lagi sekaligus sukur2 bisa melanjutkan penelitianku..tapi ceuk urang (kata saya), “ngga pak, saya mau nyari duit, negara menunggu saya segera berkarya,”ciee....*plok-plok-plok-plok-plok*....

Setelah semua seremonial kampus selesai, baru saya sadar bahwa menjalani wacana usaha mandiri ga gampang, bahkan setengahnya mustahil bagi saya yang sekolah saja butuh beasiswa karena saya memang ngga datang dari keluarga yang berlebihan secara materi, dan PNS, bukan pedagang...Mau mulai dari mana? Modalku apa? Lalu sempat saya menyerah dengan gagasan saya untuk tidak menjual ijasah, sehingga saya mulai nglamar-nglamar pekerjaan, dan *dhuss* setelah menghadiri interview selalu jadi kandidat terbaik, tapi entah kenapa selalu ada halangan di tahap terakhir..entah telat, entah gagal medical checkup, entah ga punya duit pas ada panggilan akhir(!), akhirnya saya frustasi....sampai saya bertemu dengan teman2 yang lebih tidak beruntung dalam hitung2an kesempatan dan capaian. Di sinilah saya memberanikan berkolaborasi dengan mereka di sebuah kesempatan memasuki dunia adu cepat kendaraan. Ternyata kami bisa membuat sebuah capaian-yang menurut saya- luar biasa, kami berhasil menjadi team implementasi sebuah standar nasional baru soal pengukuran waktu. Kami harus menentang para penguasa dunia balap Indonesia yang menikmati status quo standar lama...uphhh, kepanjangen kalo diceritain detailnya di sini...

Tapi dari pencapian itu membuat saya sadar, saya sudah maksimal di dunia balap dan saya masih punya Pe eR terhadap diri saya sendiri tentang bagaimana menjadi mandiri secara karya....keluar saya dari dunia hura-hura adu cepat, saya beruntung bertemu dengan seorang pedagang yang mengajarkan beberapa tips bisnis bagi pemula yang Nol Besar seperti saya, “business is all about trust building”, “duit itu cuma catetan,” “kalau mau bisa renang ya harus berani basah alias nyemplung, jangan cuman main di pinggiran kolam...itu cara nglakoni bisnis,” dan lain-lain...makasih oom dah “menampar” saya biar melek............

Cerita berikutnya saya dagang kaos...alhamdulillah, sempat mengguncang pasar tshirt pesanan di Batam..tapi lagi-lagi karena pemula, kami ga sadar bagaimana mempertahankan market...ga paham segmentasi, branding, kelewatan momentum, modal yang belom sempat ngumpul, dan diserang dengan persaingan begitu banyak pelaku, bisnis itu akhirnya hanya bertahan 2 tahun....

Lalu banting setir bisnis sekitar graphic design, berpartner dengan sahabat terbaik saya(hobinya fotografi, kalo mau liat foto2nya ada di www.flickr.com/photos/yellowsunday, hehehe)....pas pindah jalur inilah mulai deket dan ngobrol sama mastrie(biar blogger yang lain ngerti, bos)..ceritanya sama, sempat menguasai pasar, menjadi trend setter, tapi karena terbatas pemahaman tentang karakter pasar dan menejemen SDM, lewatlah modal partner-an yang puluhan juta itu...wah, padahal itu adalah amunisi terakhir... setelah dengan darah, keringat dan air mata dibangun selama 3 tahun, ternyata malah muncul betrayal dari dalam tim... lalu saya sempet limbung dan hampir aja putus asa, sampai saya memutuskan sebulan penuh liburan di Bali, ga kerja, hanya bersenang-senang bareng temen-temen baru dari manca(sssttt...ini karena ada subsidi liburan dari teman), dan membiarkan bisnis saya menuju satu kepastian: kebangkrutan berikutnya......

Di Bali saya banyak merenung....pokoknya ketika temen2 sedang asik motret2 objek wisata dan ngobrol sama pemandu2nya, saya biasanya menyendiri..dari aksi menyendiri itulah saya seperti sedang meditasi dan mencoba menemukan jawaban2 atas semua hal yang saya alami.

Di perenungan, awalnya saya protes sama yang “bikin skenario” atas hidup saya (Alhamdulillah, saya masih memegang keyakinan saya bahwa hidup ini berjalan bukan sekedar kehendak perut kita, tapi ada Invisible hand dengan Divina Comedia-nya mengatur jalan kita), kenapa saya diberi jalan yang beratnya minta ampun..saat temen2 saya udah mulai panen, saya malah bangkrut....Lalu saya dengan PeDenya “berhitung” dengan “beliau”...”Ya Gusti junjungan saya, saya itu memulai bisnis ini dengan niatan baik, mbuka lapangan kerja, untuk membuktikan janjiMu bahwa rejeki itu datang dari 8 penjuru arahMu(sukur2 termasuk pahlawan bangsa ini..)..saya bisnis itu Insya Allah ndak pernah melanggar hak2 temen2 yang mbantu saya-kalaupun pernah saya minta maaf dan muga2 itu bukan dengan kesengajaan-...trus saya bisnis itu ya udah nyoba pake ilmu, ga sekedar grudak gruduk...tapi kok ya diuji sampe titik yang sekarang.....mbok saya diberi kemudahan dalam nglakoni ini semua....” *dhuss* pokoke saya ngerasa ga tau harus ngapain setelah ini semua...kecuali satu...pulang dari Bali saya berketetapan apapun caranya saya harus bisa makan dengan otak dan keringat saya sendiri...

Yah lagi-lagi, keberuntungan masih selalu hadir di sela-sela kerja sporadis saya (karena masih berani menolak lamaran beberapa rekan untuk jadi menejer di beberapa tempat), dan yang menurut saya paling penting adalah karena orang-orang terutama inner circle masih mempercayai saya dan masih memberi semangat dan kesempatan, “Dan, kamu baru saja melewati kilometer pertama dari sebuah kejuaraan lari 10-K, dan setelah finish entar, ente masih kudu ngikuti kejuaraan-kejuaraan berikutnya,”(thx, pep) ...singkat cerita, saya berhasil mendirikan bisnis saya dengan modal duit sisa beberapa rupiah, saya sukses mengekskalasi omzetnya jadi beberapa ratus kalinya di tahun ke dua, walau saya pun masih punya kewajiban harus membayar hutang2 saya masa lalu, jadi saya masih tetep harus banyak “puasa” hehehe...dan saya lakoni semua itu hari ini dan muga2 dagangan yang sekarang seterusnya awet.....

Nah, sebenernya dari titik inilah kemudian saya cukup heran ketika baru saja kemaren, tiba-tiba beberapa temen(herannya lagi kok ya waktunya berdekatan, seperti janjian...) datang dan meminta “petunjuk”, “kalo gw keluar dari kerjaan gw sekarang, loe mau ngajarin gw bisnis?” karena saya tau persis betapa yang saya lakoni ini sangat tidak populer bagi para mertua...(karena saya dan mastrie pernah punya pengalaman sama soal calon mertua...hahahahaha...)ketika tingkat ketidakpastiannya sangat tinggi, resiko yang lumayan bikin adrenalin memuncak eh, kok malah pada mau ngikut.....

Saya sempet tanya, “emang bukannya enak bergaji puluhan juta sebulan, ga nanggung resiko macem2, di mana2 dapet garansi dan jaminan....” dan lebih mengejutkan lagi adalah jawaban mereka yg macem2 tapi kurang lebih ada persamaannya, ”kayaknya kamu memilih jalan yang gue banget”, whatever..... saya belum tahu kelanjutan dari obrolan sama temen2 di atas, tapi saya cuman mau kembali mengomentari buku-buku baru itu dan bertanya pada temen-temen yang baca tulisan saya ini dan kepikiran untuk mandiri, sama kayak temen-temen saya tadi:
“....so, masih pengen jadi entrepreneur?”

“Only those who can see the invisible can do the impossible” (makasih, mas Jaya)

Wednesday, June 20, 2007

BULAN JUNI, SAATNYA BELI BARANG MURAH!

(Pendidikan, tanggung jawab siapa?)

yang bikin kopi : DANTE


Terimakasih buat mastrie, yang dengan senang hati menawarkan sepojok ruang di warungkopi-nya buat tempat berbagi ide. Saya memilih mengambil porsi di kolom dengan lodhong yang lain, jadi ntar kalo ketahuan ga enak, tinggal ga usah dipesen lagi aja ama yang punya warung, begitu mas trie?

Trus sebagai tulisan perdana(muga2 juga bukan yang terakhir) :D saya coba nulis hal yang sudah sehari-hari menjadi sebuah topik di masyarakat kita. Saya mau mencolek temen2 blogger dengan fenomena di sekitar bulan Juni ini dan beberapa saat ke depan.

Bagi rekan2 yang sudah punya anak apalagi usia sekolah, atau kalaupun belum-seperti saya-, ya setidaknya mulai merasakan kiri kanan kita, betapa para orangtua mulai nampak sibuk untuk ancang2 urusan mencarikan sekolah. Rumpian di sekitar kita akan berkisar tentang tahun ajaran depan ke mana anak2 akan sekolah. TK yang bonafid mana? SD favorit mana? SMP terbaik di mana? SMU dengan reputasi terjaga yang mana? Lalu ujung2nya, “wah, kudu mulai membedah tabungan nih…”..mungkin terdengar naïf, ataupun terlalu remeh temeh bagi yang tidak melakoninya, tapi setidaknya akan ada golongan yang mengeluh berat dalam masa seperti ini, yaitu bagi para pelaku perdagangan terutama komoditas consumer goods sekunder karena mereka akan langsung paham imbasnya:omzet penjualan akan anjlok drastis!

Alasannya sangat klasik:duitnya buat nyekolahin anak, bukan buat barang yang aneh2!…nah itu bagi yang punya duit, bagi yang ngga punya duit, maka berlomba2lah nyari pinjaman, utang kiri-kanan, gadaiin macem2, jual barang macem2 mulai mobil, gadget, sampai kambing, bahkan tanah warisan! Sehingga, sebenernya kalo mau dapetin barang murah-terutama 2nd hand-an di Indonesia, tunggulah bulan2 ini(bukan pada waktu deket lebaran, catet!)
Tapi selain bulan Juni-Agustus adalah saatnya rajin baca iklan baris untuk dapat barang2 dengan status DIJUAL CEPAT: BU(butuh uang-pen.), hal ini sebenernya juga membuat saya miris.

Kenapa? Karena artinya sebagian masyarakat kita sangatlah kewalahan dengan biaya pendidikan kita akhir-akhir ini. Dan fenomena tahun ajaran baru ini menghebat pasca pemerintah kita malah mencoba melepaskan diri dari tanggung jawab mencerdaskan bangsanya sendiri setidaknya dengan banyak mengeluarkan kebijakan atas pendidikan yg diswastanisasi, termasuk perguruan tinggi negeri yg sekarang statusnya jadi BHMN.
Sebagai sebuah negara, harusnya pemerintah dan para politikus yang berebut kursi di senayan berani berinvestasi pada kualitas SDM yang kompetitif, shg rakyat seharusnya mendapat kompetisi yang seimbang sehingga negara ini selalu mempunyai stock putra-putri terbaik yang siap membela asset negara ini menghadapi tantangan jaman. Bagaimana inti membentuk kompetisi yang seimbang? Akses ke pendidikan yang relatif setara untuk semua kelas masyarakat jawabannhya.

Dari sini kemudian muncul kontradiksi yang mengkhawatirkan di dunia pendidikan kita: masyarakat kita butuh sebuah sarana pendidikan yang memadai agar mereka punya bekal untuk bersaing mendapatkan penghidupan yang layak. Tapi di sisi yang lain, biaya untuk mendapatkan pendidikan begitu membebani leher…(bukan hal yg baru sekarang kalo denger berita orang menjerat lehernya sendiri gara2 biaya sekolah, ga cuma bapaknya tapi bahkan bocahnya sendiri-dan ini bukan sebuah peribahasa!).

Kita sedikit bandingkan ama China yang relatif maju di segala bidang, padahal UMRnya lebih bagus Indonesia secara nominal(sekitar 400rb/bln)?mengapa mereka bisa?karena di sana negara sangat berkomitmen terhadap pendidikan warga negaranya. Pendidikan boleh diakses oleh siapa saja yang emang punya bakat alias beasiswa gratis sepenuhnya. Berbakat olahraga ya masuk ke pendidikan olahraga dan jadi atlet…berbakat matematika ya dapet pendidikan matematika dan jawara olimpiade matematika(untung di Indonesia masih punya Yohannes Surya, shg tim olimpiade fisika Indonesia masih bisa bicara di tingkat internasional-tapi lagi2 ini bukan komitmen Negara!-)

Blom lagi kalo kita membandingkan capaian bangsa kita ama Vietnam..sedih dah kita (harusnya…). Negara yang baru kemaren terbebas dari perang saudara dan terlepas dari aksi rambo-rambo Amerika ini ternyata sudah mulai menguasai bibit2 tanaman unggulan yang dipamerkan peserta pameran agrobisnis nasional di Soropadan Expo-sebuah terminal agrobisnis di Jawa tengah yang dibuka presiden SBY (kebetulan saya datang dan yang kembali disayangkan,selainnya vietnam dikuasai bibit dari thailand!) Ke mana penelitian bangsa ini?

Ngobrolin gini emang bikin 50+50, alias Cepek deeeehhhhh!!!!....

Trus kemana aja kita?ngapain aja kita sebagai warga negara? Apakah emang kita cuman mau menjalani ini semua dengan berpolitik diam lalu memaafkan diri kita dengan alasan2 sekitar “sibuk cari duit biar bisa sekolahin anak2 kita dengan baik”, ataukah kita bisa mulai dari sekarang untuk bersikap proporsional dan selalu mengusahakan agar ada Indonesia yang lebih baik? Bisakah kita tidak hanya reaktif pada hal-hal yang langsung menghantam kita(seperti seandainya kita tinggal di Meruya-Jakarta hari ini)..tapi mencoba menjadi “benar” di setiap langkah kita, menghayati setiap hak dan kewajiban kita, memilih pemimpin tidak dengan asal2an alias tidak sekedar karena kekayaannya, dan tidak mencoba mengambil yang bukan hak kita…

seven things? Ah, enggak.......

Wallahualam....
Salam perkenalan,
Dante

Friday, June 15, 2007

mulutku harimauku...


Dalam sebuah obrolan santai di warung kopi, temen saya pernah mewanti-wanti saya dengan pepatah yang bunyinya “mulutmu harimaumu”. Dalam bayangan saya muncul pertanyaan seganas dan semenyeramkan itukah mulut saya? Yah walopun lebar dan sedikit ndower tapi rasa-rasanya sih mulut ini ga pernah saya pake buat menerkam orang lain deh (rasa-rasanya!).

Dengan mulut saya ini, rasa-rasanya saya ga pernah nipu orang lain, rasa-rasanya saya ga pernah ngejek orang lain, rasa-rasanya saya ga pernah nyakitin orang laen, rasa-rasanya saya ga pernah berjanji-janji palsu, rasa-rasanya saya adalah orang yang hampir selalu baik dan benar seperti yang saya ucapin dulu waktu masih sering Pramuka. Yah rasa-rasanya…!

Tapi kemaren, skak mat!
Ah kamu suka janji-janji palsu sih! Kemaren katanya mau kesini eh taunya ga jadi, kemaren maren katanya mau nelpon eh udah ditungguin ga jadi juga. Pastinya sih hal-hal lain bakal kaya gini juga. Lama-lama capek juga deh denger janji-janji palsu!

Wakkkzz!
Kalo itu diucapkan di depan mata saya mungkin dia akan langsung ngeliat wajah saya yang seketika berubah jadi seperti kepiting rebus, jelek mbladhuzz. Tapi untungnya dia di seberang telepon, jadi saya sempatkan berdalih dengan “mulut saya”. Bla bla bla bli bli bli….mulut saya monyor monyor kesana kemari menari-nari mencari pembenaran. Dan saya yakin semua celotehan saya itu tetep tidak merubah penilaiannya terhadap saya. Walaupun dia mesam mesem tapi teep aja saya ngutuk diri sendiri! “Rasa-rasanya” saya ga pernah berjanji-janji palsu deh. Janji palsu kan dosa? Bukannya itu salah satu tanda orang munafik? Dan katanya orang munafik itu akan dimasukkan di neraka jahanam? Pesan yang pernah saya denger dari guru ngaji waktu masih kecil dulu terus terngiang-ngiang jelas di kepala saya. Tapi kenyataannya berapa banyak kemunafikan yang sudah keluar dari mulut saya ini? Berapa orang yang sudah saya kata-katai, berapa hati yang sudah lukai? Padahal katanya kalo hati dah luka, susah sembuhnya…Wah ngeri saya…

Karena “rasa-rasanya” saya benar, adalah subjektifitas saya sendiri. Walaupun subjektifitas yang tepat sasaran sesekali perlu untuk menumbuhkan kreatifitas, tapi seringya justru salah penempatan. Saya lebih sering berubah menjadi makhluk yang sangat egois untuk “rasa-rasanya” jadi seorang yang selalu benar dalam banyak situasi, yang lain salah. Dalam hal ini saya setuju kata AA Gym, “Bisa jadi saya benar, orang lain belum tentu juga salah, ato orang lain salah belum tentu saya benar, dst. Intinya dalam kenyataan banyak banget peluang ketidaktentuannya, kebelumpastiannya (bahasanya itu lo..:P)

Yang lebih parah , saya sering menggunakan privilege “manusia bisa khilaf” dengan seenak udel saya sendiri, sesering mungkin.

” Wah emang udelmu sering kamu cicipin apa? Emang bener enak?”
“Cicipin gundulmu itu yang aku gigitin!”

La iya, tenyata saya kadang butuh pembenaran untuk setiap kejahatan saya, baik disengaja maupun tidak disengaja. Walopun mungkin tidak merubah catatan di Lauh Mahfuz sana, tapi dengan sedikit pembenaran entah kenapa saya jadi bisa tetep survive. Saya jadi tidak terlalu larut dengan rasa bersalah tak berkesudahan. Iya saya salah, waktu itu saya khilaf, dan saya ga mau terulang lagi.
Saya jadi lebih optimis menjalani hidup, jadi tidak putus asa, dan saya masih merasa Gusti Allah ngasih kesempatan, ngasih waktu walo sedikit buat memperbaiki diri.

Bahwa saya harus hati-hati dengan mulut ini sepertinya akan indah kalo jadi bahan materi hidup saya. Karena mulut saya ini rupanya makhluk kanibal yang bisa berubah lebih ganas dari harimau yang bahkan tidak memakan anaknya sendiri (kecuali harimau murtad kali ya). Mulut ini kalo ga dijaga dia bisa menerkam siapa saja, apa saja tak terkecuali temen terdekat ato bahkan keluarga sendiri.

Kata temen saya, “ Ya udah ganti aja pepatahnya, Mulutmu kanibalmu”.

NB: Makasih buat “temen berarti” saya yang selalu ngingetin dengan caraya sendiri. Maafin aku yah. You’re amazing nice gal!!

Seven Things yang diucapkan laki-laki ketika “menghindar janji” dengan pacarnya :
1. Sayang, sebenernya aku bener-bener pengin jalan ama kamu,tapi mamaku minta dianterin nih! (…hati-hati dengan laki laki seperti ini, lebih baik cross check langsung ke mamanya-kalo berani)

2. Duh say, badanku lagi ga enak nih, kepala berat banget, bawaannya lemes aja (..hati-hati coba liat program2 acara tipi Anda, ada ga yang lagi nyiarin bola?)

3. Sori nih, kerjaan lagi numpuk, dedlen mepeeett (mending cek setengah jam kemudian, kalo hapenya mati bisa jadi dia serius, tapi kalo masi hidup berarti…co anda yang bodo!)

4. Wah aku besok UTS nih, kayanya ga bisa nganter belanja deh. (mending cek transkrip nilai pacar Anda, kalo nilainya “baik2 saja” jelas ini cuma alasan, kalo jelek…segera putusin mumpung punya alasan hehehe)

5. Wah motornya lagi dipinjem omku nih, lama deh kayanya…(telp lagi-(jgn ke hape) seperempat jam kemudian. Pokoknya jangan kasih dia kesempatan bener2 tidur)

6. Duh maaf sayang, aku lagi ada perlu nih sama temen-temen kantor (sebaiknya pastikan Anda segera tahu siapa “temen-temen” ato “temin” yang dia maksud)

7. Wah mobilnya lagi masuk bengkel nih! (nah nah.. kalo ini alasan klasik co kere, terserah Anda, mau diterusin apa engga…)

Wednesday, June 06, 2007

miskin ato dimiskinkan??

Saya tidak terlalu inget kapan terakhir kali maen ke Depok, tapi saya sempat liat satu poster besar yang iisinya akan ada pesta besar berbau Jepang. Code Dressnya adalah serba Harajuku (sekedar ceritanya saya baca disini), semua orang diharuskan memakai ato membawa atribut-atribut yang berbau Jepang. Iya! Memang luar biasa! Budaya di satu negara ternyata bisa begitu dibangga-banggakan di negara orang lain. Budaya Jepang mau ga mau udah bisa membius ribuan orang di suatu negara (ndonesa) sehingga “menjadi” seolah olah bangsa Jepang.

Kecintaan dan kekaguman terhadap sesuatu pengaruhnya emang luar biasa. Jepang saat ini ada dimana-mana. Jepang disana, disini, di tubuh Anda, di tubuh saya. Karena bahkan “hanya” sekedar atribut tubuh pun ternyata bisa bikin tergila gila. Pakaian atopun celana mungkin barang terdekat setelah panca indera dan udel saya, sekarang pun dah Jepang ato Amrik punya nyaris Cina. “Iya lo, saya seneng bener sama barang-barang yang serba luar negeri, keliatannya lebih keren en modern gitu loh!” bebas en sah aja, badan-badan gua ini! Dan emang ga akan ada yang mencibir, malah mungkin memuji.
kok bisa ya? Apakah kita emang ga punya satupun hasil budaya yang bisa dibanggakan? Apa kita emang ga punya budaya apa-apa? Kalopun ada, apakah emang budaya kita ini begitu lemahnya hingga tak terdeteksi dan ga pantas dibanggakan oleh kita-kita?
Jepang barangkali punya dasar budaya yang sangat kuat. James Clavell dengan buku SHOGUN nya bercerita, saat Jepang udah tau budaya mandi terutama kaum samurai, orang bule belum kenal. Orang Jepang sadar dan memandang bahwa mandi adalah nikmat yang diberikan dewa kepada mereka. Mandi adalah ritual untuk menjaga kebersihan agar mereka bisa bersatu dengan dewa (manunggaling kawula gusti). La bahkan orang bule pun cebok menggunakan tissue (ironisnya ini jadi standar hotel-hotel kita, kadang ga ada airnya). Sampe budaya/upacara minum teh pun di Jepang diperhatikan benar (cha-no-yu). Mulai dari mempersiapkan bubuk teh, pemilihan porselin untuk minum, api untuk memanaskan teh tersebut (arang tidak disebar rata tapi dibentuk seperti pyramid), dst. Mereka percaya untuk memperoleh citarasa tertentu harus melalui ritual tertentu.

Memang mereka punya budaya yang luar biasa. Tapi Indonesia sebenernya juga punya kompleksitas budaya yang ga kalah dengan Jepang. Kalo Jepang punya peso besar seperti katana atopun samurai, Ndonesa juga punya macem-macem peso dari berbage daerah, salah satunya yaitu peso berlekuk seksi, KERIS. Bukan sekedar sebuah senjata klenik tapi bagi saya keris adalah karya seni yang luar biasa. Sebuah hasil karya yang membutuhkan olah rasa, ketekunan, konsistensi, dan tentu saja teknologi tinggi. Awalnya adalah lempengan logam yang ditempa dengan pembakaran tinggi, tapi tidak sembarang tinggi karena dibutuhkan kondisi logam tertentu agar bisa dilipat-lipat. Kalo anak mesin bilang High Combustion. Kalo terlalu panas logam bisa leleh, kurang panas ga bisa dilipat. Konsep ini dijaman dulu adalah teknologi tinggi, logam harus dibakar dengan titik leleh tertentu, ditempa kemudian dilipat, ditempa lagi lalu dilipat lagi, beratus-ratus kali.

Tapi seperti biasa, yang terjadi kemudian adalah bahkan keris sendiri ga sepopuler laptop ato IPOD. Bukankah sebenernya dua hal itu sama? Output puncak dari peradaban adalah teknologi, dan kita udah punya itu sejak dulu. Borobudur adalah teknlogi tinggi yang saya sendiri susah membayangkan gimana cara membuatnya, menyusun kemudian menyatukan batu-batu itu, dst. Tapi saat ini bahkan saya ga kenal sama budaya sendiri. saya yang sekarang adalah orang Indonesia yang pemalu, yang selain miskin ekonominya juga miskin budayanya.

Ato di miskin-kan? Mungkinkah ada upaya terstruktur menjauhkan kita dari budaya kita sendiri? Agar kita malu dengan budaya kita sendiri? Agar kita lebih bangga kalo berbau british? Ato jepangish? Ato sembarang budaya yang saat ini masuk ga terbendung?

Seven things yang ada di otak konsipratifnya :
1. Semakin orang fanatik dengan budayanya sendiri maka tingkat resistensinya makin tinggi

2. Hal ini akan membuat bangsa lain sulit nanam pengaruhnya (politik, sosial, terspesialnya ekonomi) ke bangsa tersebut

3. Tentu saja ini ga akan dibiarkan terjadi untuk bangsa seperti Indonesia yang dilihat dari sudut manapun sangat strategis. Letak gepgrafis (jalur perdagangan strategis), orangnya buanyak (roma irama kayanya harus merevisi 180 jutanya jadi 250 jutaan sekarang), potensi alam yang melimpah ruah (tau ga sembarang2 indonesia ni punya, dari tusuk gigi sampe uranium), potensi budayanya dst dst… habis habisan deh pokoknya!

4. Dengan potensi itu tentu saja indonesia ga akan dibiarkan berkembang. Indonesia ga akan pernah dibiarkan kuat.

5. Mulai dari beasiswa untuk mendanai para intelektual yang dicekoki prinsip prinsip ekonomi berpihak pada capital bukan pada kepentingan orang banyak. Intinya biar negara-negara dunia ketiga tidak punya basis kuat, jadi “dibuat kesan” membutuhkan uang sebanyak-banyaknya dari pinjaman luarnegeri (wah kepanjangan, lebih jauhlagi baca deh economic hitman).

6. Pokoke gimana caranya Indonesia bisa hancur dengan kebodohan mereka sendiri gitu deh.

7. Yah ujung-ujunya selalu kepentingan capital, kepentingan ekonomi.