headerversi2

Wednesday, May 14, 2008

maaf...

ada perasaan yang tak harus diberi nama,
ketika ruang dada sesak bayangan...
dia yang kemarin ada disana,
lalu menjauh perlahan
melambai tangan...

ada perasaan yang tak harus diberi nama,
ketika pelupuk adalah patahan sungai,
dan gumpalan airmata terbendung
padahal di hulu hujan badai

dan mungkin semuanya harus kita biarkan tak terberi nama...

( i : ...maaf...)

Monday, May 12, 2008

warung dan mimpi pemberdayaan masyarakat

Dulu saya pernah bikin warung namanya Planet Minuman. Wuih…kereeeen!! hehe…Konsep pertamanya adalah jualan juice dengan buah dicampur-campur. Keinginan awal selalu bagus, muluk muluk malah kejauhan, hingga karena satu dan banyak hal kemudian berubah menjadi warung batagor. Saya sangat yakin hampir tidak ada yang cacat dengan rasa batagor buatan warung saya. Saya punya resep bagaimana membuat batagor istimewa, rasa ikan yang kental, garingnya kerasa di luar tapi ketika digigit akan ada rasa lemak yang pas bermain di lidah. Bukan omong kosong karena hingga sekarang masih banyak bekas pelanggan yang “tetap nunggu” warung saya ini buka lagi. Hanya delapan bulan warung itu bertahan, lokasi yang ga enak, salah manajemen, salah perkiraan, salah salah salah dst…weleh…kegagalan selalu banyak alasannya. Tapi sungguh, gagal yang kemaren malah bikin saya penasaran, saya masih pengin nyoba lagi. Sampe sekarang saya masih memelihara mimpi punya sebuah “warung”. Karena itulah blog ini dibuat, sekedar sebage salah satu alat untuk mengingatkan mimpi saya.


Dan entah gimana sebab dan musababnya, saya kemaren diketemukan lagi dengan bekas karyawan warung batagor saya. Saat ini dia kembali jualan siomay. Awalnya hanya ngobrol biasa nanya kabar ini itu, perkembangan jualan dst. Mimpi itu masih ada, keinginan untuk mengajak dia kembali jualan bareng juga masih ada, tapi untuk saat ini dengan beberapa pertimbangan, saya belum bisa merealisasikannya. Sampe akhirnya dia cerita bahwa sedang kehabisan modal dan sedang berusaha meminjam ke seseorang katakanlah rentenir. Padahal tidak butuh banyak, beberapa ratus ribu dan sedikit juta tapi pengembalian flat dan gede banget.


Sungguh tidak ada dalam rencana dan agenda saya sebelumnya bahwa saat itu saya akhirnya kepikiran ngasi modal kerja, pengembalian bagi hasil saja dan bahkan menyarankan nambah satu gerobak lagi. Ditambah lagi setelah itu ada pedagang bakso lain dan warung indomie yang pengin dimodalin juga :P (emang saya tambang duit apa ya…hehe). Sebenernya rada ngawur tawaran saya ini, ngasi modal darimana, wong uang di kantong sedang ga ada, tapi saya punya keyakinan bahwa banyak temen yang mau dengan tawaran seperti ini karena usaha kecil seperti inilah yang riil, usaha sudah jalan, hanya butuh sedikit modal dan insya Allah pengembaliannya juga riil (catatan : kalo ga dibawa lari :P). Saya bukan orang yang bersih, di lingkup kegiatan saya bersliweran barang-barang hasil riba (pinjaman lembaga keuangan, kredit ini itu dst dst), tapi saya hanya ingin cukuplah orang-orang seperti saya yang “kejebak” riba, dan usaha kecil seperti ini harusnya bebas dari rentenir dan riba yang terlalu keji.


Batagor ini komoditas tradisional yang masih bisa diulik dengan sentuhan sistem bagus dan kemasan modern. Toh saya sudah punya resep istimewanya. Rencana itu ada dan sekarang saya sedang berada di perjalanannya. Hmmm..menarik.


Catatan kaki :

Sebenernya ada satu saran, mungkin jauh lebih baik menjadi orang fokus di satu segmen bisnis, menekuninya habis-habisan, melototin siang malam, gila-gilaan sampe mentok. Eat, dream and sleep with that kata orang. “Kalo sudah berkecimpung di teknologi ya jangan lalu bikin warung makan, loe ga ada spesialisasi dan ga akan menjadi besar”, kata temen saya suatu saat. Tapi, saya masih ada keyakinan, dunia bisnis bukanlah dunia hitam putih harus gini harus gitu dan barangkali saya diciptakan di dunia memang bukan untuk menjadi seperti steve jobs ato bill gates yang punya visi jauh ke depan tentang teknologi sekaligus mampu merealisasikannya.

Karena mungkin saya memang punya peran sendiri di dunia ini. Entah sebuah dunia kecil ato dunia sebesar apa, dunia yang jadi tanggung jawab saya, bukan orang lain.

Friday, April 04, 2008

Stay Hungry. Stay Foolish.

Dapet dari milis, terjemahannya mungkin oleh mas Mohammad Andri Budiman (mandrib@gmail.com).

'You've got to find what you love,' Jobs says
http://news- service.stanford .edu/news/ 2005/june15/ jobs-061505. html
(http://news- service.stanford .edu/news/ 2005/june15/ jobs-061505. html)

Naskah pidato Steve Jobs, CEO Apple Computer dan Studio Animasi
Pixar, dalam acara pelepasan mahasiswa Stanford, 12 Juni 2005.


Nasehat Steve Jobs: "Kamu Harus Temukan Apa yang Kamu Sukai"

Saya diberi kehormatan untuk bersama kalian di hari pertama di salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah lulus kuliah. Bahkan sesungguhnya inilah saat terdekat saya terlibat dalam upacara wisuda. hari ini saya ingin berbagi tiga cerita dalam kehidupan saya. Hanya itu, tidak lebih. Hanya tiga cerita.


Cerita Pertama adalah mengenai rangkaian titik-titik.


Kisahnya dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah mahasiswi belia yang hamil karena kecelakaan" dan memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi. Dia bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga sarjana, maka saya pun diperjanjikan untuk dipungut anak semenjak lahir oleh seorang pengacara dan istrinya. Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka berubah pikiran karena ingin bayi perempuan. Maka orang tua saya sekarang, yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari seseorang: "kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut; Apakah Anda berminat? Mereka menjawab: "Tentu saja." Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak tamat SMA. Dia menolak menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian, setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi.


Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah. Namun, dengan naifnya saya memilih universitas yang hampir sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh tabungan orang tua saya- yang hanya pegawai rendahan habis untuk biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya tidak melihatmanfaatnya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya. Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang tua saya seumur hidup mereka. Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah, yakin bahwa itu yang terbaik. Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang pernah saya ambil.


Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil kelas wajib yang tidak saya minati dan mulai mengikuti perkuliahan yang saya sukai. Masa-masa itu tidak selalu menyenangkan. Saya tidak punya kamar kos sehingga menumpang tidur di lantai kamar teman-teman saya. Saya mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan. Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna. Saya menikmatinya. Dan banyak yang saya temui saat itu karena mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata kemudian sangat berharga. Saya beri Anda satu contoh: Reed College mungkin waktu itu adalah yang terbaik di AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru kampus, setiap poster, label, dan petunjuk ditulis tangan dengan sangat indahnya. Karena sudah DO, saya tidak harus mengikuti perkuliahan normal. Saya memutuskan mengikuti kelas kaligrafi guna mempelajarinya. Saya belajar jenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains. Sangat menakjubkan.


Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi bagi kehidupan saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendisain komputer Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat. Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik. Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentuk dan proporsinya. Dan karena Windows menjiplak Mac, maka tidak ada PC yang seperti itu. Andaikata saya tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah. Tentu saja, tidak mungkin merangkai cerita seperti itu sewaktu saya masih kuliah. Namun, sepuluh tahun kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang.


*Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke belakang*. Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi, takdir, jalan hidup, karma Anda, atau apapun istilah lainnya. Pendekatan ini efektif dan membuat banyak perbedaan dalam kehidupan saya.


Cerita Kedua Saya adalah mengenai Cinta dan Kehilangan.

Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz dan saya mengawali Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun. Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple
berkembang dari hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan. Kami baru meluncurkan produk terbaik kami -Macintosh- satu tahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30. Dan saya dipecat.


Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan?


Yah, itulah yang terjadi. Seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaanbersama saya. Dalam satu tahun pertama,semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi kami mengenai masa depan dan kami sulit disatukan. Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di usia 30 saya tertendang. Beritanya ada di mana-mana. Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya, tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan.


Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya merasa telah mengecewakan banyak wirausahawan generasi sebelumnya, saya gagal mengambil kesempatan. Saya bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce dan meminta maaf atas keterpurukan saya. Saya menjadi tokoh publik yang gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari Silicon Valley. Namun, sedikit demi sedikit semangat timbul kembali, saya masih menyukai pekerjaan saya. Apa yang terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah saya. Saya telah ditolak, namun saya tetap cinta.


Maka, saya putuskan untuk mulai lagi dari awal.


Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan baru saya sadari bahwa dipecat dari Apple adalah kejadian terbaik yang menimpa saya. Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh keleluasaan sebagai pemula, segala sesuatunya lebih tidak jelas. Hal itu mengantarkan saya pada periode paling kreatif dalam hidup saya.


Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernama NeXT, lalu Pixar, dan jatuh cinta dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi istri saya. Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang menciptakan film animasi komputer pertama, Toy Story, dan sekarang merupakan studio animasi paling sukses di dunia. Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan, Apple membeli NeXT, dan saya kembali lagi ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung bagi kebangkitan kembali Apple. Dan, Laurene dan saya memiliki keluarga yang luar biasa.


Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya tidak dipecat dari Apple. Obatnya memang pahit, namun sebagai pasien saya memerlukannya.


*Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda. Jangankehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaan maupun pasangan hidup Anda. *Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai. Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana halnya dengan
hubungan hebat lainnya, semakin lama- semakin mesra Anda dengannya. Jadi, teruslah mencari sampai ketemu. Jangan berhenti.


Cerita Ketiga Saya adalah mengenai Kematian

Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang kurang lebih berbunyi: "Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar." Ungkapan itu membekas dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri sendiri: "Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?" Bila jawabannya selalu "tidak" dalam beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya harus berubah.


Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar. Karena hampir segala sesuatu-semua harapan eksternal, kebanggaan, takut, malu atau gagal- tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian. Hanya yang hakiki yang tetap ada. Mengingat kematian adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu. Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.


Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap kanker. Saya menjalani scan pukul 7:30 pagi dan hasilnya jelas menunjukkan saya memiliki tumor pankreas. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas.
Para dokter mengatakan kepada saya bahwa hampir pasti jenisnya adalah yang tidak dapat diobati. Harapan hidup saya tidak lebih dari 3-6 bulan. Dokter menyarankan saya pulang ke rumah dan membereskan segala sesuatunya, yang merupakan sinyal dokter agar saya bersiap mati. Artinya, Anda harus menyampaikan kepada anak Anda dalam beberapa menit segala hal yang Anda rencanakan dalam sepuluh tahun mendatang. Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar mudah bagi keluarga Anda. Artinya, Anda harus mengucapkan selamat tinggal.


Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan diagnosis tersebut. Malam harinya, mereka memasukkan endoskopi ke tenggorokan, lalu ke perut dan lambung, memasukkan jarum ke pankreas saya dan mengambil beberapa sel tumor. Saya dibius, namun istri saya, yang ada di sana, mengatakan bahwa ketika melihat selnya di bawah mikroskop, para dokter menangis mengetahui bahwa jenisnya adalah kanker pankreas yang sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi. Saya dioperasi dan sehat sampai sekarang.


Itu adalah rekor terdekat saya dengan kematian dan berharap terus begitu hingga beberapa dekade lagi. Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang saya bisa katakan dengan yakin kepada Anda bahwa menurut konsep pikiran, kematian adalah hal yang berguna:


Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu untuk mencapainya. Namun, kematian pasti menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak. Dan, memang harus demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan. Kematian membuat hidup berputar. Dengannya maka yang tua menyingkir untuk digantikan yang muda. Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya, namun memang begitu.


Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain. Jangan terperangkap dengan dogma-yaitu hidup bersandar pada hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak mendengar kata hati Anda. Dan yangterpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan. Semua hal lainnya hanya nomor dua.


Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan hebat yang bernama "The Whole Earth Catalog", yang menjadi salah satu buku pintar generasi saya. Buku itu diciptakan oleh seorang bernama Stewart Brand yang tinggal tidak jauh dari sini di Menlo Park, dan dia membuatnya sedemikian menarik dengan sentuhan puitisnya. Waktu itu akhir 1960-an, sebelum era komputer dan desktop publishing, jadi semuanya dibuat dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid. Mungkin seperti Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum kelahiran Google: isinya padat dengan tips-tips ideal dan ungkapan-ungkapan hebat. Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi "The Whole Earth Catalog", dan ketika mencapai titik ajalnya, mereka membuat edisi terakhir. Saat itu pertengahan 1970-an dan saya masih seusia Anda. Di sampul belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan di pagi hari, jenis yang mungkin Anda lalui jika suka bertualang. Di bawahnya ada kata-kata: "*Stay Hungry. Stay Foolish.*" (Tetaplah Lapar. Selalu Merasa Bodoh).


Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi tanda tangan
mereka. Stay Hungry. Stay Foolish. Saya selalu mengharapkan diri saya begitu. Dan sekarang, karena Anda akan lulus untuk memulai kehidupan baru, saya harapkan Anda juga begitu.

Stay Hungry. Stay Foolish.
Terima kasih semuanya.

http://www.youtube. com/watch? v=D1R-jKKp3NA
<http://www.youtube. com/watch? v=D1R-jKKp3NA>

***


Thursday, April 03, 2008

krisis bisa membunuh atau menguatkan

Hampir sebulan saya tidak posting blog, dan memang otak bener-bener lagi ga konek buat nulis. Ada satu dua ide tulisan, tapi selalu tak beranjak dari paragraf pertama. Bahkan setelah dua kalimat pertama posting ini, otak saya langsung terbang kesana kemari, ga jelas mo nulis apa. Untuk kali ini saya ga maksain diri, tangan mau nulis apa terserah dan tidak terlalu saya pikirkan.


Masing-masing orang punya mekanisme penyelamatan untuk drinya sendiri. Sebenernaya (sekali lagi sebenernya), ketika seseorang kena krisis, dia selalu punya cara untuk menyelesaikan krisisnya tersebut. Saya jadi teringat saat SMU menjelang UMPTN, ada beberapa temen yang katakanlah tidak pintar, karena bahkan rangking hampir di peringkat laste atau dua sampe lima terbawah dari 40 siswa, tapi nekat aja daftar di sekolah teknologi yang (dulu-konon) terbaik di Indonesia. Mungkin saya termasuk yang itu juga hehehe.


Adalah seorang teman yang menanamkan sense of crisis itu di jidat saya. Provokasinya harus saya akui luamayan manjur. Saya yang tadinya lebih seneng ngeband, nongkrong daripada belajar, bahkan tidak kepikiran banyak sama UMPTN, kemudian jadi kepikiran lebih serius belajar (walo sebenernya rada telat dan sifatnya instan). Kami yang tadinya klinang klinong ga karuan mulai aktif latihan soal dan yang paling penting mulai rada optimis, “berani berharap” dengan makhluk bernama UMPTN tersebut. Mungkin hanya karena keberuntungan dan doa (siapa saja) yang membuat beberapa dari kami akhirnya bisa lolos.


Bisa jadi sense of crisis dalam beberapa hal memang bisa membuat pintar. Kesulitan (dengan beberapa catatan) memang harus diciptakan. Apakah kondisi sekarang ini (yang membuat otak saya jadi ga konek) mirip dengan saat UMPTN dulu? Saya sungguh ga tau, karena kejadian UMPTN itu tiba-tiba saja terlintas dalam otak ketika saya dihadapkan pada kondisi yang mulai memacu adrenalin. Apakah ketika adrenalin dipacu, otak menjadi lebih cepat bekerja dan manusia jadi bisa mengeluarkan beberapa kemampuan terbaiknya? Mungkin…


Krisis selalu punya dua sisi, membunuh atau menguatkan. Krisis, masalah, halangan, hambatan, dst itu dapat dipastikan 100% akan jadi bagian dalam hidup. Ga ada persoalan berarti ga ada kehidupan, seperti langit dan bumi. Masalah itu ibarat sebuah ujian tanpa pelantikan. Gak ada inagurasi di (dunia) sini, gak ada sertifikat kelulusan setelah menyelesaikan satu persoalan, bahkan mungkin gak perlu tepuk tangan tanda kemenangan (karena memang belum pasti menang). Bahkan menjadi palsu dan sia-sia sebuah perayaan selesainya sebuah persoalan tanpa ada yang penambahan kualitas dalam kehidupan.

Wednesday, March 05, 2008

Kulinaria (II) - Warung Sate yang CEO nya sarungan

Ada beberapa kebiasaan saya kalo datang ke warung makan yang rame,

  1. sambil menunggu makanannya datang, biasanya saya lirik kanan lirik kiri ngelihat situasi apa sih sebenernya yang bikin warung tersebut rame.
  2. tentu saja apa sih keistimewaan makanannya, rasanya, seberapa cepat pelayanannya
  3. biasanya ngitung-ngitung (kira2 aja) omzet warung tersebut. Memang kurang kerjaan, tapi ga tau deh…ini otomatis!:P
  4. saya biasanya nanya siapa pemiliknya dan mencari-cari adakah sosok pemiliknya di situ. Bagaimana saya menebak pemilik warung? Inilah yang bagi saya menarik, karena pemilik bisnis yang sukses akan punya aura. Melihat dan merasakan aura sukses bagi saya sangat menyenangkan. Beberapa CEO warung sukses biasanya orang yang punya vitalitas, antusiasme dan semangat yang sangat tinggi. Saya beberapa kali mendapati banyak dari mereka ini yang “hanya” lulusan SMU (kadang malah SDTidak Tamat), tapi mereka sangat yakin dengan diri mereka sendiri. Satu hal lagi, biasanya CEO warung yang sukses, orangnya….lucu!

ya

Warung ini ruameee poll, mbanyu mili istilah jawanya! WARUNG SATE SIDAREJA, jalan Sunda dekat rel kereta api. Saya ga tau persis berapa lama warung ini sudah berdiri, tapi ketika dulu pertama kali saya dateng (tahun 2004?), walaupun sudah lumayan rame, tapi belum sebesar dan sebersih ini. Sepertinya memang baru saja direnovasi. Dulu masih satu lantai, sekarang sudah dua lantai, dulu dindingnya terlihat suram sekarang tampak semakin cerah, Dulu pegawainya hanya sekitar 10 orang, kemaren saya nanya sudah ada sekitar 40 orang. Wow..mantaph!

Ada sekitar 30-35 meja di lantai satu, di lantai dua ga tau ada berapa, mungkin 20 an meja. Inilah setelan warung yang saya suka, sedikit terbuka, tapi tetap “berjarak” dengan dunia luar. Kalopun hanya sedikit manusia yang ada disitu, mungkin kita akan tetap merasakan aura rame. Suara kompor dan air yang menggelegak, pelayan yang (sok sibuk) mondar-mandir mencatat pesanan, kalo perlu ditambah suara kipas angin adalah kesan dan pesan bahwa Anda tidak sendirian di warung ini. Catatan pertama adalah warung yang rame akan menjadi semakin rame.

Kami bertiga memesan tongseng kambing tiga porsi dan sate polos satu setengah porsi. Berbeda dengan dulu, penyajian sate kali ini telah mengalami modifikasi yaitu sate diletakkan di atas hot plate. Saya beroleh momen, di atas hotplate yang berisi sate kambing ngepul itu saya peras jeruk sambel. Cesss…air perasan membuat bau harum langsung meruah menggoda lidah dan perut kami.

Satu, dua, Mulai!

Sate kambing lah yang pertama kali menyentuh lidah. Hmmm…rasa satenya tetap mantaff (kata orang sunda mah), hanya empuknya kambing yang berubah, rada bikin pegel ngunyahnya. Saya rasakan lebih empuk yang dulu. Sulitnya warung laris adalah jaga kualitas bahan baku. Ini hampir sama dengan kasus temen saya, buka warung bebek (rame juga) yang beberapa kali juga repot cari bahan baku bagus. Tongsengnya saya rasa lebih oke, kental, mblenek mak sekk…Satu persatu ludes dan cukup bikin puyeng (jangan2 kecenderungan "tinggi" nih..:D). Kalo yang lincah ngoceh makanan mbak mendol satu ini deh…


Selesai makan, hujan masih gede banget. Memaksa menerobos hujan saya pikir bukan ide yang oke, karena itu diputuskan menunggu. Sambil menunggu hujan reda, kami duduk-duduk di dekat dapur bakarnya. Disitu ada pencatatan pesanan. Iseng-iseng saya nanya ini itu. Dari hasil tanya-tanya itu :


  1. Dalam satu hari (peak time sabtu minggu), ada sekitar 200 meja pesanan. Katakanlah satu meja memesan rata-rata 4 porsi. Asumsi satu porsi orang pesan makanan dan minuman 25 ribu. Omzet sebulan (sabtu minggu) sekitar 160 juta.
  2. Untuk hari lain dalam sebulan (senen sampe jumat), asumsi omzet harian setengah dari jumlah di atas. Berarti sebulan omzetnya adalah 220 juta.
  3. Total omzet sebulan 380 juta.
  4. Overhead pegawai 40 orang, ambil rata-rata gaji 1 juta (level atas sampe bawah), maka gaji total sebulan 40 juta.
  5. Bahan baku. 5 kuintal daging, ayam, sapi, dan lain-lain sekitar 20 juta.
  6. Rumah sendiri (tidak sewa),2
  7. Lain-lain (maintenance gedung, pembersih dll) 5-7 juta.
  8. Pendapatan sebulan mungkin sekitar 380 juta dikurangi 70 juta sebulan!! Berapa hayoooo! Wakss!

Ada overhead lagi yang belum??

Dan Mas Gino sang CEO, cukup sarungan buat inspeksi. Mungkin sudah ngaspal jalan di Sidareja sana, bikin masjid, ato barangkali nyalonin diri buat 2009?? hehe

Monday, March 03, 2008

kulinaria (I)

Ada dua jenis warung yang saya cari dari jalan-jalan kulinaria. Satu, mencari warung yang sangat rame pengunjungnya, dua mencari warung yang kelihatannya enak tapi sepi banget. Dua-duanya dirangsang oleh rasa penasaran. Katakanlah ada dua warung menjual barang yang sama, harga sama, rasa tidak kalah jauh, tapi dalam kenyataan nasibnya bisa sangat berbeda. Inilah menariknya dunia kuliner, lebih banyak ketakterdugaan, keberuntungan, dan seringkali justru anti marketing.


Saya pernah bikin warung jus yang kemudian karena satu dua hal saya ubah jadi warung batagor-bakso. Pernah sepi, pernah (sedikit) rame dan juga sekalian bangkrutnya :D. Untuk kasus warung itu, saya tahu penyebab ketiga-tiganya. Kasus kuliner bagi saya menarik. Warung bagi saya adalah model sebuah bisnis yang lengkap. Kita berbelanja bahan mentah dan bahan baku, mengolahnya jadi masakan siap saji, menjual, memasarkan, mengatur cashflow, dan kalo warung bertambah gede-banyak cabangnya maka akan bicara masalah distribusi. Mulai dari proses produksi (urusan orang teknik), keuangan, manajemen, pemasaran (orang ekonomi) sampe perdukunan pun kadang ditawarkan. Satu hal kelebihan warung adalah bisa dilakukan dengan modal sekecil2nya dan sekaligus bisa juga sebesar-besarnya.


Mengapa warung yang sangat sepi menarik untuk dikunjungi?


Semua pasti ada formulanya, saya bisa belajar kesukesan tidak hanya dari warung rame tapi juga warung yang sepi. Seperti halnya warung Bakso Kota Cak Man yang ada di Jalan Dipati Ukur Bandung. Bagi orang Malang mungkin akan segera mengenalinya karena memang asal muasal warung ini dari sana, tapi bagi orang Bandung rupanya warung ini musti kenalan lebih jauh lagi deh. Letak Strategis, di jalan utama, diapit dua universitas swasta yang rame ternyata tak membuat warung ini banyak penggemarnya. Karena itulah minggu kemaren saya mencoba masuk kesana.


Tempat parkir luas, dan walo berada di antara dua universitas, tapi bukan berada di zona macet, sehingga masih nyaman untuk berparkir ria. Nah ini dia! Saya menemukan penyebab pertama. Dari luar warung ini terlihat sangat sepi. Saya ingin makan di tempat makan, bukan di kuburan. Walo saya tidak ingin diganggu pengunjung lain, tapi saya ingin ada banyak orang untuk lirik-lirikan. Ini adalah semi lingkaran setan, warung rame akan menjadi semakin rame, warung sepi akan menjadi semakin sepi.


Setelah itu, pilih dan ambil sendiri baksomu! Hmmm, bakso goreng, siomay basah, siomay kering, rolade tahu dengan telur puyuh di tengahnya, bakso urat dua biji, dan hey…ada siomay dibungkus kol! Cukup, itu porsi saya. Taburkan seledri dan bawang goreng di atasnya. Setelah pelayan menuangkah kuah khas bakso malang, yang tidak terlalu kental ato nggajih istilahnya, wuahh..harum bawang langsung semerbak, melirik ke temen yang tampak menikmati aroma itu sambil senyam-senyum.


Saya menuju tempat duduk di pojok biar bisa melihat situasi. Menyeruput kuah terlebih dahulu, lalu sok nge- Bondan Winarno…hehe. Rasa yang pas (enak tapi ga banget-banget lah) dan harga tidak terlalu tinggi sebenernya. Tapi sekali lagi mengapa sepi? Saya melongok kiri kanan depan belakang. Ah ini! Tadinya saya bingung apa ya yang bikin saya ga nyaman, kemudian saya ketemu dinding itu! Dinding inilah yang jadi pemisah suasana di dalam dengan suasana di luar warung. Untuk sebuah warung bakso, sekali lagi yang konsepnya warung, hal ini diartikan sudah mengkhianati khittahnya. Bakso kalo saya pikir adalah makanan sekunder yang dimakan rame-rame, tidak serius, santai, hahahihi sesekali ngerumpi. Warung bakso bukanlah rumah bordil, dia harus “terbuka”, tidak jaim, mau bergaul dengan dunia luar. Dinding itu adalah sebuah kesalahan cukup fatal!


Seperti yang saya alami, satu kesalahan akan merembet ke kesalahan lain. Jus yang belum diberi gula, pelayan yang tak berseragam dan seterusnya hanyalah efek ikutan dari kesalahan pertama, yaitu warung tidak rame! Dua jam saya nongkrong (jam makan siang), pengunjung hanya bertambah sekitar 10 orang. Katakanlah masing2 membelanjakan 15 ribu, saya berasumsi kasar omzet sehari 900 ribu. Wah memble nih untuk tempat sebagus dan segede itu. Kalo tidak berubah ya tunggulah kejadiannya. Nah ini petualangan ke warung yang tidak rame, besok kita akan ke warung yang sangat rame! Sok tahu bener ya…namanya juga pengamat hehehe.


Hari minggu kemaren ini, saya ke warung sate Sidareja yang ruameee poll! Saya sempat ke dapurnya dan nanya ini itu, sempat ngitung-ngitung…Hmmm, menarik untuk dibahas, setelah posting ini deh.

Friday, February 29, 2008

mending jualan IT ato beras??

Yang saya senang dari dunia bisnis adalah saya “harus (mungkin lebih enak mau ga mau)” selalu kenalan dengan orang baru! Kita musti terus mencari jejaring dan lebih daripada itu adalah memperbanyak silaturahmi. Kemaren dapet ngobrol menarik di ym sama seorang pengusaha yang pernah nguplek-nguplek dunia IT, tapi sekarang malah fokus di fashion. Rupanya memang bertambah banyak “barisan sakit hati” terhadap dunia bisnis IT. Setelah kemaren-kemaren dapet info dari temen kalo pemilik salah satu bisnis IT lumayan terkenal di Bandung memutuskan jualan BERAS, saya pikir fenomena ini sangat menarik..:). Kenapa bisa gitu ya?

ini obrolan saya sama tukang bisnis fashion tersebut,

saya: "salam kenal mas"

rosihan: "salam Pak .. apakabar ?"

saya: alhamdulillah, saya dapet ym bapak dari web

saya: sepertinya kita sama kuliahnya mas J

rosihan: oh iya ...angkatan ?

saya: angkatan 97, tapi bisnisnya bukan sesuai jurusan hehe

rosihan :D ..siip

rosihan: sama dong ..malu klo bisnis di dunia itu, IPnya 2 koma alhamdulillah

saya: hehehe…:D

rosihan: sekarang bisnis apa Pak ?

saya: di multimedia, www.lokilaki.com

saya: eh saya panggil apa ya enaknya, mas rosihan?

rosihan: bentar ..saya lgi browse ..boleh panggil apa aja

rosihan: keren disainnya

rosihan: mas ... sudah lama di bisnis ini ?

saya: baru 2 tahunan mas

rosihan: sudah banyak kliennya yaa

saya: alhamdulillah mas,bisa jalan :)

saya: kalo mas rosi sekarang bisnis apa aja?

rosihan: saya lagi fokus di fashion

rosihan: saya di IT sudah 10 taun, www.neslink.com

rosihan: sekarang sedang saya tinggalkan

rosihan: sekarang lagi fokus ngembangin www.saqina.com

rosihan: ngembangin jaringan toko ritel busana muslim

saya: baju dan apparel muslim ya mas?

rosihan: iya

saya: kalo saya sekarang masih proyek mas,tapi mulai dikit2 r&d bikin produk sendiri

saya: btw kok bisa ke baju muslim awalnya gimana? IT dah ga menarik ya? hehe

rosihan: IT capek mas ...,pemahaman soal bisnis-ku sudah berubah ...

rosihan: saya sempat kerja 5 tahun, di Astra 3 taun, di Detikcom 2 taun, tahun 2002 bikin konsultan IT sendiri ..modal gaji terakhir, kemudian sejak itu ssampai 2006 hidupku dari proyek ke proyek mas. Dari 1 karyawan sampai 15 karyawan ...,sekarang sudah tinggal 2 karyawan aja ... nov 2007 kemarin saya lepaskan karyawan IT saya ...

rosihan :D ...

saya: wah menarik nih mas, rata2 orang yang mroyek IT pasti gini…hehe

rosihan: iya mas ...segera keluar dari dunia proyek

saya: saya juga ngerasa gitu, bisnis proyek ke proyek ga bagus

rosihan: ada bagusnya fokus di produk & brand

saya: iya betul mas

rosihan: klo di multimedia, medingan jualan konten yang dikemas dengan multimedia yang bagus ..lalu dijual sebagai produk dengan brand

rosihan: nanti lama-2 brandnya makin kuat. Klo brandnya sudah kuat, orang akan beli apa aja yang diproduksi brand itu

saya: iya, rencananya seperti itu mas

saya: makanya sebelum kehilangan momentum kita mulai r&d produk

rosihan: iya siip ...satu langkah awal yang tepat

rosihan: saya aja sekarang agak menyesal, kehilangan waktu 5 tahun mas

rosihan: itu ongkos belajar yang mahal ...

triyadi_yuwono: maksudnya gimana?

rosihan: ya ..saya dulu belum tahu, kalau dunia jasa IT pembatasnya banyak ...saya hanya tergiur uang besar jangka pendek dari proyek-proyek

rosihan: untuk penghasilan ok, tapi masa depan tidak ada ...

rosihan: satu hal paling penting di IT, khususnya software development adalah, ilmu yang kita pelajari 5 tahun lalu tidak bisa kita pakai lagi sekarang, otomatis sdm-nya begitu juga

saya: wah betul mas, emang mending gerak di konten nya ya, bukan di teknologinya

rosihan: iya ...

rosihan: sekarang saya lagi terus mencari bisnis yang fundamental ...bisnis yang bisa kita lipatgandakan tak terbatas ...

saya: wah asik nih mas, saya mbok dikasi ilmunya

rosihan: ya kapan-2 ngobrol aja mas

rosihan: faktor pembatasnya kecil... bisa terjadi ledakan omset

saya: hmmm bener juga ya

yah…walopun bukan hal baru tapi sebuah obrolan yang singkat tapi mencerahkan. Dunia bisnis proyek ke proyek memang bisa menghidupi tapi sampe gimanapun tidak akan bisa membesarkan. Proyek bisa menghidupi, tapi produk lah yang akan membesarkan. Mungkin…hehe. Ato mungkin saya suatu saat akan kembali jualan batagor? seperti dulu?? ah ga tau deh apa yang akan terjadi nanti...